Monday, 4 September 2006

Kapler Marpaung: Anak Petani yang Sukses Jadi Broker Asuransi

Dari Sinar Harapan, 04/09/2006

JAKARTA-Pria kelahiran Medan, 16 Desember 1961 ini sejak awal 2006 duduk sebagai chairman di PT Jupiter Insurance Brokers & Consultants. Setelah sebelumnya selama 13 tahun, tepatnya dari Februari 1994 hingga Oktober 2005 bekerja di PT BGIB Insurance Brokers dengan jabatan terakhir sebagai presiden direktur.

Perusahaan yang sebelumnya bernama PT Bimantara Graha Insurance Brokers & Consultants ini bukanlah tempat Kapler kali pertama bekerja di dunia perasuransian. Jauh sebelum itu, dari tahun 1983-1993 ia bekerja di PT SIUSAR Insurance & Co. Jabatan tertinggi yang dipegangnya Asisten General Teknik dan Marketing.

Sungguh pencapaian karier yang luar biasa bagi Kapler A Marpaung mengingat pertama kali masuk ke perusahaan tersebut, hanya membawa bekal ijazah SMA yang diperolehnya pada 1981 dari Porsea, tidak jauh dari lokasi pabrik bubur kertas PT Toba Pulp Lestari saat ini.

Orang tua Kapler yang “hanya” berprofesi sebagai petani dan pedagang kelontong di Rantau Prapat, Medan, karena alasan ekonomi sengaja menitipkan Kapler kepada kakek- neneknya di Porsea. Kapler ialah anak kedua dari sembilan bersaudara.

Di daerah tidak jauh dari Danau Toba yang berhawa sejuk itu, Kapler kecil juga sempat merasakan dua tahun belajar di sekolah dasar sebelum akhirnya dibawa kembali oleh orang tuanya ke Medan.
“Orang tua saya dengan segala keterbatasannya hanya mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga tamat SMA,” kata Kapler berkisah. Alhasil, ambisinya untuk berkuliah di Universitas Sumatera Utara (USU) harus dikubur dalam-dalam lantaran ketiadaan dana.

Kemandirian yang sangat kuat ditanamkan oleh kedua orang tuanya, mendorong Kapler merantau ke Ibu Kota pada 1982, satu tahun setelah lulus SMA.Di bilangan Kenari Jakarta Pusat, Kapler menumpang hidup di kos-kosan teman-temannya satu daerah yang nasibnya lebih beruntung karena dapat berkuliah. “Teman-teman saya banyak yang kuliah di Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Kristen Indonesia (UKI). Hanya saya saja yang tidak kuliah,” kenang Kapler.

Ia mengaku sangat bersyukur dapat bergaul dengan para mahasiswa meski ia sendiri hanya seorang tamatan SMA. Berkat pergaulannya itu ia dapat memupuk keinginan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi.
Keinginan Kapler baru dapat terealisasi pada 1988. Sambil bekerja, sorenya ia berkuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Indonesia.

Suami dari Rosmalinda Nasution ini menuturkan bahwasanya selama dua tahun ia sempat menjadi pegawai negeri di Departemen Tenaga Kerja. Namun, pekerjaaan itu akhirnya dilepas karena merasa tidak cocok dengan jiwanya yang selalu ingin mobile dan dinamis.

Lalu bagaimana ia bisa terjun di dunia perasuransian, Kapler menuturkan perjalanan hidupnya tidak bisa dilepaskan dari pertemuannya pada suatu ketika di Gereja Paulus Menteng dengan seseorang yang memiliki perusahaan broker asuransi.

“Orang itu menawari saya untuk bergabung, padahal ia tahu saya sudah bekerja sebagai pegawai negeri,” kata Kapler. “Beliau meminta saya memikirkan masak-masak tawaran yang asing ini.” Akhirnya, Kapler memilih jalan hidupnya sendiri hingga membawanya pada posisi sekarang. Ia lepas status pegawai negeri yang diidam-idamkan banyak orang untuk menjadi seorang broker asuransi.

Komitmen Kapler dalam memajukan profesi broker asuransi demikian tinggi. Ini terlihat dari seabrek aktivitasnya, antara lain, Ketua Umum Asosiasi Broker Asuransi dan Reasuransi Indonesia (ABAI) dan Ketua Badan Pendidikan dan Pembinaan (BPP) ABAI Periode 2002-2005. Selain itu ia juga menjadi Penasihat ABAI dan Ketua BPP ABAI periode 2005-2008.

Pernah pula Kapler menjabat Wakil Sekjen Himpunan Ahli Pialang Asuransi Indonesia (HAPSI) selama dua periode dan manajer pendidikan BPP-ABAI juga selama dua perode.
Redaktur Eksekutif Jurnal AAMAI dan juga Pemimpin umum majalah Broker ini memeroleh gelar profesi Ahli Pialang Asuransi Indonesia (APAI) dari ABAI pada 1989, kualifikasi Ajun Ahli Asuransi Indonesia-Kerugian (AAIIK) dari AAMAI 1997, serta kualifikasi Certified of Indonesia Insurance & Reinsurance Brokers (CIIB) dari ABAI pada 2000.
Pada Juli 2005, ia juga memeroleh kualifikasi Certified of Wealth Manager (CWM) dari Greenwich University-Business School, Inggris.

Saat ini, pengajar di sejumlah perguruan tinggi dan lembaga pendidikan ini tengah melanjutkan program S-2 bidang teologi di STT Jakarta. Ya, bisa dibilang minat pria yang menikah pada 2002 ini guna memperdalam pengetahuan agamanya demikian besar.

