Dari: Publikasi Yayasan Supersemar (supersemar.or.id)06/10/2004
Penampilannya sehari-hari tampak sederhana dan cenderung pendiam. Namun jika sudah bergelut dengan pelajaran atau pekerjaan, dinamika hidupnya demikian menyala. Semangatnya berkobar untuk meraih prestasi apik dalam hidup. Itulah Doktor Waego Hadi Nugroho, seorang mantan penerima beasiswa Supersemar yang sering diundang manca negara untuk tampil dalam forum-forum ilmiah kaliber internasional. Jabatan resminya adalah Kepala Pusat Komputer Universitas Brawijaya, Malang.
Masa Kecil hingga Mahasiswa
"Saya itu anak petani dan berasal dari desa. Sebelumnya nggak pernah membayangkan kalau akan bisa sekolah sampai selesai, apalagi hingga menempuh program doktor di luar negeri. Saya juga merasa tidak pandai, hanya karena tekun dan ada keberuntungan barangkali," tutur Dr. Waego mengawali penuturannya kepada Muhammad Zen. Gayanya memang selalu merendah, terkesan tak ingin menonjolkan diri. Waego lahir di desa Nimbang, Kabupaten Lamongan, pada 7 Desember 1953. la profil seorang yang ulet dan tabah. Anak terakhir dari dua bersaudara ini tamat sekolah dasar di desa asalnya. Pendidikan di SMP dan SMA dihayatinya di kota Lamongan. Lulus SMA pada akhir tahun 1972 dan awal tahun 1973 dia mulai memasuki dunia perguruan tinggi. Jurusan Ilmu Tanah pilihannya dan Universitas Brawijaya garba ilmiahnya.
Mendapat Beasiswa
Setahun setelah menyandang predikat mahasiswa, dia menggaet prestasi terbaik di fakultasnya dan dinobatkan sebagai Mahasiswa Teladan Tingkat Fakultas. Sejak itu dia dibebaskan dari kewajiban membayar uang kuliah sampai tahun terakhir kuliah. Tahun berikutnya, 1975, Waego memperoleh beasiswa dari Yayasan Supersemar sampai dengan tingkat terakhir (program S-1) dan ia lulus pada tahun 1977. Pertama kali mendapatkan beasiswa Supersemar, Waego menerima sepuluh ribu rupiah setiap bulan. "Sebagai anak petani dari desa, beasiswa sepuluh ribu sebulan itu besar sekali artinva. Apalagi saat itu saya bebas uang SPP, sehingga uang sepuluh ribu rupiah itu cukup untuk biaya kost, makan, dan beli buku-buku. Sejak mendapatkan beasiswa, saya tak lagi minta kiriman dari orang tua. Semua kebutuhan sudah tercukupi," lanjut Waego dengan antusias. Pria yang gemar kerja keras ini begitu bersyukur lantaran berkesempatan mendapat beasiswa Supersemar. Beasiswa Supersemar dirasakannya sebagai "angin segar" yang berhembus lembut membelai kehidupannya. Kehadiran beasiswa ini juga dirasakannya sebagai pemacu prestasi baginya. Tidak enak rasanya jika sudah dapat beasiswa, kok prestasinya melorot, katanya.
Cumlaude untuk Gelar Insinyur
Berkat kerja keras, sukses dalam studi pun diraihnya. Berdasarkan kurikulum yang ada, gelar insinyur pertanian itu dapat diraih paling cepat dalam tempo lima tahun. Kalau pun ada yang menyelesaikannya tepat dalam tempo lima tahun, itu tergolong langka. Namun Waego berhasil menggores sejarah baru di fakultasnya; ia lulus hanya dalam tempo empat setengah tahun dengan predikat cumlaude. Saat itu indeks prestasi yang diraihnya 3,98. Dari seluruh mata kuliah yang ditempuhnya, hanya satu mata kuliah yang mendapatkan nilai B; selebihnya mendapatkan nilai A. Suatu prestasi yang fantastik.
