Saturday, 13 December 2008

Emilia Ningsih: Anak Petani Tukang Pikul Jadi Doktor

Dari Kendari Pos 13/12/2008
Lahir dari keluarga berekonomi pas-pasan di Butur, tak membuat anak ke-5 ini patah semangat. Justru, memotivasi dirinya gigih berjuang membahagiakan orang tua sekaligus menepis anggapan anak petani tidak mampu mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.


Emilia Ningsih
Siapa bilang anak petani dengan ekonomi pas-pasan hanya bisa berangan-angan menempuh pendidikan setingkat sarjana hingga program doktor di salah satu universitas favorit tanah air? Asal punya kemauan yang kuat, rajin dalam segala hal serta selalu berdoa dan bertawakal, impian pasti akan terwujud. Itu dibuktikan oleh Dr Dasmin Sidu SP MP, dosen Universitas Haluoleo yang lahir dari keluarga petani di Keluarahan Lipu Kecamatan Kulisusu, Buton Utara (Butur).
Siapapun yang tidak mengenal sosok yang kesannya diam, tapi murah senyum ini, pasti tidak akan mengira bila apa yang diraih hari ini membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Walau kedua orang tuanya, La Sidu-Wa Hinu, hanya bekerja sebagai petani biasa, tak sedikitpun dirinya merasa malu. Malah apa yang diberikan Tuhan dianggapnya sebagai anugrah yang harus diraih dengan kegigihan. Makanya, sejak SD hingga SMA, anak ke-5 dari 11 bersaudara ini memilih tinggal dengan kerabat terdekatnya.
Tinggal di rumah keluarga, membuat suami dari Wa Ode Sri Suharni ini, lebih memaknai hidup dengan kerja keras. Segala pekerjaan pun dilakoni Dasmin sejak kecil yang baru duduk di bangku SDN di Kulisusu. Tak peduli harus menjadi tukang pikul barang sekalipun, asalkan menghasilkan uang yang dapat membantu biaya sekolahnya. Dasmin pernah menjadi tukang pikul seperti yang dilihat sehari-hari di Kota Kendari. Dasmin pun begitu dulu. Bagi pria yang kesannya diam, tapi tak pelit senyum ini, asalkan halal pekerjaan apapun siap dilakoni saat itu demi sebuah cita-cita---ingin sekolah tinggi di kota.
Meski menjadi pekerja serabutan, ayah dua putri ini, tak pernah mengabaikan tugasnya sebagai siswa sehingga selalu menjadi juara kelas sejak SD hingga SMA. Begitu ada waktu luang, dosen pertanian ini selalu dimanfaatkan untuk membaca buku yang terkait dengan pelajarannya kala itu. Kebiasaan membaca terus berulang hingga terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian Universitas Gadja Mada (UGM) Jogjakarta.
Satu hal yang tak akan pernah dilupakan dalam hidupnya, yakni ketika diterima sebagai mahasiswa UGM, banyak pihak di Butur menyangsikan keinginannya itu. Tak jarang di antara mereka malah mencibir, "Tidak mungkin anak petani bisa sekolah tinggi di Jawa," ucap Dasmin.
Cibiran yang dilontar padanya terus dijadikan cambuk sekaligus semangat untuk membuktikan pada siapapun yang menganggap anak petani sekelas orang tuanya hanya bisa menyekolahkan anaknya maksimal di level SMA. Meski harus kerja keras di awal kuliah, lagi-lagi ia membuktikan, upayanya dapat mematahkan anggapan anak petani selevel dirinya tidak mampu sekolah di universitas. Bahkan, pria yang hobi membaca dan olahraga ini menerima predikat sebagai lulusan S1 tercepat di program studinya saat itu.
Menjadi lulusan tercepat S1, tak membuatnya berpuas diri. Setelah empat tahun kembali mengajar di Unhalu, penerima PPP Award ini melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana (S2) tahun 2000 di UGM. Sekali lagi, mantan dosen STIP Muna ini, menunjukkan prestasi menjadi lulusan tercepat dan terbaik tahun 2002. Semangat untuk melanjutkan pendidikan hingga terdaftar sebagai mahasiswa program doktor di Institut Pertanian Bogor tahun 2003-2006.
Seperti kebiasaan ayah dari Salma Aulia Sidu dan Fatma Amalia Sidu ini. Masa studi hanya dua tahun dengan disertasi yang berjudul Model Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Kawasan Hutan Lindung Jompi Kabupaten Muna Sultra, kembali mengantarkan konsultan Bappedalda Yogyakarta ini, meraih predikat lulusan tercepat, terbaik sekaligus termuda program doktor IPB. Rahasianya?
"Sebenarnya saya bukan pintar, hanya mau membaca dengan kemauan yang keras. Alhamdulillah, keinginan untuk sekolah di perguruan tinggi tercapai. Sebenarnya, segala sesuatunya saya biarkan berjalan apa adanya. Terpenting kemauan dan berupaya untuk mencapai sebuah cita-cita, jangan lupa berdoa dan bertawakal, itulah yang mendorong saya bisa seperti sekarang ini," ujarnya dosen penanggung jawab mata kuliah sarjana dan pasca sarjana Unhalu ini.
Meski sudah memperoleh gelar doktor, semangat untuk menempuh pendidikan kembali terus membayangi pemilik koleksi ribuan judul buku di perpustakaan pribadinya. Ia berangan-angan bisa mendalami manajemen Sumberdaya Manusia dan dia pun menyerahkan sepenuhnya pada kehendak Tuhan, kapan saat itu direalsiasikan. "Harus kita ingat agar jangan pernah enggan untuk berbagi ilmu. Siapapun yang membutuhkan bantuan, silakan dibantu sesuai kemampuan. Insya Allah segala keinginan kita pun dilapangkan. Saya selalu menerapkan ini sejak kuliah di daerah orang, ketika kita membantu teman, maka bantuan yang kita butuhkan puns elalu dimudahkan oleh Tuhan," pungkas pria kelahiran Lipu tanggal 6 Mei 1972 ini.

No comments:

Post a Comment