Tidak berhenti sampai di situ, ia pun aktif dalam aktivitas keagamaan. Kapler ditunjuk menjadi ketua umum panitia perayaan hari ulang tahun HKBP distrik 8 (Jawa-Kalimantan) yang ke-66 pada 27 Agustus 2006 di Lapangan Tennis Indoor Senayan.

Lalu saat ditanya apa lagi yang belum kesampaian dalam hidupnya, ia hanya menjawab singkat. “Saya dan istri terus berdoa agar dikaruniai anak oleh Tuhan,” katanya.
(danang j murdono)

Saturday, 10 September 2005

Abdullah Vanath: Anak Petani Jadi Bupati Seram Timur

Sumber: Kabupaten Seram Bagian Timur (serambagiantimurkab.go.id)

Tanggal 10 September 2005 merupakan momen yang bersejarah bagi masyarakat Seram Bagian Timur,khususnya di Kecamatan Werinama dan keluarga Abdullah Vanath, betapa tidak anak petani yang awalnya miniti karir di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Modern Ekspress Ambon, dilantik menjadi Bupati Seram Bagian Timur periode 2005 – 2010

Abdullah Vanath adalah anak dari pasangan (Alm) Ibrahim Vanath dan Sofia Voth dibesarkan di Kecamatan Werinama yang merupakan tanah kelahirannya.Abdullah Vanath mengakui saat kecil beliau hidup dalam masa masa sulit,namun setelah menamatkan sekolah di Madrasah Aliyah di Ternate,masa masa itupun mulai berubah setelah Abdullah Vanath bekerja di Bank BPR Modern Ekspress Ambon.

Abdullah Vanath mulai berkarir di Bank Perkreditan Rakyat Modern Ekspress, menjadi Ketua Koperasi serba usaha Talavolas Ambon dan terakhir menjadi Direktur CV Talavolas Ambon.

Setelah menyampaikan visi dan misi sebagai calon Bupati Seram Bagian Timur 2005, Akhirnya Abdullah Vanath bersama pasangannya Dra.Sitti Umuria Suruwaky.sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Seram Bagian Timur periode 2005 – 2010. Abdullah Vanath merupakan bupati termuda di Indonesia.

Perjuangan seorang anak petani yang berhasil menjadi Bupati di Kabupaten Seram Bagian Timur patut untuk diteladani. Kerendahan hati serta perjuangan keras yang tidak kenal lelah dan putus asa adalah kunci keberhasilanya. Semoga kepribadian yang positif ini dapat ditiru oleh generasi muda di Kabupaten Seram Bagian Timur.

BIODATA
Nama: Abdullah Vanath,S.Sos
Tempat/Tgl Lahir : Werinama,21 Mei 1971

PENDIDIKAN
SD Negeri II Werinama,1984
Madrasah Tsanawiyah,Ambon,1987
Madrasah Aliyah,Ternate,1990
STIA Trinitas, Ambon, 2005

RIWAYAT PEKERJAAN
Karyawan PT Bank BPR Modern Ekspress Ambon
Ketua Koperasi serba usaha Talavolas Ambon
Direktur CV Talavolas Ambon

RIWAYAT ORGANISASI
Ketua Pusat Peran Serta Masyarakat Kota Ambon
Ketua Pedagang Kaki Lima Ambon
Ketua Tim Percepatan Pembentukan Kabupaten SBT

KELUARGA
Istri : Rohani Rasyid Vanath
Tempat/Tgl lahir : Makassar,17 Januari 1971

PENDIDIKAN
Madrasah Aliyah – Masohi

PEKERJAAN
PNS Sipil Kodam Pattimura

ANAK ANAK
Abdurahman Sidiq Vanath

Tuesday, 2 August 2005

Soemino Eko Saputro: Anak Petani Jadi Dirjen

Disunting dari Biografi Tokoh Indonesia (www.tokohindonesia.com)

Dunia Soemino Eko Saputro kecil hanyalah Desa Delanggu, sawah, ternak dan sungai. Soemino lahir dari keluarga petani, pasangan Parto-dihardjo dan Asih di Delangu, Jawa Tengah, tanggal 10 September 1947. Dengan jaringan pengairan yang cukup bagus, Delanggu terkenal dengan hasil pertaniannya, penghasil utama beras Rojolele.

Sang Ayah, Partodihardjo seorang petani yang ulet,
menggarap sawah, sebuah pekerjaan yang digelutinya dengan segala senang hati. Sang Ibu, Asih, pedagang beras yang sangat dikenal di desanya. Jadi Sang Ayah yang mengolah lahannya, Sang Ibu yang menjual berasnya. “Bisnisnya berbeda tetapi saling berkaitan,” kata Dirjen Kereta Api, Ir H Soemino Eko Saputro, MM, me-ngenang masa kecilnya di kampung.

Bisnis Ibu Asih, mengumpulkan beras, kemudi-an dijual ke luar, bahkan sampai ke Jakarta. Beras yang dijual di Jakarta diangkut dengan kereta api. Pada saat itu, Soemino belum punya bayangan sama sekali bahwa suatu saat nanti akan bekerja di kereta api.

Soemino menyelesaikan pendidikan sampai di perguruan tinggi dibiayai dengan hasil pertanian dan dagang beras ayah-ibunya. Dia menamatkan sekolah dasar di SR Delanggu (1959), menamatkan SMP (1962) dan SMA (1965) di Solo. Di Solo, Soemino muda sekolah di SMA Negeri III Margoyudan, sekolah lanjutan atas favorit dan paling terkenal di Solo (Surakarta).

