Tuesday, 9 January 2007

Kuwadiyanto: Anak Petani Sang Guru Teladan

Dari Direktorat tenaga kependidikan (tendik.org)
09/01/2007

“Sekolah adalah rumah kedua bagi saya“, ujar Kuwadiyanto M.Pd, Kepala Sekolah SDN Menteng 01 Pagi. Karena menganggap sekolah sebagai rumahnya, maka Kuwadiyanto senantiasa memperlakukan sekolahnya sebagai harta milik yang harus dipelihara. “ hal penting yang harus diperhatikan adalah memelihara kenyamanan rumah, supaya mendukung produktivitas kerja untuk mencapai seluruh target cita-cita hidup”, katanya, bertamsil.

Kuwadiyanto senantiasa terus menerus berkarya untuk memoles sekolahnya supaya mencapai target prestasi yang diharapkan. Ia mengaku senang bekerja dan terbiasa bekerja keras sejak kecil. Sebagai seorang anak yang dibesarkan di keluarga petani, ia merasa tak punya mimpi yang terlalu muluk.

Kuwadiyanto lahir di Desa Pakem, sebuah desa di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Sebagai anak petani yang sederhana, ia tumbuh dengan pikiran-pikiran yang sederhana saja. “saya tak menuntut kondisi hidup yang aneh-aneh”.tuturnya, sejak kecil ia sudah terbiasa bekerja keras. Sebagai anak petani yang seadanya, di luar jam sekolah kuwadiyanto harus ikut membantu orangtuanya kerja di sawah.

“Pagi sekolah, sorenya ikut membantu ayah mengelola sawah”, kenangnya. Namun di antara kesederhanaannya, Kuwadiyanto punya cita-cita. Sejak belajar di Sekolah Dasar, ia bercita-cita menjadi Guru. Karena itu begitu lulus SMP, ia langsung melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Ia berpikir, kalau pun tidak jadi guru, dengan masuk SPG ia akan mendapatkan ilmu untuk mendidik anak-anaknya kelak.

Setelah lulus dari SPG, tahun 1977, kuwadiyanto hijrah ke Jakarta untuk mengadu nasib. Kemudian, ia di terima sebagai pengajar di SD Ratih, di kawasan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Inilah awal karirnya sebagai sebagai Guru. Gajinya kaloa itu Rp 21.000 per bulan. “ Jumlahnya lumayan besar waktu itu. Karena ini kan sekolah swasta. Kalau sekolah negeri, saat itu hanya dapat gaji Rp 16.000”, tutur kuwadiyanto.

Setelah hampir dua tahun mengajar di SD Ratih, Kuwadiyanto kemudian bekerja ke SD negeri Kebon Sirih 01 Jakarta, sejak tahun 1979 hingga 1997. setelah itu, pada 1997 ia mengabdi di SDN menteng 01 Pagi, berkat dedikasinya, dalam kurun tahun 1996 hingga 1999, kuwadiyanto meraih penghargaan sebagai Guru Teladan peringkat ke-3 tingkat Kotamadya Jakarta Pusat, dan tingkat provinsi DKI Jakarta.

Pada tahun 2002, kuwadiyanto sempat pindah mengajar ke SDN Kemayoran 09, jakarta Timur. Namun, selang setahun, ia dipanggil kembali untuk mengajar kembali di SDN 01 Menteng. Setelah dua tahun berkiprah kembali di sekolah itu, kuwadiyanto akhirnya diangkat menjadi kepala sekolah.

Kuwadiyanto mengaku senang mengabdikan hidupnya untuk anak-anak. Karena itu, ia senantiasa serius mendalami ilmu pendidikannya. “ saya selalu berusaha mencari metoda pembelajaran yang efektif, agar gampang diterima anak-anak”. Katanya, ia berupaya menyampaikan pelajaran dengan cara yang paling mudah dimengerti tanpa membuat murid-muridnya menjadi bosan.

Kuwadiyanto mengaku banyak belajr dari guru-guru lainya. Sebaliknya, ia juga rajin memotivasi para guru lain untuk terus meningkatkan kemampuannya dalam mengajar. Ia kerap berdiskusi dengan guru-guru sekolah yang dipimpinnya untuk menemukan metode-metode yang lebih efektif dalam menyampaikan pelajaran. Berkat upayanya itulah SDN Menteng 01 Pagi berhasil meriah berbagai prestasi. (disarikan dari Forum Tenaga Kependidikan).

No comments:

Post a Comment