Showing posts with label ANAK PETANI JAWA TIMUR. Show all posts
Showing posts with label ANAK PETANI JAWA TIMUR. Show all posts

Tuesday, 15 July 2008

Fathor Rahman: Anak Petani Kuliah Modal Menulis


Dari Tabloid Info 15/07/2008
Judul Asli: Anak Petani Mnyelesaikan Kuliah Dengan Menulis

“Oonk”. Demikian teman-temanya memanggil pria ganteng putera dari pasangan Bapak Jefri dan Maria ini. Sikap dan gaya hidupnya yang sederhana membuat orang-orang di sekitamya betah bergaul dengannya. Tidak hanya itu, dia juga rendah hati dan bahkan pemalu. Namun demi kian, jangan tanyakan mengenai prestasi-prestasinya mengenai kepenulisan. Cukup banyak prestasi yang telah dia raih dari upayanya dalam karirnya.

Fathor Rahman Jm dilahirkan di Jem ber, 05 Juni 1984. Pendidikan formal pertama ditempuh di SDN Pace I, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember (lulus tahun 1996) lalu melanjutkan ke MTs Muqaddimatul Akhlak di desa yang sama. Dari MTs di de sa Pace itu, dia meneruskan pendidikan ke lembaga pendidikan pesantren Al-Falah, Karangharjo, Silo, Jember. Kemudian melanjutkan pendidikan tingginya di PP Annuqayah dengan menjadi salah satu mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Keislaman Annuqayah (STIKA) Guluk-Guluk, Sume nep.

Meskipun dilahirkan di Jember, dia mengaku lebih enjoy dan suka tinggal di Madura, khususnya di Sumenep. Karakter bawaannya lebih cocok dengan budaya Madura. Ini tidak mengherankan sebab, kakek dan neneknya memang asli Madura, dan sama-sama eksodus ke Jember. Mereka ketemu di Jember, sepakat untuk menikah, lalu beranak-pinak di sana.

Menurutnya, dalam dunia tulis menulis, teman-teman dari Madura memang lebih bersemangat dan bersemarak. Pengala mannya dalam dunia baca-tulis memang telah dirambah Fathor mulai masih siswa. Tulisannya yang berjudul “Mengembalikan Hak-Hak Perempuan” terpilih sebagai ju ara 11 dalam lomba karya tulis ilmiah di PP Al-Falah. Hal itu menjadi secercah sinar yang menerangi bahwa bakatnya adalah menulis. Di pesantren al-Falah, dia juga berpengalaman menjadi kru majalah Lisan. Di Annuqayah berpengalaman men jadi pimred majalah Safa, majalah yang diterbitkan organisasi santri Luar Madura. Saat ini tulisan-tulisannya telah tersebar di berbagai macam media massa, baik yang lokal maupun nasional. Tulisannya di media lokal sudah tidak terhitung seperti di Fajar, Infokom Sumenep, Hijrah, Sa fa, Lisan, Iqra’, dan lain-lain.

Tulisannya di media nasional antara lain; Mendongkrak Profesionalitas Polisi (Jawa Pos, 9 Mei 2007), Mengembalikan Hak-Hak ODHA (Jawa Pos, 3 Juni 2007), Hijrah ke Lembaga Pendidikan Keterampilan (Jawa Pos, 18 Juli 2007), Ketika Politik Menguat, Pembaharuan Pemikiran Melemah (Jawa Pos, 18 September 2007), PKB dan Komitmen Kembali ke Khitah (Kompas Jatim, 11 Januari 2008), Membangun Sentra Ekonomi Mikro di Madura (Kompas Jatim, 17 Januari 2008), Nabi dan Kejayaan Islam (Duta Masyarakat, 15 April 2005), Ketimpangan Emansipasi Wanita di Indonesia (Duta Masyarakat, 20 April 2007), Pengembaraan Paradigma Teroris (Suara Karya, 19 April 2007), dan masih banyak lagi artikel yang lain dan juga yang berupa ulasan buku.