Dari Solo, Soemino melanjutkan studinya di Fakultas Teknik Sipil, ITS, Surabaya (tamat 1976). Kenapa Surabaya? Waktu itu dia lebih senang merantau, jauh dari orangtua, supaya bisa mandiri. Dia ingin merasakan, seperti apa jauh dari orangtua.
Pada saat itu dia merasakan kesulitan setiap habis bulan, karena susah mendapat-kan uang. Namun Soemi-no punya pengalaman indekost di Solo. Di situ dia sudah belajar mandiri, misalnya memasak, membawa lauk dari rumah, mencuci dan pekerjaan rumahan lainnya. Dari rumah kost ke sekolah naik sepeda. Soemino satu-satunya anak lelaki dari empat bersaudara. Ketiga saudaranya perempuan.

Namun, itulah pilihannya, untuk lebih mandiri. Dia memilih Institut Teknologi 10 November Surabaya, bukan Universitas Gajah Mada, Jogjakarta, yang lebih dekat dari desanya. Situasi secara umum antara Surabaya dan Jogja jauh berbeda.
Di Surabaya orang-orangnya berani, tetapi orang-orang Jogja sopan santunnya luar biasa tingginya, sesama kawan saja memakai bahasa halus. Lain dengan Surabaya. Baru pertama kali bertemu, mereka sudah saling memaki dalam dialek Surabaya, bahasa keakraban.

Kepribadian Soemino ter-bentuk di Surabaya, akibat pergaulan dan komunikasi dan tata cara kehidupannya yang khas, dan berbeda dibandingkan dengan daerah-daerah Jawa lain.
Pertama kali ke Surabaya, tahun 1968, Soemino pusing juga. Dia punya kawan orang Surabaya asli, dialeknya yang khas dan akrab. Selama di Surabaya, dia mengalami banyak hal yang menyenangkan dan sebaliknya. Soemino menetap di Surabaya cukup lama, (7 tahun) sampai tahun 1975.
Ketika itu, dia sempat tidak aktif kuliah sekitar enam bulan. Tahun 1973, dia hampir drop out (gugur kuliah), akibat terlanjur senang karate. Dia kadang-kadang lupa kuliah karena asyik latihan karate.

Akhirnya, dia berpikir dan bertanya dalam diri sendiri: “Saya ke Suraba-ya belajar karate atau kuliah.” Dia sadar bahwa ke Surabaya bukan untuk karate, tapi untuk kuliah. Soemino segera sadar dan menyelesaikan kuliahnya tahun 1976, meraih gelar insinyur tehnik sipil, dengan menerima ikatan dinas pendidikan kereta api.

Lulus dari pendidikan, Soemino menjalani masa percobaan enam bulan di Bandung, tetapi dilaluinya hanya tiga bulan. Dia masuk Perjan Kereta Api tahun 1975, dan aktif tahun 1976. Dia mengawali karir di Surabaya, lalu ke Malang, Jember, Medan, Bandung, Padang sampai menjadi Direktur Utama. Setelah sempat tak punya jabatan di Departemen Perhubungan, dia pun di-percaya Menteri Perhubungan Hatta Rajasa menjabat Direktur Jenderal Perkeretaapian, tahun 2005, yang pertama.

Pria beranak dua ini memperoleh gelar S-2 bidang manajemen pemasaran di STIE-IPWI, Jakarta tahun 2000. Dia pun mengikuti sederet panjang latihan, kursus, kongres dan seminar tentang perkeretaapian di Jepang, Inggris, Prancis, Belanda, Australia, Austria, Amerika, Mexico, Malaysia dan Thailand.


Soemino menikah dengan RA Erna P tahun 1977 dan dikaruniai dua putra, Ferry Eko Ernanto dan Ricky Apriyanto yang masing-masing telah berusia 26 dan 22 tahun. ►mti/crs-sh-ri

Wednesday, 6 October 2004

Waego Hadi Nugroho: Anak Petani Sang Profesor Statistik

Dari: Publikasi Yayasan Supersemar (supersemar.or.id)
06/10/2004

Penampilannya sehari-hari tampak sederhana dan cenderung pendiam. Namun jika sudah bergelut dengan pelajaran atau pekerjaan, dinamika hidupnya demikian menyala. Semangatnya berkobar untuk meraih prestasi apik dalam hidup. Itulah Doktor Waego Hadi Nugroho, seorang mantan penerima beasiswa Supersemar yang sering diundang manca negara untuk tampil dalam forum-forum ilmiah kaliber internasional. Jabatan resminya adalah Kepala Pusat Komputer Universitas Brawijaya, Malang.

Masa Kecil hingga Mahasiswa
"Saya itu anak petani dan berasal dari desa. Sebelumnya nggak pernah membayangkan kalau akan bisa sekolah sampai selesai, apalagi hingga menempuh program doktor di luar negeri. Saya juga merasa tidak pandai, hanya karena tekun dan ada keberuntungan barangkali," tutur Dr. Waego mengawali penuturannya kepada Muhammad Zen. Gayanya memang selalu merendah, terkesan tak ingin menonjolkan diri. Waego lahir di desa Nimbang, Kabupaten Lamongan, pada 7 Desember 1953. la profil seorang yang ulet dan tabah. Anak terakhir dari dua bersaudara ini tamat sekolah dasar di desa asalnya. Pendidikan di SMP dan SMA dihayatinya di kota Lamongan. Lulus SMA pada akhir tahun 1972 dan awal tahun 1973 dia mulai memasuki dunia perguruan tinggi. Jurusan Ilmu Tanah pilihannya dan Universitas Brawijaya garba ilmiahnya.

