Dari: Kompas 15/08/2003
Judul Asli: Anak Petani Itu Memenangi LPIR
KETIKA Ketua Dewan Juri Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) Prof Dr Mien Ahmad Rifai menyebut namanya sebagai pemenang pertama, hadirin harus menunggu sekitar enam menit untuk bisa melihat wajah si pemilik nama.
Lama ditunggu, gadis itu tak segera berdiri, seperti empat pemenang sebelumnya. Ternyata, begitu namanya disebut, Ika Rahmatina langsung menundukkan kepalanya ke pangkuan hingga bermenit-menit. Terang saja hadirin tak bisa melihat Ika yang malam itu duduk di kursi barisan belakang.
"Tadi saya menangis. Tidak menyangka menang. Senang sekali rasanya," tutur Ika.
Gadis dengan tinggi badan 155 sentimeter tersebut membutuhkan waktu beberapa menit untuk menenangkan diri dan maju ke hadapan hadirin. Ketika ia sudah siap tampil, sejumlah kawan sesama finalis pun kemudian menyalaminya. Bahkan, ahli komunikasi Prof Dr Astrid S Susanto dan ekonom Dra Endang Sih Prapti MA memeluk tubuhnya.
Kepolosan dan kemampuan Ika mampu merebut hati para juri yang berasal dari bidang kesehatan, ekonomi, fisika, bahasa, biologi, sejarah, dan komunikasi. Ia dengan lancar menguraikan hasil penelitiannya. "Saya agak bingung karena juri tertawa mendengar jawaban saya. Apa karena saya lucu atau jawabannya salah. Ternyata saya menang," tuturnya.
Tentu saja uraian Ika terdengar lucu. Betapa tidak, gadis itu baru berusia 15 tahun. Sehari-hari hidup di Desa Kenep, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Namun, saat berbicara soal alat kontrasepsi alternatif yang menjadi tema penelitiannya, ia terlihat begitu lancar menjelaskannya. Padahal, di sisi lain, sifat kekanakannya masih terlihat kental. Saat ia tengah bersemangat menjelaskan hasil temuannya, tiba-tiba ia berhenti lalu keluar ucapan spontan dari bibirnya. "Aduh, saya capek ngomong terus."
RASA ingin tahu yang cukup besar telah membawa kemenangan bagi Ika, anak keempat dari lima bersaudara keluarga petani dari desa sekitar 25 kilometer dari kota Bojonegoro itu. Di sana, kebanyakan anak gadis mengikuti pendidikan di pesantren, dan ketika pulang kampung biasanya mereka menikah.
Dari pergaulan dengan wanita tetangganya, Ika, yang saat itu meneliti biji tanaman jarak (Ricinus communis L) masih duduk di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 2 Balen. Ia mendengar cerita, tetangganya yang sudah menikah minum air biji jarak untuk menunda kehamilan.
"Saya penasaran. Mereka sendiri tidak tahu mengapa begitu. Pokoknya, ajaran itu katanya didapat waktu di pondok (pesantren-Red)," tutur Ika yang baru pertama kali bertanding di tingkat nasional. Apa yang terjadi atas tetangganya ia bawa ke kelompok ilmiah remaja (KIR) di sekolahnya. Ternyata pada beberapa buku diperoleh keterangan bahwa biji jarak memang mengandung zat ricin yang dapat mempengaruhi sintesa protein dan ADN.
Maka, penelitian dilakukannya dua tahun lalu, selama dua bulan dua minggu. Biji jarak yang banyak di desanya ia kupas, kemudian ditumbuk dan diambil sarinya serta dicampur air. Sari biji jarak ini kemudian diujicobakan pada mencit.
Kelompok pertama sebagai kontrol tidak diberi perlakuan. Kelompok kedua diberi 0,5 gram biji jarak halus selama empat hari, kelompok ketiga diberi 0,1 gram juga selama empat hari.
Hasilnya, mencit yang mendapat 0,5 gram serbuk jarak masa kehamilannya mundur enam hari. Saat melahirkan pun jumlah anaknya berkurang jadi rata-rata tujuh ekor. Pada mencit tanpa perlakuan masa kehamilannya rata-rata 21 hari dengan jumlah anak rata-rata 10 ekor per kelahiran.
Pada kelompok ketiga dengan 0,1 gram serbuk jarak masa kehamilannya mundur 17 hari dari masa hamil normal. Anak yang dilahirkan rata-rata hanya lima ekor.
"Jadi, mengapa tetangga saya tidak segera hamil? Itu karena ia minum air biji jarak yang mengandung ricin," katanya menjelaskan.
Akan tetapi, Ika belum tahu ricin mengandung zat apa. Rochim, mantan guru pembimbingnya saat ia meneliti, menyatakan bahwa sarana laboratorium di sekolahnya masih terbatas. Penelitian lebih lanjut harus dilakukan di laboratorium yang lebih lengkap.
Sebagai pemenang pertama, Ika bersama pemenang kedua, Ekasari Maulidia Rahma (15) dari SLTPN 1 Malang dan pemenang ketiga, Keke Viernia (17) dari SMU Negeri Sungailiat Kabupaten Bangka, Bangka Belitung, selain mendapat hadiah uang, juga mendapat tiket gratis masuk Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Mau masuk fakultas apa? "Belum tahu, nanti saja kalau sudah mau lulus SMA," kata Ika yang kini belajar di SMU Negeri 1 Sumberejo, Balen, Bojonegoro. Bila nanti ia menjadi mahasiswa, maka dialah anak pertama dalam keluarganya yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.
PENELITIAN peserta LPIR, menurut juri sangat membanggakan. Apalagi sebagian dari 30 finalis (disaring dari 349 peserta dari 22 provinsi dan Sekolah Indonesia di Jeddah) merupakan peneliti yang masih duduk di SLTP. "Coba lihat, sebagian besar finalis justru datang dari kabupaten atau kota. Tak lagi didominasi peserta dari kota provinsi," ujar Astrid S Susanto.
Menurut Astrid, kemenangan siswa SLTP merupakan tanda dari daerah akan muncul ilmuwan muda potensial yang masih hirau pada lingkungannya.
Ia menunjuk karya yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Eka dari Malang membuat saklar otomatis yang menjadi alat kebutuhan masyarakat saat ini. Umul Wahyuni Jamilah Darojat, siswa Madrasah Aliyah 3 Kediri, Jawa Timur, membuat ampas tebu dari pabrik gula menjadi briket yang ekonomis. Shaum Shiyan, satu-satunya lelaki yang jadi pemenang kali ini (siswa SMUN 6 Yogyakarta) menjadikan tempe empuk bak daging.
Anak-anak itu sudah menunjukkan mampu menemukan sesuatu yang berguna. Karena itu, jangan sampai keberhasilan itu berhenti seperti tahun-tahun lalu, ketika para pemenang LPIR dibiarkan begitu saja. Astrid berharap, Direktorat Pendidikan Menengah Umum Departemen Pendidikan Nasional bersedia menghubungkan para peneliti dengan industri yang bersedia memakai temuan mereka. Tidak ada salahnya pula kalau karya mereka diupayakan mendapat hak paten. Semoga dengan cara itu gairah meneliti generasi muda bangsa ini lebih terpacu. (SOELASTRI SOEKIRNO)