Tidak hanya itu, saat ini, tulisannya yang betajuk “NU dan Politik Kebangsaan di Indonesia; Revitalisasi Gerakan Politik Kebangsaan NU Untuk Pemberdayaan Bangsa”, terpilih sebagai salah satu juara dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah, bertema “Sumbangan NU dalam Membangun Pera daban di Indonesia”, yang diadakan oleh Pengurus Wilayah NU Jawa Timur.

Kegiatan sehari-hari Fathor saat ini, selain menulis artikel ke berbagai media massa, dia juga aktif dalam lembaga pemberdayaan penelitian “Lingkar Institute”. Saat ini, dia tengah sibuk meneliti mengenai Kiai dan Politik.

Tak hanya itu, dia juga menulis buku. Salah satu buku yang telah ditulisnya adalah Rahasia Politik Kiai Ramdlan (Bupati Sumenep), yang dijadwalkan terbit pada bulan Agustus 2008 mendatang.

Mengikuti perjalanan jejak langkah Fathor, membuat diri terbangun dari lamunan. Dia seorang anak petani di kampung, dengan seperangkat kesederhanaan , ternyata mampu mengantarkan dirinya pada prestasi yang membanggakan.

Ketika ditanya mengenai kesuksesan nya, dia hanya menjawab: “Ah. Itu tidak seberapa. Apa yang saya dapat itu pada awalnya sebenarnya berangkat dari keka caubalauan perekonomian keluarga saya. Karena itu saya berpikir, bagaimana caranya agar saya dapat berkuliah sambil bekerja. Dan pada akhirnya saya rasa, menulis adalah pekerjaan yang dapat menunjang kuliah saya. Tidak hanya menunjang dari segi intelektual, melain kan juga segi finansial. Dorongan dan jasa dari teman-teman juga sangat besar di situ. Makanya, ke depan, saya akan terus berupaya untuk meningkatkan prestasi saya,” katanya. Tersirat pancaran kesuksesan, betapa Fathor masih akan meraih ke suksesan lagi di masa yang akan datang.

Selain menulis, pria ganteng ini juga aktif di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Menghargai dan memanfaat kan waktu sebaik-baiknya akan menjadi bagian dari upaya menata masa depan menjadi lebih bernilai dan berharga.

Di ujung perbincangan, Fathor menyisipkan pesan, “Menulis produktif tidak hanya sekedar bakat, tapi juga membutuhkan keseriusan dan ketelatenan. Bukan hanya dalam hal menulis, dalam hal yang lain pun juga begitu.”
Oleh Imron Rosyidi Jm

Friday, 23 March 2007

Dwi Susanto: Kisah Anak Petani Lulus Cumlaude, Lulus Kuliah Berkat Ibu Angkat Dari Amerika

Dari Surya Online
Friday, 23 March 2007 Surabaya

Nasib pasti bisa diubah. Ini juga yang diyakini Dwi Susanto, 23, anak petani asal Ponorogo ini tak menyangka perkenalannya dengan orang Amerika akhirnya bisa mengantarkannya merengkuh ijazah D3 Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS. Apalagi dengan prestasi yang di atas rata-rata.

Wajah Dwi Susanto, Jumat (23/3) terlihat sangat ceria. Bibirnya terus komat-kamit. Seraya memejamkan mata, dia menengadahkan tangan menyusap wajahnya. Sejurus kemudian, dengan spontan bibirnya mengucap kalimat, ”Alhamdulillah ... terimakasih Mimi,”.