Mendapat Beasiswa
Setahun setelah menyandang predikat mahasiswa, dia menggaet prestasi terbaik di fakultasnya dan dinobatkan sebagai Mahasiswa Teladan Tingkat Fakultas. Sejak itu dia dibebaskan dari kewajiban membayar uang kuliah sampai tahun terakhir kuliah. Tahun berikutnya, 1975, Waego memperoleh beasiswa dari Yayasan Supersemar sampai dengan tingkat terakhir (program S-1) dan ia lulus pada tahun 1977. Pertama kali mendapatkan beasiswa Supersemar, Waego menerima sepuluh ribu rupiah setiap bulan. "Sebagai anak petani dari desa, beasiswa sepuluh ribu sebulan itu besar sekali artinva. Apalagi saat itu saya bebas uang SPP, sehingga uang sepuluh ribu rupiah itu cukup untuk biaya kost, makan, dan beli buku-buku. Sejak mendapatkan beasiswa, saya tak lagi minta kiriman dari orang tua. Semua kebutuhan sudah tercukupi," lanjut Waego dengan antusias. Pria yang gemar kerja keras ini begitu bersyukur lantaran berkesempatan mendapat beasiswa Supersemar. Beasiswa Supersemar dirasakannya sebagai "angin segar" yang berhembus lembut membelai kehidupannya. Kehadiran beasiswa ini juga dirasakannya sebagai pemacu prestasi baginya. Tidak enak rasanya jika sudah dapat beasiswa, kok prestasinya melorot, katanya.

Cumlaude untuk Gelar Insinyur
Berkat kerja keras, sukses dalam studi pun diraihnya. Berdasarkan kurikulum yang ada, gelar insinyur pertanian itu dapat diraih paling cepat dalam tempo lima tahun. Kalau pun ada yang menyelesaikannya tepat dalam tempo lima tahun, itu tergolong langka. Namun Waego berhasil menggores sejarah baru di fakultasnya; ia lulus hanya dalam tempo empat setengah tahun dengan predikat cumlaude. Saat itu indeks prestasi yang diraihnya 3,98. Dari seluruh mata kuliah yang ditempuhnya, hanya satu mata kuliah yang mendapatkan nilai B; selebihnya mendapatkan nilai A. Suatu prestasi yang fantastik.

Menjadi Dosen
Usai wisuda pada tahun 1977, Waego diminta oleh pihak Unibraw untuk menjadi dosen. Namun saat itu dia tidak mengajar mata kuliah yang ada kaitannya dengan ilmu pertanian, melainkan mengajar mata kuliah statistik. Sebab, di Unibraw baru ada tiga dosen statistik waktu itu, yang dinilai masih kurang memadai jumlahnya. Apalagi diketahui bahwa kemampuan Waego dalam bidang statistik juga dapat diandalkan. Dari waktu ke waktu, karier Waego ini semakin mantap. Setahun setelah menjadi dosen, ia diberi kepercayaan sebagai Sekretaris Badan Perencanaan Perguruan Tinggi (BPPT) tingkat Unibraw. Tahun 1979 dia diangkat sebagai Kepala Bagian Statistik dan Registrasi Unibraw,

Belajar di Australia
Pada tahun 1981, Waego "hijrah" ke Australia, guna menekuni bidang statistik. Dia memperoleh beasiswa dari International Development Programme (IDP) yang berkantor pusat di Canberra, Australia, untuk belajar di "Negara Kanguru" selama lima tahun. Waego mengambil program doktor di Adelaide University Australia. Saat menjelang berangkat ke Australia, Waego kembali memperoleh bantuan dari Yayasan Supersemar sebanyak satu juta rupiah.
Menurut Waego peraturan yang berlaku pada universitas-universitas di Australia agak berbeda dengan yang berlaku di Indonesia. Di sana, setiap orang asing yang akan menempuh gelar doktor diwajibkan mengikuti semacam "program kualifikasi" selama dua tahun; tidak peduli dia sudah lulus master atau baru lulus sarjana. Seusai program kualifikasi, yang bersangkutan akan dievaluasi, lalu diputuskan apakah ia berhak menjadi kandidat doktor apa cukup di master, atau ... malah dipulangkan karena kualitasnya dianggap di bawah standar. "Waktu mengikuti program kualifikasi itu, aduh, sulitnya setengah mati. Hampir saja saya frustrasi.
Apalagi yang saya tempuh itu jurusan statistik, sedangkan ilmu yang saya tekuni sebelumnya adalah pertanian. Selama di Indonesia, saya belum pernah merasa kesulitan dalam menempuh pelajaran, dan baru sekali itulah saya benar-benar merasa susah sekali dalam mengikuti pelajaran," ungkap Waego berterus terang. Dihadang tantangan berat demikian, Waego ternyata tidak goyah. Pria ini tetap tegar dan berupaya keras. Dia makin tekun belajar dan belajar terus. Jika tidak tahu tentang suatu materi pelajaran misalnya, dia tak malu-malu bertanya kepada siapa saja yang dianggapnya lebih tahu. Di samping tambah giat dalam belajar, Waego juga semakin getol beribadah, mendekatkan diri kepada Tuhan. Salatnya bertambah khusyuk, doanya semakin maksyuk, dan puasa sunah Senin dan Kamis dia hayati. Berkat ketekunannya yang dibarengi dengan kekhusyukan beribadah, bayang-baypng keberhasilan mulai akrab lagi dengan Waego. "Dalam program kualifikasi tersebut, pada kuartal pertama saya mengambil lima mata kuliah. Alhamdulillah, dari lima itu semuanya saya dapatkan nilai A. Menyusul tugas menyusun dua buah makalah, dua-duanya juga memperoleh nilai A," kata Waego.
Prestasi Waego yang satu kuartal ini cukup mengagetkan pihak Adelaide University. Profesor yang membimbingnya pun angkat jempol untuk prestasi tersebut. Walhasil, Waego dibebaskan dari lima kuartal program kualifikasi berikutnya. Ia dinilai layak menjadi kandidat doktor. Maka, resmilah kini Waego menjalani pendidikan Program Doktor Adelaide University Australia.
Mengikuti program doktor di Negeri Kanguru bukanlah hal yang enteng. Waego harus belajar ekstra keras agar mampu meraih sukses. "Saya merasa agak kesulitan dalam bidang statistik, karena itu, saya mesti rajin belajar. Semangat belajar selalu berkobar dalam diri saya," tandas Waego yang gemar bermain tenis.

