Dari Surya Online
Friday, 23 March 2007 Surabaya
Nasib pasti bisa diubah. Ini juga yang diyakini Dwi Susanto, 23, anak petani asal Ponorogo ini tak menyangka perkenalannya dengan orang Amerika akhirnya bisa mengantarkannya merengkuh ijazah D3 Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS. Apalagi dengan prestasi yang di atas rata-rata.
Wajah Dwi Susanto, Jumat (23/3) terlihat sangat ceria. Bibirnya terus komat-kamit. Seraya memejamkan mata, dia menengadahkan tangan menyusap wajahnya. Sejurus kemudian, dengan spontan bibirnya mengucap kalimat, ”Alhamdulillah ... terimakasih Mimi,”.
Seakan tak puas hanya sekali mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan YME, Dwi (demikian dia biasa disapa, Red) mengulang-ulang kalimat itu sebelum mengakhirinya dengan sujud syukur.
Kegembiraan tak terkira pemuda kelahiran Ponorogo, 3 Agustus 1983 tersebut beralasan.
ia tak menyangka perkenalannya dengan Mimi Anzel, warga negara Amerika Serikat yang dikenalnya di Jogjakarta, 2002 lalu telah mengantarkannya merengkuh status sarjana. Meski hanya D3. “Jangankan lulus D3, wong sebelumnya bisa lulus SMK saja sudah alhamdulillah,” ujarnya.
Ceritanya, tahun 2002, sebelum lulus dari SMK Negeri I Jenangan Ponorogo Jurusan Bangunan Gedung, ia yang ikut kursus bahasa Inggris di sekolahnya mengikuti outing program di Jogyakarta. Di Kota Gudeg inilah Dwi berkenalan dengan seorang turis dari Amerika bernama Mimi Anzel. Setelah perkenalan itu, Dwi dan Mimi terus intensif berhubungan lewat email.
Karena berasal dari keluarga kurang mampu, Dwi berharap setelah lulus SMK bisa langsung bekerja. Ternyata keinginannya terkabul, dia akhirnya diterima untuk mengajar di sebuah madrasah yang ada di kampungnya.
Sambil menunggu pekerjaan yang mapan, Dwi memutuskan melanjutkan kuliah ke Community College D1 jurusan Teknologi Informasi di Ponorogo - program kerja sama Pemkab Ponorogo dengan Direktorat Pendidikan Menengah dan Kejuruan Depdiknas. “Program ini cocok bagi mereka yang kurang mampu tapi ingin kuliah. Selain biayanya murah, tempatnya juga dekat rumah dan bisa disambi kerja,” tukas Dwi.
Setelah menamatkan program CC, Dwi mendapat kesempatan melanjutkan kuliah di Program D3 PENS-ITS setelah coba-coba mengikuti seleksi. Setelah dinyatakan diterima, Dwi malah bingung karena berpikir pasti tak akan mampu menanggung beban biaya yang besar untuk kuliah di ITS. “Akhirnya waktu itu, saya hanya bisa pasrah,” imbuhnya sambil matanya menerawang jauh.
Tapi ternyata takdir berkehendak lain. Di saat kegundahannya, saat acara Suroan tahun 2004 digelar di Ponorogo bersamaan dengan peringatan HUT Ponorogo, Mimi Anzel menyatakan mau datang.
Kehadiran Mimi ke kota Reog ternyata berkah bagi Dwi. Tanpa disangka-sangka, wanita asal Negeri Paman Sam tersebut menyatakan akan membiayai semua biaya kuliah Dwi. Mulai saat itulah Dwi menganggap Mimi sebagai ibu angkatnya. “Sungguh, kejadian waktu adalah berkah tak terhingga bagi saya,” tukas Dwi.
Setelah beberapa tahun berkutat pada diktat mata kuliah, akhirnya Sabtu (24/3) hari ini, putra pasangan Sukirman dan Amirah ini diwisuda. Rasa syukurnya semakin menjadi-jadi setelah dia dinyatakan lulus cumlaude di antara 1.461 wisudawan ITS dan menjadi salah satu mahasiswa asal Program CC yang berhak mengikuti program magang di Amerika Serikat.
Rasa suka-cita tersebut semakin lengkap, setelah Dwi mendapat kepastian, orang yang membiayai kuliahnya akan menghadiri wisudanya secara langsung di Graha Sepuluh Nopember ITS.
“Tuhan memang maha kuasa. Kuliah dibiayai orang Amerika. Dan setelah lulus, diberi kesempatan ke Amerika,” tandas Dwi sambil menyucap syukur lagi.
Friday, 23 March 2007
Subscribe to:
Comments (Atom)