Seakan tak puas hanya sekali mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan YME, Dwi (demikian dia biasa disapa, Red) mengulang-ulang kalimat itu sebelum mengakhirinya dengan sujud syukur.
Kegembiraan tak terkira pemuda kelahiran Ponorogo, 3 Agustus 1983 tersebut beralasan.

ia tak menyangka perkenalannya dengan Mimi Anzel, warga negara Amerika Serikat yang dikenalnya di Jogjakarta, 2002 lalu telah mengantarkannya merengkuh status sarjana. Meski hanya D3. “Jangankan lulus D3, wong sebelumnya bisa lulus SMK saja sudah alhamdulillah,” ujarnya.
Ceritanya, tahun 2002, sebelum lulus dari SMK Negeri I Jenangan Ponorogo Jurusan Bangunan Gedung, ia yang ikut kursus bahasa Inggris di sekolahnya mengikuti outing program di Jogyakarta. Di Kota Gudeg inilah Dwi berkenalan dengan seorang turis dari Amerika bernama Mimi Anzel. Setelah perkenalan itu, Dwi dan Mimi terus intensif berhubungan lewat email.

Karena berasal dari keluarga kurang mampu, Dwi berharap setelah lulus SMK bisa langsung bekerja. Ternyata keinginannya terkabul, dia akhirnya diterima untuk mengajar di sebuah madrasah yang ada di kampungnya.

Sambil menunggu pekerjaan yang mapan, Dwi memutuskan melanjutkan kuliah ke Community College D1 jurusan Teknologi Informasi di Ponorogo - program kerja sama Pemkab Ponorogo dengan Direktorat Pendidikan Menengah dan Kejuruan Depdiknas. “Program ini cocok bagi mereka yang kurang mampu tapi ingin kuliah. Selain biayanya murah, tempatnya juga dekat rumah dan bisa disambi kerja,” tukas Dwi.

Setelah menamatkan program CC, Dwi mendapat kesempatan melanjutkan kuliah di Program D3 PENS-ITS setelah coba-coba mengikuti seleksi. Setelah dinyatakan diterima, Dwi malah bingung karena berpikir pasti tak akan mampu menanggung beban biaya yang besar untuk kuliah di ITS. “Akhirnya waktu itu, saya hanya bisa pasrah,” imbuhnya sambil matanya menerawang jauh.

Tapi ternyata takdir berkehendak lain. Di saat kegundahannya, saat acara Suroan tahun 2004 digelar di Ponorogo bersamaan dengan peringatan HUT Ponorogo, Mimi Anzel menyatakan mau datang.
Kehadiran Mimi ke kota Reog ternyata berkah bagi Dwi. Tanpa disangka-sangka, wanita asal Negeri Paman Sam tersebut menyatakan akan membiayai semua biaya kuliah Dwi. Mulai saat itulah Dwi menganggap Mimi sebagai ibu angkatnya. “Sungguh, kejadian waktu adalah berkah tak terhingga bagi saya,” tukas Dwi.

Setelah beberapa tahun berkutat pada diktat mata kuliah, akhirnya Sabtu (24/3) hari ini, putra pasangan Sukirman dan Amirah ini diwisuda. Rasa syukurnya semakin menjadi-jadi setelah dia dinyatakan lulus cumlaude di antara 1.461 wisudawan ITS dan menjadi salah satu mahasiswa asal Program CC yang berhak mengikuti program magang di Amerika Serikat.

Rasa suka-cita tersebut semakin lengkap, setelah Dwi mendapat kepastian, orang yang membiayai kuliahnya akan menghadiri wisudanya secara langsung di Graha Sepuluh Nopember ITS.
“Tuhan memang maha kuasa. Kuliah dibiayai orang Amerika. Dan setelah lulus, diberi kesempatan ke Amerika,” tandas Dwi sambil menyucap syukur lagi.

Wednesday, 6 October 2004

Waego Hadi Nugroho: Anak Petani Sang Profesor Statistik

Dari: Publikasi Yayasan Supersemar (supersemar.or.id)
06/10/2004

Penampilannya sehari-hari tampak sederhana dan cenderung pendiam. Namun jika sudah bergelut dengan pelajaran atau pekerjaan, dinamika hidupnya demikian menyala. Semangatnya berkobar untuk meraih prestasi apik dalam hidup. Itulah Doktor Waego Hadi Nugroho, seorang mantan penerima beasiswa Supersemar yang sering diundang manca negara untuk tampil dalam forum-forum ilmiah kaliber internasional. Jabatan resminya adalah Kepala Pusat Komputer Universitas Brawijaya, Malang.