Ke Kampus Dinihari
Dalam hal semangat belajar, Waego memang pantas mendapat acungan jempol. Dalam mengerjakan tugas-tugas penelitian misalnya, yang pengerjaannya mesti dengan komputer di kampus, dia melakukannya sejak pukul empat dinihari. Di saat orang-orang masih tertidur lelap, Waego pergi ke kampus. Kendati cuaca dinihari di Australia demikian dingin menggigit kulit, Waego tetap bersemangat menapakkan kaki ke kampus guna mengerjakan berkas-berkas penelitian. Mengapa mesti dikerjakan pagi-pagi, Bung? "Soalnya kalau saya kerjakan pada jam kerja, prosesnya bisa lama sekali. Komputer di kampus itu, menggunakan sistem sentral, pada jam-jam kerja responnya lambat, sebab banyak yang menggunakan," kilah Waego. Waego, yang sempat pula menjadi pembantu editor Majalah SABRAO (Society of Advance Breeding for Asia Oceania), melakukan penelitian tentang pengembangan model statistik dengan menggunakan teknik komputer, untuk mempersiapkan disertasinya. Tujuan penelitiannya yaitu untuk mengembangkan model atau pola yang paling tepat untuk seorang peneliti. Penelitian dilakukan di Indonesia pada pertengahan tahun 1982, dengan mengambil data dari berbagai lembaga penelitian yang ada di Indonesia.

Dua Tahun Saja
Program Doktor di Adelaide University Australia rata-rata diselesaikan dalam waktu 3 atau 4 tahun. Universitas bergengsi di Benua Kanguru ini menerapkan peraturan yang begitu ketat. Untuk dapat menggondol gelar doktor, di samping diuji oleh para guru besar setempat, juga mesti lulus dari ujian yang dilakukan oleh para guru besar yang masuk kategori paling ahli di tingkat internasional. Saat promosi doktor, Waego diuji oleh 4 guru besar handal; dua dari Australia, selebihnya Prof. Patterson HD dari Eddinburg University (Inggris) dan Prof. Eederer WT dari North Carolina University (Amerika Serikat). Hasilnya? Sangat menggembirakan. Kendati ketentuan program doktor di universitas tersebut begitu ketat, Waego mampu merampungkannya dalam tempo 2 tahun. Suatu prestasi yang jarang sekali terjadi di universitas ini. Apa lagi disertasi tersebut menyangkut bidang statistik, yang selama ini sering dianggap "momok" bagi kebanyakan orang.

Anak dan Istri Pemacu Semangat
Saat berada di Australia, Waego didampingi oleh istri (Ny. Ir. Ludji Pantja Astuti) dan anak pertamanya (Donny Yunamawan). Di Australia pulalah anak keduanya, Donna Dwinita Adelia, lahir. Mereka inilah yang memacu semangat Waego, sehingga senantiasa tegar dalam menghadapi setiap kesulitan dan sukses menggapai prestasi.
Setelah berhasil meraih gelar doktor pada tahun 1984, Waego bersama istri dan anaknya pulang ke Indonesia. la kembali menjadi dosen di Universitas Brawijaya, Malang. Setahun kemudian, dia diangkat sebagai Sekretaris Program Pascasarjana di universitasnya, dan sejak 1986 hingga kini Waego menjabat Kepala Pusat Komputer Universitas Brawijaya. Pusat komputer yang dipimpinnya ini, pada tahun 1988 mendapat bantuan 50 unit komputer dari Yayasan Supersemar.
Begitu memantapkan diri sebagai doktor di bidang statistik, Waego mulai banyak dikenal oleh kalangan masyarakat internasional. Pesanan untuk melakukan proyek penelitian pun mengalir dari berbagai negara; termasuk dari Amerika, Swedia, Australia, Jepang, juga dari Indonesia sendiri. Waego juga kerap kali diundang untuk tampil di berbagai penjuru dunia guna membawakan makalah, terutama yang berkaitan dengan masalah statistik.

Rahasia Sukses
Apa rahasia kesuksesannya? "Sederhana saja sebetulnya. Saya ini tidak begitu pandai, tetapi tekun dan ulet dalam mencapai cita-cita. Di samping itu, sebagai umat beragama, saya senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan tekun beribadah. Sejak kuliah di tingkat pertama Fakultas Pertanian Unibraw hingga kini, saya melakukan shalat tahajud," tutur Dr. Waego. (M. Zen.-)

Friday, 15 August 2003

Ika Rahmatina: Anak Petani Pemenang Lomba Penelitian Ilmiah

Dari: Kompas 15/08/2003

Judul Asli: Anak Petani Itu Memenangi LPIR

KETIKA Ketua Dewan Juri Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) Prof Dr Mien Ahmad Rifai menyebut namanya sebagai pemenang pertama, hadirin harus menunggu sekitar enam menit untuk bisa melihat wajah si pemilik nama.

Lama ditunggu, gadis itu tak segera berdiri, seperti empat pemenang sebelumnya. Ternyata, begitu namanya disebut, Ika Rahmatina langsung menundukkan kepalanya ke pangkuan hingga bermenit-menit. Terang saja hadirin tak bisa melihat Ika yang malam itu duduk di kursi barisan belakang.

"Tadi saya menangis. Tidak menyangka menang. Senang sekali rasanya," tutur Ika.