Menjadi Dosen
Usai wisuda pada tahun 1977, Waego diminta oleh pihak Unibraw untuk menjadi dosen. Namun saat itu dia tidak mengajar mata kuliah yang ada kaitannya dengan ilmu pertanian, melainkan mengajar mata kuliah statistik. Sebab, di Unibraw baru ada tiga dosen statistik waktu itu, yang dinilai masih kurang memadai jumlahnya. Apalagi diketahui bahwa kemampuan Waego dalam bidang statistik juga dapat diandalkan. Dari waktu ke waktu, karier Waego ini semakin mantap. Setahun setelah menjadi dosen, ia diberi kepercayaan sebagai Sekretaris Badan Perencanaan Perguruan Tinggi (BPPT) tingkat Unibraw. Tahun 1979 dia diangkat sebagai Kepala Bagian Statistik dan Registrasi Unibraw,
Belajar di Australia
Pada tahun 1981, Waego "hijrah" ke Australia, guna menekuni bidang statistik. Dia memperoleh beasiswa dari International Development Programme (IDP) yang berkantor pusat di Canberra, Australia, untuk belajar di "Negara Kanguru" selama lima tahun. Waego mengambil program doktor di Adelaide University Australia. Saat menjelang berangkat ke Australia, Waego kembali memperoleh bantuan dari Yayasan Supersemar sebanyak satu juta rupiah.
Menurut Waego peraturan yang berlaku pada universitas-universitas di Australia agak berbeda dengan yang berlaku di Indonesia. Di sana, setiap orang asing yang akan menempuh gelar doktor diwajibkan mengikuti semacam "program kualifikasi" selama dua tahun; tidak peduli dia sudah lulus master atau baru lulus sarjana. Seusai program kualifikasi, yang bersangkutan akan dievaluasi, lalu diputuskan apakah ia berhak menjadi kandidat doktor apa cukup di master, atau ... malah dipulangkan karena kualitasnya dianggap di bawah standar. "Waktu mengikuti program kualifikasi itu, aduh, sulitnya setengah mati. Hampir saja saya frustrasi.
Apalagi yang saya tempuh itu jurusan statistik, sedangkan ilmu yang saya tekuni sebelumnya adalah pertanian. Selama di Indonesia, saya belum pernah merasa kesulitan dalam menempuh pelajaran, dan baru sekali itulah saya benar-benar merasa susah sekali dalam mengikuti pelajaran," ungkap Waego berterus terang. Dihadang tantangan berat demikian, Waego ternyata tidak goyah. Pria ini tetap tegar dan berupaya keras. Dia makin tekun belajar dan belajar terus. Jika tidak tahu tentang suatu materi pelajaran misalnya, dia tak malu-malu bertanya kepada siapa saja yang dianggapnya lebih tahu. Di samping tambah giat dalam belajar, Waego juga semakin getol beribadah, mendekatkan diri kepada Tuhan. Salatnya bertambah khusyuk, doanya semakin maksyuk, dan puasa sunah Senin dan Kamis dia hayati. Berkat ketekunannya yang dibarengi dengan kekhusyukan beribadah, bayang-baypng keberhasilan mulai akrab lagi dengan Waego. "Dalam program kualifikasi tersebut, pada kuartal pertama saya mengambil lima mata kuliah. Alhamdulillah, dari lima itu semuanya saya dapatkan nilai A. Menyusul tugas menyusun dua buah makalah, dua-duanya juga memperoleh nilai A," kata Waego.
Prestasi Waego yang satu kuartal ini cukup mengagetkan pihak Adelaide University. Profesor yang membimbingnya pun angkat jempol untuk prestasi tersebut. Walhasil, Waego dibebaskan dari lima kuartal program kualifikasi berikutnya. Ia dinilai layak menjadi kandidat doktor. Maka, resmilah kini Waego menjalani pendidikan Program Doktor Adelaide University Australia.
Mengikuti program doktor di Negeri Kanguru bukanlah hal yang enteng. Waego harus belajar ekstra keras agar mampu meraih sukses. "Saya merasa agak kesulitan dalam bidang statistik, karena itu, saya mesti rajin belajar. Semangat belajar selalu berkobar dalam diri saya," tandas Waego yang gemar bermain tenis.