Masa Kecil hingga Mahasiswa
"Saya itu anak petani dan berasal dari desa. Sebelumnya nggak pernah membayangkan kalau akan bisa sekolah sampai selesai, apalagi hingga menempuh program doktor di luar negeri. Saya juga merasa tidak pandai, hanya karena tekun dan ada keberuntungan barangkali," tutur Dr. Waego mengawali penuturannya kepada Muhammad Zen. Gayanya memang selalu merendah, terkesan tak ingin menonjolkan diri. Waego lahir di desa Nimbang, Kabupaten Lamongan, pada 7 Desember 1953. la profil seorang yang ulet dan tabah. Anak terakhir dari dua bersaudara ini tamat sekolah dasar di desa asalnya. Pendidikan di SMP dan SMA dihayatinya di kota Lamongan. Lulus SMA pada akhir tahun 1972 dan awal tahun 1973 dia mulai memasuki dunia perguruan tinggi. Jurusan Ilmu Tanah pilihannya dan Universitas Brawijaya garba ilmiahnya.

Mendapat Beasiswa
Setahun setelah menyandang predikat mahasiswa, dia menggaet prestasi terbaik di fakultasnya dan dinobatkan sebagai Mahasiswa Teladan Tingkat Fakultas. Sejak itu dia dibebaskan dari kewajiban membayar uang kuliah sampai tahun terakhir kuliah. Tahun berikutnya, 1975, Waego memperoleh beasiswa dari Yayasan Supersemar sampai dengan tingkat terakhir (program S-1) dan ia lulus pada tahun 1977. Pertama kali mendapatkan beasiswa Supersemar, Waego menerima sepuluh ribu rupiah setiap bulan. "Sebagai anak petani dari desa, beasiswa sepuluh ribu sebulan itu besar sekali artinva. Apalagi saat itu saya bebas uang SPP, sehingga uang sepuluh ribu rupiah itu cukup untuk biaya kost, makan, dan beli buku-buku. Sejak mendapatkan beasiswa, saya tak lagi minta kiriman dari orang tua. Semua kebutuhan sudah tercukupi," lanjut Waego dengan antusias. Pria yang gemar kerja keras ini begitu bersyukur lantaran berkesempatan mendapat beasiswa Supersemar. Beasiswa Supersemar dirasakannya sebagai "angin segar" yang berhembus lembut membelai kehidupannya. Kehadiran beasiswa ini juga dirasakannya sebagai pemacu prestasi baginya. Tidak enak rasanya jika sudah dapat beasiswa, kok prestasinya melorot, katanya.

Cumlaude untuk Gelar Insinyur
Berkat kerja keras, sukses dalam studi pun diraihnya. Berdasarkan kurikulum yang ada, gelar insinyur pertanian itu dapat diraih paling cepat dalam tempo lima tahun. Kalau pun ada yang menyelesaikannya tepat dalam tempo lima tahun, itu tergolong langka. Namun Waego berhasil menggores sejarah baru di fakultasnya; ia lulus hanya dalam tempo empat setengah tahun dengan predikat cumlaude. Saat itu indeks prestasi yang diraihnya 3,98. Dari seluruh mata kuliah yang ditempuhnya, hanya satu mata kuliah yang mendapatkan nilai B; selebihnya mendapatkan nilai A. Suatu prestasi yang fantastik.