Gadis dengan tinggi badan 155 sentimeter tersebut membutuhkan waktu beberapa menit untuk menenangkan diri dan maju ke hadapan hadirin. Ketika ia sudah siap tampil, sejumlah kawan sesama finalis pun kemudian menyalaminya. Bahkan, ahli komunikasi Prof Dr Astrid S Susanto dan ekonom Dra Endang Sih Prapti MA memeluk tubuhnya.

Kepolosan dan kemampuan Ika mampu merebut hati para juri yang berasal dari bidang kesehatan, ekonomi, fisika, bahasa, biologi, sejarah, dan komunikasi. Ia dengan lancar menguraikan hasil penelitiannya. "Saya agak bingung karena juri tertawa mendengar jawaban saya. Apa karena saya lucu atau jawabannya salah. Ternyata saya menang," tuturnya.

Tentu saja uraian Ika terdengar lucu. Betapa tidak, gadis itu baru berusia 15 tahun. Sehari-hari hidup di Desa Kenep, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Namun, saat berbicara soal alat kontrasepsi alternatif yang menjadi tema penelitiannya, ia terlihat begitu lancar menjelaskannya. Padahal, di sisi lain, sifat kekanakannya masih terlihat kental. Saat ia tengah bersemangat menjelaskan hasil temuannya, tiba-tiba ia berhenti lalu keluar ucapan spontan dari bibirnya. "Aduh, saya capek ngomong terus."

RASA ingin tahu yang cukup besar telah membawa kemenangan bagi Ika, anak keempat dari lima bersaudara keluarga petani dari desa sekitar 25 kilometer dari kota Bojonegoro itu. Di sana, kebanyakan anak gadis mengikuti pendidikan di pesantren, dan ketika pulang kampung biasanya mereka menikah.

Dari pergaulan dengan wanita tetangganya, Ika, yang saat itu meneliti biji tanaman jarak (Ricinus communis L) masih duduk di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 2 Balen. Ia mendengar cerita, tetangganya yang sudah menikah minum air biji jarak untuk menunda kehamilan.

"Saya penasaran. Mereka sendiri tidak tahu mengapa begitu. Pokoknya, ajaran itu katanya didapat waktu di pondok (pesantren-Red)," tutur Ika yang baru pertama kali bertanding di tingkat nasional. Apa yang terjadi atas tetangganya ia bawa ke kelompok ilmiah remaja (KIR) di sekolahnya. Ternyata pada beberapa buku diperoleh keterangan bahwa biji jarak memang mengandung zat ricin yang dapat mempengaruhi sintesa protein dan ADN.

Maka, penelitian dilakukannya dua tahun lalu, selama dua bulan dua minggu. Biji jarak yang banyak di desanya ia kupas, kemudian ditumbuk dan diambil sarinya serta dicampur air. Sari biji jarak ini kemudian diujicobakan pada mencit.

Kelompok pertama sebagai kontrol tidak diberi perlakuan. Kelompok kedua diberi 0,5 gram biji jarak halus selama empat hari, kelompok ketiga diberi 0,1 gram juga selama empat hari.

Hasilnya, mencit yang mendapat 0,5 gram serbuk jarak masa kehamilannya mundur enam hari. Saat melahirkan pun jumlah anaknya berkurang jadi rata-rata tujuh ekor. Pada mencit tanpa perlakuan masa kehamilannya rata-rata 21 hari dengan jumlah anak rata-rata 10 ekor per kelahiran.

Pada kelompok ketiga dengan 0,1 gram serbuk jarak masa kehamilannya mundur 17 hari dari masa hamil normal. Anak yang dilahirkan rata-rata hanya lima ekor.

"Jadi, mengapa tetangga saya tidak segera hamil? Itu karena ia minum air biji jarak yang mengandung ricin," katanya menjelaskan.

Akan tetapi, Ika belum tahu ricin mengandung zat apa. Rochim, mantan guru pembimbingnya saat ia meneliti, menyatakan bahwa sarana laboratorium di sekolahnya masih terbatas. Penelitian lebih lanjut harus dilakukan di laboratorium yang lebih lengkap.

Sebagai pemenang pertama, Ika bersama pemenang kedua, Ekasari Maulidia Rahma (15) dari SLTPN 1 Malang dan pemenang ketiga, Keke Viernia (17) dari SMU Negeri Sungailiat Kabupaten Bangka, Bangka Belitung, selain mendapat hadiah uang, juga mendapat tiket gratis masuk Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Mau masuk fakultas apa? "Belum tahu, nanti saja kalau sudah mau lulus SMA," kata Ika yang kini belajar di SMU Negeri 1 Sumberejo, Balen, Bojonegoro. Bila nanti ia menjadi mahasiswa, maka dialah anak pertama dalam keluarganya yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

PENELITIAN peserta LPIR, menurut juri sangat membanggakan. Apalagi sebagian dari 30 finalis (disaring dari 349 peserta dari 22 provinsi dan Sekolah Indonesia di Jeddah) merupakan peneliti yang masih duduk di SLTP. "Coba lihat, sebagian besar finalis justru datang dari kabupaten atau kota. Tak lagi didominasi peserta dari kota provinsi," ujar Astrid S Susanto.

Menurut Astrid, kemenangan siswa SLTP merupakan tanda dari daerah akan muncul ilmuwan muda potensial yang masih hirau pada lingkungannya.

Ia menunjuk karya yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Eka dari Malang membuat saklar otomatis yang menjadi alat kebutuhan masyarakat saat ini. Umul Wahyuni Jamilah Darojat, siswa Madrasah Aliyah 3 Kediri, Jawa Timur, membuat ampas tebu dari pabrik gula menjadi briket yang ekonomis. Shaum Shiyan, satu-satunya lelaki yang jadi pemenang kali ini (siswa SMUN 6 Yogyakarta) menjadikan tempe empuk bak daging.