Ke Kampus Dinihari
Dalam hal semangat belajar, Waego memang pantas mendapat acungan jempol. Dalam mengerjakan tugas-tugas penelitian misalnya, yang pengerjaannya mesti dengan komputer di kampus, dia melakukannya sejak pukul empat dinihari. Di saat orang-orang masih tertidur lelap, Waego pergi ke kampus. Kendati cuaca dinihari di Australia demikian dingin menggigit kulit, Waego tetap bersemangat menapakkan kaki ke kampus guna mengerjakan berkas-berkas penelitian. Mengapa mesti dikerjakan pagi-pagi, Bung? "Soalnya kalau saya kerjakan pada jam kerja, prosesnya bisa lama sekali. Komputer di kampus itu, menggunakan sistem sentral, pada jam-jam kerja responnya lambat, sebab banyak yang menggunakan," kilah Waego. Waego, yang sempat pula menjadi pembantu editor Majalah SABRAO (Society of Advance Breeding for Asia Oceania), melakukan penelitian tentang pengembangan model statistik dengan menggunakan teknik komputer, untuk mempersiapkan disertasinya. Tujuan penelitiannya yaitu untuk mengembangkan model atau pola yang paling tepat untuk seorang peneliti. Penelitian dilakukan di Indonesia pada pertengahan tahun 1982, dengan mengambil data dari berbagai lembaga penelitian yang ada di Indonesia.
Dua Tahun Saja
Program Doktor di Adelaide University Australia rata-rata diselesaikan dalam waktu 3 atau 4 tahun. Universitas bergengsi di Benua Kanguru ini menerapkan peraturan yang begitu ketat. Untuk dapat menggondol gelar doktor, di samping diuji oleh para guru besar setempat, juga mesti lulus dari ujian yang dilakukan oleh para guru besar yang masuk kategori paling ahli di tingkat internasional. Saat promosi doktor, Waego diuji oleh 4 guru besar handal; dua dari Australia, selebihnya Prof. Patterson HD dari Eddinburg University (Inggris) dan Prof. Eederer WT dari North Carolina University (Amerika Serikat). Hasilnya? Sangat menggembirakan. Kendati ketentuan program doktor di universitas tersebut begitu ketat, Waego mampu merampungkannya dalam tempo 2 tahun. Suatu prestasi yang jarang sekali terjadi di universitas ini. Apa lagi disertasi tersebut menyangkut bidang statistik, yang selama ini sering dianggap "momok" bagi kebanyakan orang.
Anak dan Istri Pemacu Semangat
Saat berada di Australia, Waego didampingi oleh istri (Ny. Ir. Ludji Pantja Astuti) dan anak pertamanya (Donny Yunamawan). Di Australia pulalah anak keduanya, Donna Dwinita Adelia, lahir. Mereka inilah yang memacu semangat Waego, sehingga senantiasa tegar dalam menghadapi setiap kesulitan dan sukses menggapai prestasi.
Setelah berhasil meraih gelar doktor pada tahun 1984, Waego bersama istri dan anaknya pulang ke Indonesia. la kembali menjadi dosen di Universitas Brawijaya, Malang. Setahun kemudian, dia diangkat sebagai Sekretaris Program Pascasarjana di universitasnya, dan sejak 1986 hingga kini Waego menjabat Kepala Pusat Komputer Universitas Brawijaya. Pusat komputer yang dipimpinnya ini, pada tahun 1988 mendapat bantuan 50 unit komputer dari Yayasan Supersemar.
Begitu memantapkan diri sebagai doktor di bidang statistik, Waego mulai banyak dikenal oleh kalangan masyarakat internasional. Pesanan untuk melakukan proyek penelitian pun mengalir dari berbagai negara; termasuk dari Amerika, Swedia, Australia, Jepang, juga dari Indonesia sendiri. Waego juga kerap kali diundang untuk tampil di berbagai penjuru dunia guna membawakan makalah, terutama yang berkaitan dengan masalah statistik.
Rahasia Sukses
Apa rahasia kesuksesannya? "Sederhana saja sebetulnya. Saya ini tidak begitu pandai, tetapi tekun dan ulet dalam mencapai cita-cita. Di samping itu, sebagai umat beragama, saya senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan tekun beribadah. Sejak kuliah di tingkat pertama Fakultas Pertanian Unibraw hingga kini, saya melakukan shalat tahajud," tutur Dr. Waego. (M. Zen.-)
No comments:
Post a Comment