Menjadi Dosen
Usai wisuda pada tahun 1977, Waego diminta oleh pihak Unibraw untuk menjadi dosen. Namun saat itu dia tidak mengajar mata kuliah yang ada kaitannya dengan ilmu pertanian, melainkan mengajar mata kuliah statistik. Sebab, di Unibraw baru ada tiga dosen statistik waktu itu, yang dinilai masih kurang memadai jumlahnya. Apalagi diketahui bahwa kemampuan Waego dalam bidang statistik juga dapat diandalkan. Dari waktu ke waktu, karier Waego ini semakin mantap. Setahun setelah menjadi dosen, ia diberi kepercayaan sebagai Sekretaris Badan Perencanaan Perguruan Tinggi (BPPT) tingkat Unibraw. Tahun 1979 dia diangkat sebagai Kepala Bagian Statistik dan Registrasi Unibraw,

Belajar di Australia
Pada tahun 1981, Waego "hijrah" ke Australia, guna menekuni bidang statistik. Dia memperoleh beasiswa dari International Development Programme (IDP) yang berkantor pusat di Canberra, Australia, untuk belajar di "Negara Kanguru" selama lima tahun. Waego mengambil program doktor di Adelaide University Australia. Saat menjelang berangkat ke Australia, Waego kembali memperoleh bantuan dari Yayasan Supersemar sebanyak satu juta rupiah.
Menurut Waego peraturan yang berlaku pada universitas-universitas di Australia agak berbeda dengan yang berlaku di Indonesia. Di sana, setiap orang asing yang akan menempuh gelar doktor diwajibkan mengikuti semacam "program kualifikasi" selama dua tahun; tidak peduli dia sudah lulus master atau baru lulus sarjana. Seusai program kualifikasi, yang bersangkutan akan dievaluasi, lalu diputuskan apakah ia berhak menjadi kandidat doktor apa cukup di master, atau ... malah dipulangkan karena kualitasnya dianggap di bawah standar. "Waktu mengikuti program kualifikasi itu, aduh, sulitnya setengah mati. Hampir saja saya frustrasi.
Apalagi yang saya tempuh itu jurusan statistik, sedangkan ilmu yang saya tekuni sebelumnya adalah pertanian. Selama di Indonesia, saya belum pernah merasa kesulitan dalam menempuh pelajaran, dan baru sekali itulah saya benar-benar merasa susah sekali dalam mengikuti pelajaran," ungkap Waego berterus terang. Dihadang tantangan berat demikian, Waego ternyata tidak goyah. Pria ini tetap tegar dan berupaya keras. Dia makin tekun belajar dan belajar terus. Jika tidak tahu tentang suatu materi pelajaran misalnya, dia tak malu-malu bertanya kepada siapa saja yang dianggapnya lebih tahu. Di samping tambah giat dalam belajar, Waego juga semakin getol beribadah, mendekatkan diri kepada Tuhan. Salatnya bertambah khusyuk, doanya semakin maksyuk, dan puasa sunah Senin dan Kamis dia hayati. Berkat ketekunannya yang dibarengi dengan kekhusyukan beribadah, bayang-baypng keberhasilan mulai akrab lagi dengan Waego. "Dalam program kualifikasi tersebut, pada kuartal pertama saya mengambil lima mata kuliah. Alhamdulillah, dari lima itu semuanya saya dapatkan nilai A. Menyusul tugas menyusun dua buah makalah, dua-duanya juga memperoleh nilai A," kata Waego.
Prestasi Waego yang satu kuartal ini cukup mengagetkan pihak Adelaide University. Profesor yang membimbingnya pun angkat jempol untuk prestasi tersebut. Walhasil, Waego dibebaskan dari lima kuartal program kualifikasi berikutnya. Ia dinilai layak menjadi kandidat doktor. Maka, resmilah kini Waego menjalani pendidikan Program Doktor Adelaide University Australia.
Mengikuti program doktor di Negeri Kanguru bukanlah hal yang enteng. Waego harus belajar ekstra keras agar mampu meraih sukses. "Saya merasa agak kesulitan dalam bidang statistik, karena itu, saya mesti rajin belajar. Semangat belajar selalu berkobar dalam diri saya," tandas Waego yang gemar bermain tenis.