Anak-anak itu sudah menunjukkan mampu menemukan sesuatu yang berguna. Karena itu, jangan sampai keberhasilan itu berhenti seperti tahun-tahun lalu, ketika para pemenang LPIR dibiarkan begitu saja. Astrid berharap, Direktorat Pendidikan Menengah Umum Departemen Pendidikan Nasional bersedia menghubungkan para peneliti dengan industri yang bersedia memakai temuan mereka. Tidak ada salahnya pula kalau karya mereka diupayakan mendapat hak paten. Semoga dengan cara itu gairah meneliti generasi muda bangsa ini lebih terpacu. (SOELASTRI SOEKIRNO)

Friday, 15 September 2000

Bismar Siregar: Anak Petani Jadi Hakim Agung


Dari: Biografi Tokoh Indonesia (tokohindonesia.com)

Bismar mensyukuri perjalanan hidup, tidak tamat SD dan SMP, tetapi menyandang gelar yang cukup bergengsi di bidang hukum. Dia besar di kalangan keluarga miskin, tetapi bisa menduduki posisi cukup tinggi di bidang hukum. Dia anak desa dan lama hidup di desa, tetapi bisa melanglang buana. Bismar bahagia sebagai muslim dan orang Batak, karena menyandang marga Siregar. Bismar bahagia karena pernah menjadi hakim.

Bismar merekam memori kehidupan di masa kecil dan
mudanya di kampung di dalam sebuah buku, diberinya judul: Aku Anak Petani. Bahkan, Bismar tak malu menyebut dirinya lahir dari keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Perjalanan hidup Bismar Siregar kecil yang lahir di Desa Baringin, Sipirok, Tapanuli Selatan, 15 September 1928, terbelenggu oleh kemiskinan. Ayahnya, Aminuddin Raja Baringin Siregar seorang guru sekolah rakyat (SR) desa.

Sedangkan ibunya, Siti Fatimah, seorang ibu rumah tangga biasa yang harus membesarkan 13 orang anak. Karena itu, Bismar menghabiskan masa mudanya di Mandailing, Sumatra Utara, membantu ayahnya yang merangkap jadi petani. Mandailing adalah satu dari sedikit daerah di Indonesia yang tidak pernah diduduki oleh Belanda. Kenyataan ini, sikap anti penjajah menempa jiwa dan semangatnya menjadi seorang republiken.

Bahkan, Bismar tak malu menyebut dirinya lahir dari keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ayahnya mewariskan catatan bahwa keluarganya pernah makan nasi hanya sekali sehari ditambah ubi rebus malam hari. Sewaktu membaca catatan tersebut, Bismar merenung sejenak, dan menemukan jatidirinya. Tuhan seakan berkata kepadanya: “Tidak percuma engkau bisa membaca catatan ayahmu supaya engkau lebih merasakan bahwa sejak usia enam bulan engkau sudah bernasib sepedih itu. Adakah engkau mengenal sekitarmu? Sungguh banyak orang sekarang ini yang lebih parah daripada hidupmu dahulu. Kalau dulu masih makan nasi sekali, ubi sekali, sekarang, nasi tidak bisa dimakan saban hari. Adakah engkau tidak merasakan yang sedemikin itu?”

Semiskin apapun perjalanan hidupnya dahulu, sampai tidak bisa menamatkan sekolah rakyat (HIS), Bismar tetap menyukurinya. Dia tidak mampu masuk sekolah lanjutan pertama, meskipun teman-temannya sudah masuk SMP, lantaran keluarganya sangat miskin. Maka dia bertahan menjadi anak desa yang tidak mengenyam bangku sekolah lanjutan. Bismar bukan sembarang anak desa. Tetapi anak desa yang membuka hutan untuk dijadikan sawah. Bersama orangtuanya, Bismar tidur di tengah persawahan, mendengarkan nyanyian jangkrik. Dia merasakan nikmat sekali. Sampai sekarang pun Bismar masih merasakannya, dan menangis di saat mengenangnya.

Keluarga Bismar memetik hikmahnya. Berjuang keras di jalan kehidupan seperti itu namun tidak sesulit sekarang untuk mencari makan. Bismar merekam memori kehidupan di masa kecil dan mudanya di kampung di dalam sebuah buku, diberinya judul: Aku Anak Petani.

Kenapa Bismar terdorong menulisnya dalam bentuk buku? Karena dia melihat perlakuan dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap petani. Harga gabah dipatok sedemikian rendah, sementara harga pupuk dipatok sedemikian tinggi. Petani ribut dan demo, masa bodoh. Semua mengatakan, “itu bukan urusanku.”

Tulis Bismar dalam bukunya yang juga diulangi dalam percakapan dengan Wartawan Tokoh Indonesia: “Mungkin saja mereka merasa bukan anak petani. Mereka telah berbohong terhadap diri mereka sendiri. Kalau bukan ayahnya yang petani, kakeknya yang petani.” Namun Bismar, bukan hanya ayah atau kakeknya yang petani, dia sendiri petani. Dia merasakan dan menikmati menjadi seorang petani. Ketika berada di tengah sawah, kehujanan dan kepanasan, dia merasa senang dan bahagia menunggu sampai panen selesai. Bismar merasakan nikmatnya melihat padi yang tumbuh, kemudian mulai boltok (istilah di Tapanuli) berbuah. Hidup di kampung, memiliki hasil panen cukup untuk makan setahun sudah bersyukur. Itu waktu dulu. Tapi sekarang tidak berlaku lagi. Karena lahan-lahan sudah dibagi kepada para ahli waris. Sawah terbagi-bagi semakin sempit.