Ke Kampus Dinihari
Dalam hal semangat belajar, Waego memang pantas mendapat acungan jempol. Dalam mengerjakan tugas-tugas penelitian misalnya, yang pengerjaannya mesti dengan komputer di kampus, dia melakukannya sejak pukul empat dinihari. Di saat orang-orang masih tertidur lelap, Waego pergi ke kampus. Kendati cuaca dinihari di Australia demikian dingin menggigit kulit, Waego tetap bersemangat menapakkan kaki ke kampus guna mengerjakan berkas-berkas penelitian. Mengapa mesti dikerjakan pagi-pagi, Bung? "Soalnya kalau saya kerjakan pada jam kerja, prosesnya bisa lama sekali. Komputer di kampus itu, menggunakan sistem sentral, pada jam-jam kerja responnya lambat, sebab banyak yang menggunakan," kilah Waego. Waego, yang sempat pula menjadi pembantu editor Majalah SABRAO (Society of Advance Breeding for Asia Oceania), melakukan penelitian tentang pengembangan model statistik dengan menggunakan teknik komputer, untuk mempersiapkan disertasinya. Tujuan penelitiannya yaitu untuk mengembangkan model atau pola yang paling tepat untuk seorang peneliti. Penelitian dilakukan di Indonesia pada pertengahan tahun 1982, dengan mengambil data dari berbagai lembaga penelitian yang ada di Indonesia.

Dua Tahun Saja
Program Doktor di Adelaide University Australia rata-rata diselesaikan dalam waktu 3 atau 4 tahun. Universitas bergengsi di Benua Kanguru ini menerapkan peraturan yang begitu ketat. Untuk dapat menggondol gelar doktor, di samping diuji oleh para guru besar setempat, juga mesti lulus dari ujian yang dilakukan oleh para guru besar yang masuk kategori paling ahli di tingkat internasional. Saat promosi doktor, Waego diuji oleh 4 guru besar handal; dua dari Australia, selebihnya Prof. Patterson HD dari Eddinburg University (Inggris) dan Prof. Eederer WT dari North Carolina University (Amerika Serikat). Hasilnya? Sangat menggembirakan. Kendati ketentuan program doktor di universitas tersebut begitu ketat, Waego mampu merampungkannya dalam tempo 2 tahun. Suatu prestasi yang jarang sekali terjadi di universitas ini. Apa lagi disertasi tersebut menyangkut bidang statistik, yang selama ini sering dianggap "momok" bagi kebanyakan orang.

Anak dan Istri Pemacu Semangat
Saat berada di Australia, Waego didampingi oleh istri (Ny. Ir. Ludji Pantja Astuti) dan anak pertamanya (Donny Yunamawan). Di Australia pulalah anak keduanya, Donna Dwinita Adelia, lahir. Mereka inilah yang memacu semangat Waego, sehingga senantiasa tegar dalam menghadapi setiap kesulitan dan sukses menggapai prestasi.
Setelah berhasil meraih gelar doktor pada tahun 1984, Waego bersama istri dan anaknya pulang ke Indonesia. la kembali menjadi dosen di Universitas Brawijaya, Malang. Setahun kemudian, dia diangkat sebagai Sekretaris Program Pascasarjana di universitasnya, dan sejak 1986 hingga kini Waego menjabat Kepala Pusat Komputer Universitas Brawijaya. Pusat komputer yang dipimpinnya ini, pada tahun 1988 mendapat bantuan 50 unit komputer dari Yayasan Supersemar.
Begitu memantapkan diri sebagai doktor di bidang statistik, Waego mulai banyak dikenal oleh kalangan masyarakat internasional. Pesanan untuk melakukan proyek penelitian pun mengalir dari berbagai negara; termasuk dari Amerika, Swedia, Australia, Jepang, juga dari Indonesia sendiri. Waego juga kerap kali diundang untuk tampil di berbagai penjuru dunia guna membawakan makalah, terutama yang berkaitan dengan masalah statistik.

Rahasia Sukses
Apa rahasia kesuksesannya? "Sederhana saja sebetulnya. Saya ini tidak begitu pandai, tetapi tekun dan ulet dalam mencapai cita-cita. Di samping itu, sebagai umat beragama, saya senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan tekun beribadah. Sejak kuliah di tingkat pertama Fakultas Pertanian Unibraw hingga kini, saya melakukan shalat tahajud," tutur Dr. Waego. (M. Zen.-)

Friday, 15 August 2003

Ika Rahmatina: Anak Petani Pemenang Lomba Penelitian Ilmiah

Dari: Kompas 15/08/2003

Judul Asli: Anak Petani Itu Memenangi LPIR

KETIKA Ketua Dewan Juri Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) Prof Dr Mien Ahmad Rifai menyebut namanya sebagai pemenang pertama, hadirin harus menunggu sekitar enam menit untuk bisa melihat wajah si pemilik nama.

Lama ditunggu, gadis itu tak segera berdiri, seperti empat pemenang sebelumnya. Ternyata, begitu namanya disebut, Ika Rahmatina langsung menundukkan kepalanya ke pangkuan hingga bermenit-menit. Terang saja hadirin tak bisa melihat Ika yang malam itu duduk di kursi barisan belakang.

"Tadi saya menangis. Tidak menyangka menang. Senang sekali rasanya," tutur Ika.

Gadis dengan tinggi badan 155 sentimeter tersebut membutuhkan waktu beberapa menit untuk menenangkan diri dan maju ke hadapan hadirin. Ketika ia sudah siap tampil, sejumlah kawan sesama finalis pun kemudian menyalaminya. Bahkan, ahli komunikasi Prof Dr Astrid S Susanto dan ekonom Dra Endang Sih Prapti MA memeluk tubuhnya.

Kepolosan dan kemampuan Ika mampu merebut hati para juri yang berasal dari bidang kesehatan, ekonomi, fisika, bahasa, biologi, sejarah, dan komunikasi. Ia dengan lancar menguraikan hasil penelitiannya. "Saya agak bingung karena juri tertawa mendengar jawaban saya. Apa karena saya lucu atau jawabannya salah. Ternyata saya menang," tuturnya.

Tentu saja uraian Ika terdengar lucu. Betapa tidak, gadis itu baru berusia 15 tahun. Sehari-hari hidup di Desa Kenep, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Namun, saat berbicara soal alat kontrasepsi alternatif yang menjadi tema penelitiannya, ia terlihat begitu lancar menjelaskannya. Padahal, di sisi lain, sifat kekanakannya masih terlihat kental. Saat ia tengah bersemangat menjelaskan hasil temuannya, tiba-tiba ia berhenti lalu keluar ucapan spontan dari bibirnya. "Aduh, saya capek ngomong terus."

RASA ingin tahu yang cukup besar telah membawa kemenangan bagi Ika, anak keempat dari lima bersaudara keluarga petani dari desa sekitar 25 kilometer dari kota Bojonegoro itu. Di sana, kebanyakan anak gadis mengikuti pendidikan di pesantren, dan ketika pulang kampung biasanya mereka menikah.

Dari pergaulan dengan wanita tetangganya, Ika, yang saat itu meneliti biji tanaman jarak (Ricinus communis L) masih duduk di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 2 Balen. Ia mendengar cerita, tetangganya yang sudah menikah minum air biji jarak untuk menunda kehamilan.

"Saya penasaran. Mereka sendiri tidak tahu mengapa begitu. Pokoknya, ajaran itu katanya didapat waktu di pondok (pesantren-Red)," tutur Ika yang baru pertama kali bertanding di tingkat nasional. Apa yang terjadi atas tetangganya ia bawa ke kelompok ilmiah remaja (KIR) di sekolahnya. Ternyata pada beberapa buku diperoleh keterangan bahwa biji jarak memang mengandung zat ricin yang dapat mempengaruhi sintesa protein dan ADN.