Bismar mempertanyakan: “Salahkah kalau anak-anak desa harus meninggalkan kampung mereka untuk mencari nafkah di kota?” Pertanyaan ini dijawabnya dengan kenyataan, misalnya, warga Siborong-borong yang meninggalkan desa mereka karena memang tidak bisa lagi hidup di situ. Harga hasil pertanian tidak dapat lagi diandalkan. Bismar masih bertanya, “kenapa pemerintah tidak memikirkan nasib petani?”. Kalau petani diperhatikan, mereka tidak datang ke kota, menjadi supir bus, pedagang asongan atau pedagang kali lima yang sering menimbulkan masalah. Mereka dikejar-kejar aparat Trantib, seterusnya untuk diperas dan diperas lagi.

“Karena itu makmurkan para petani,” kata Bismar. Kapankah Indonesia memberikan kedudukan terhormat kepada para petani, dari mana kebanyakan petinggi negara berasal? Kata Bismar, pengabaian dan kesalahan kepada para petani perlu diakhiri, supaya semua orang cinta pada pertanian. Dulu Bismar bangga membawakan makanan untuk ayahnya yang sedang bekerja di sawah. Sekarang, katanya, mana lagi ada anak yang mau begitu. Secara tidak sadar tatanan yang diwariskan nenek moyang telah dirusak sendiri.

Karena itu, Bismar kembali mengetok pintu hati nurani mereka yang diberikan amanah jabatan oleh Yang Maha Kuasa. Ingatlah, amanah dan jabatan itu sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Setiap orang tidak bisa lepas dari pertanggungjawaban. Kepada SBY pun, sewaktu Pilpres, Bismar bilang, “engkau imam yang harus bertanggungjawab terhadap lingkunganmu.” SBY sekarang menjadi imam untuk bangsa ini.

Pendidikan
Perjalanan pendidikan Bismar tergolong unik. Tahun 1942, ketika Bismar akan menempuh ujian sekolah dasar di kelas tujuh HIS (Hollands Inlandsche School), Jepang masuk. Kekacauan yang timbul karena gejolak pergantian penjajah, membuat Bismar tidak menempuh ujian akhir, dan pendidikannya praktis terhenti. Bismar muda hidup di kampung selama delapan tahun tanpa duduk di bangku sekolah. Tahun 1950, dia merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Ironis. Bismar yang tidak tamat sekolah dasar, malah dibawa abangnya ke Magelang untuk melanjutkan sekolah di SMA Pejuang, sebuah sekolah lanjutan khusus bagi para pejuang kemerdekaan.

Bismar seperti memakan buah simalakama. Mau masuk SMA, ijazah SD pun tidak punya, mau duduk di bangku SMP usianya sudah kadaluwarsa. Berkat bujukan si abang, Bismar memberanikan diri untuk mendaftar ke SMA Pejuang. Caranya, dia mengubah tanggal kelahirannya dari 15 September 1928 menjadi 15 November 1930. Sampai sekarang yang tercantum di ijazahnya, tanggal kelahiran terakhir.

Setelah masuk SMA, Bismar menghadapi kendala lain. Dia sangat takut pada mata pelajaran Aljabar, sebab mata pelajaran itu tidak pernah dia pelajari sebelumnya. Bayangkan, dia harus bersaing dengan kawan-kawannya yang sudah biasa mendapat mata pelajaran Aljabar. Bismar benar-benar mengalami kesulitan. Beruntung, hasil ujian akhir Bismar untuk mata pelajaran tersebut adalah nilai 5. “Tapi tidak jadi masalah karena itulah kekurangan saya,” kenang Bismar.
Soal perbedaan versi tanggal kelahiranya pernah menjadi perdebatan media massa ibukota sewaktu Bismar menduduki posisi hakim agung. Ada yang memberita-kan, mestinya Bismar sudah pensiun. Namun Bismar tidak pernah gentar meskipun memiliki dua tanggal kelahiran yang berbe-da, apalagi alasannya cukup logis.

Bismar menamatkan SMA di Bandung tahun 1952. Kemudian melanjutkan studi di Fakultas Hukum UI Jakarta. Bismar meraih gelar sarjana hukum dalam tempo 4 tahun. “Ini sesuai dengan amanat orang tua saya,” kata Bismar. Memang sejak kanak-kanak, ayahnya selalu mengharapkan Bismar menjadi Meester in de Rechten (Mr). Dalam hidup Bismar Itulah saat-saat yang paling membanggakan dan membahagiakan.
Perihal memperdalam ilmu hukum, Bismar tidak berhenti sampai di situ. Kehausan menuntut ilmu dilanjutkannya dengan menempuh pendidikan di luar negeri, antara lain, di Unversity of Nevada (1973), University of Alabama, Tooscaloosa (1973), University of Texas di Dallas (1979), dan Rijks-Universiteit di Utrecht (1990).

Dalam usianya yang beranjak tua, Bismar merasa sedih karena saat ini tidak bisa berbuat, hanya bisa menyaksikan penderitaan yang dialami rakyat. Yang bisa dilakukannya, hanya menulis, menulis dan terus menulis. Namun, di dalam hidupnya sampai saat ini, Bismar tidak pernah berhenti membaca dan menulis. Bismar meneladani apa yang disabdakan Nabi Muhammad SAW: “Tinta seorang pandai lebih suci daripada darah seorang syuhada.’’ Menjalani hari-hari tuanya, Bismar mengekspresikan keahlian melukis di rumahnya yang luas di Cilandak, Jakarta. Juga dia tidak lupa berenang dan jogging (jalan) pagi setiap hari. ►mti/sh-crs-ar