Maka, penelitian dilakukannya dua tahun lalu, selama dua bulan dua minggu. Biji jarak yang banyak di desanya ia kupas, kemudian ditumbuk dan diambil sarinya serta dicampur air. Sari biji jarak ini kemudian diujicobakan pada mencit.

Kelompok pertama sebagai kontrol tidak diberi perlakuan. Kelompok kedua diberi 0,5 gram biji jarak halus selama empat hari, kelompok ketiga diberi 0,1 gram juga selama empat hari.

Hasilnya, mencit yang mendapat 0,5 gram serbuk jarak masa kehamilannya mundur enam hari. Saat melahirkan pun jumlah anaknya berkurang jadi rata-rata tujuh ekor. Pada mencit tanpa perlakuan masa kehamilannya rata-rata 21 hari dengan jumlah anak rata-rata 10 ekor per kelahiran.

Pada kelompok ketiga dengan 0,1 gram serbuk jarak masa kehamilannya mundur 17 hari dari masa hamil normal. Anak yang dilahirkan rata-rata hanya lima ekor.

"Jadi, mengapa tetangga saya tidak segera hamil? Itu karena ia minum air biji jarak yang mengandung ricin," katanya menjelaskan.

Akan tetapi, Ika belum tahu ricin mengandung zat apa. Rochim, mantan guru pembimbingnya saat ia meneliti, menyatakan bahwa sarana laboratorium di sekolahnya masih terbatas. Penelitian lebih lanjut harus dilakukan di laboratorium yang lebih lengkap.

Sebagai pemenang pertama, Ika bersama pemenang kedua, Ekasari Maulidia Rahma (15) dari SLTPN 1 Malang dan pemenang ketiga, Keke Viernia (17) dari SMU Negeri Sungailiat Kabupaten Bangka, Bangka Belitung, selain mendapat hadiah uang, juga mendapat tiket gratis masuk Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Mau masuk fakultas apa? "Belum tahu, nanti saja kalau sudah mau lulus SMA," kata Ika yang kini belajar di SMU Negeri 1 Sumberejo, Balen, Bojonegoro. Bila nanti ia menjadi mahasiswa, maka dialah anak pertama dalam keluarganya yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

PENELITIAN peserta LPIR, menurut juri sangat membanggakan. Apalagi sebagian dari 30 finalis (disaring dari 349 peserta dari 22 provinsi dan Sekolah Indonesia di Jeddah) merupakan peneliti yang masih duduk di SLTP. "Coba lihat, sebagian besar finalis justru datang dari kabupaten atau kota. Tak lagi didominasi peserta dari kota provinsi," ujar Astrid S Susanto.

Menurut Astrid, kemenangan siswa SLTP merupakan tanda dari daerah akan muncul ilmuwan muda potensial yang masih hirau pada lingkungannya.

Ia menunjuk karya yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Eka dari Malang membuat saklar otomatis yang menjadi alat kebutuhan masyarakat saat ini. Umul Wahyuni Jamilah Darojat, siswa Madrasah Aliyah 3 Kediri, Jawa Timur, membuat ampas tebu dari pabrik gula menjadi briket yang ekonomis. Shaum Shiyan, satu-satunya lelaki yang jadi pemenang kali ini (siswa SMUN 6 Yogyakarta) menjadikan tempe empuk bak daging.

Anak-anak itu sudah menunjukkan mampu menemukan sesuatu yang berguna. Karena itu, jangan sampai keberhasilan itu berhenti seperti tahun-tahun lalu, ketika para pemenang LPIR dibiarkan begitu saja. Astrid berharap, Direktorat Pendidikan Menengah Umum Departemen Pendidikan Nasional bersedia menghubungkan para peneliti dengan industri yang bersedia memakai temuan mereka. Tidak ada salahnya pula kalau karya mereka diupayakan mendapat hak paten. Semoga dengan cara itu gairah meneliti generasi muda bangsa ini lebih terpacu. (SOELASTRI SOEKIRNO)