Sunday, 27 January 2008

Pak Harto: Anak Petani Yang Sukses


Extract dari: Damandiri.or.id

Tak kenal maka tak sayang. Apa, siapa dan hagaimanakah Pak Harto, memang harus dikemukakan. Paling tidak, bagi generasi muda bangsa ini termasuk juga para mahasiswa perlu mengetahui bagaimana riwayat hidup dan perjalanan karir seorang pemimpin seperti Pak Harto.

Jenderal MEI Pumawirawan H.M Soeharto atau Pak Harto adalah Presiden Republik Indonesia yang ke dua. Lahir di desa Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 1921 dari pasangan Kercosudiro (ayah) dan Sukirab (ibu). Pak Harto dari keluarga petani miskin, yang kedua orang tuanya bercerai. Kemudian, ia dititipkan kepada bulik dan pamannya, Prawirodihardjo, yang adalah seorang pegawai mantri tani di kawedanan Wuryantoro. Pak Harto di sekolahkan dan dibesarkan bersama dengan saudarasaudaranya, putra Pak Prawirodibardjo.

Sewaktu masih di Kemusuk, sebagaimana juga anak-anak desa lainnya, Pak Harto kecil sangat senang bermain disawah. Ia pandai menangkap belut dan rak pemah melewatkan kesempatan meneicipi nikmatnya belut panggang. Permainan kesukaannya di masa kanak-kanak ialah plinteng dan bandil, bikinannya sendiri.

Karena ia lahir dari keluarga petani, maka perhatiannya kepada para petani dan desa tidak perlu diragukan. Kendati Pak Harto menjadi pemimpin tertinggi atau orang nomor satu di Indonesia ketika itu, Pak Harto tidak pemah lupa pada rakyatnya - rakyat kecil yang sebagian besar adalah petani. Hal ini dapat dibuktikan dengan berbagai kegiatan yang selalu dilaksanakan lebih berorientasikan kepada pembangunan di sektor pertanian, termasuk juga upaya mensejahterakan para petani.

Pak Harto tetap mempunyai komitmen kuat terhadap kehidupan rakyat banyak. Ia sangat dekat dengan petani. Misalnya, di tengah kesibukannya yang padat dan melelahkan, Pak Harto masih sempat melakukan kunjungan ke daerah-daerah, melakukan tradisi tatap muka sambil melakukan dialog dengan rakyat kecil seperti petani. Salah satunya melalui kelompecapir, sebuah kegiatan berupa tanya jawab dengan petani yang rutin dilakukan Pak Harto. Disini tampak Pak Harto sangat menguasai masalah disamping ia sangat senang dan menikmati dialog dan pertemuan dengan para petani itu.

Rasanya kebiasaan Pak Harto melakukan tatap muka langsung dengan rakyat, khususnya para petani di pedesaan, setiap kunjungan ke daerah merupakan keteladanan yang sangat menarik. Sangat positif bagi penerus bangsa generasi muda. Kita diingatkan dengan mata terbuka, bahwa rakyat kecil tetap merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan berbangsa, bemegara dan bermasyarakat. Mereka tetap mempunyai eksistensi, mempunyai peranan serta menjadi bagian dari bangsa kita yang perlu memperoleh sentuhan perhatian langsung.

Memang berbagai tugas yang dijalankan Pak Harto ketika menjabat sebagai Presiden sungguh sangat berat, namun karena ia begitu meneintai petani, maka Pak Harto tetap ringan menjalankannya. Itu karena Pak Harto sangat meneintai rakyat, yang antara lain adalah para petani Indonesia. Tak hanya itu, kepribadian Pak Harto yang merakyat juga tampak dari berbagai aktifitas dan kegiatannya selama ia menjadi Presiden
.

Wednesday, 7 November 2007

Chairunnisya: Anak Petani Berlaga di Dunia Internasional

Dari Pontianak Post 07/11/2007

Pontianak,- Sumber daya manusia Kalimantan Barat tidak kalah dengan propinsi lainnya. Kali ini, seorang anak petani Sungai Kakap akan berlaga di Jepang membawa nama Kalbar dan Indonesia. Dengan penuh percaya diri bersaing dengan pelajar dari negara lain yang lebih maju di bidang otomotif.

Chairunnisya, Pontianak

Pemuda berusia 20 tahun ini tampak sederhana. Tak banyak bicara. Hanya tersenyum saat mendengar orang bicara. Dengan ramah dia memperkenalkan diri. “Nama saya Sunaryo,” ujarnya saat ditemui wartawan di SMKN 4 Pontianak, yang terletak di Jalan Komyos Sudarso Pontianak.

Dibalik kesederhanaan Sunaryo, tersimpan prestasi yang membanggakan. Dia berhasil menjadi wakil Indonesia untuk bersaing dengan negara lain di bidang otomotif. Hari ini, Rabu (7/10), Sunaryo berangkat dan berjuang mengharumkan nama Kalbar dan Indonesia. Sunaryo akan mengikuti World Skill Competition di Jepang.

Sunaryo merupakan lulusan SMKN 4 Pontianak tahun lalu. Pada 2006, Sunaryo mengikuti lomba otomotif di tingkat kota. Ternyata, dia berhasil menang dan membawa nama Kalbar di tingkat nasional. Di tingkat nasional, Sunaryo berhasil mengalahkan pelajar dari propinsi lain.

Setahun kemudian, Senin (5/10) kemarin, Kepala Sekolah SMKN 4 Pontianak, Gunawan menerima telepon dari Direktorat Pendidikan di Jakarta, yang mengabarkan bahwa Sunaryo akan mewakili Indonesia untuk mengikuti World Skill Competition di Jepang. Akhirnya pihak sekolah pun berusaha menghubungi Sunaryo yang telah lulus dan mempersiapkan akomodasi keberangkatan Sunaryo.

Sunaryo mengaku senang dunia otomotif sejak berusia delapan tahun. Ketika itu, dia hanya bisa memperbaiki mobil-mobilan saja, karena ayahnya, Manto hanya bekerja sebagai petani. Ibunya, Tugiyem hanya seorang ibu rumah tangga saja.

Sunaryo menghabiskan masa kecilnya di Desa Sungai Kakap Kabupaten Pontianak. Dia bersekolah di SDN 021 Parit Keladi dan melanjutkan sekolahnya di SMPN 2 Sungai Kakap. Saat ada waktu senggang, dia membantu orangtuanya bertani di sawah.

Saat ditanya cita-citanya saat kecil, Sunaryo menjawab dengan singkat. Bungsu dari lima bersaudara ini hanya ingin membahagiakan orangtuanya saja.

“Sejak kecil saya hanya ingin membahagiakan orangtua saya saja. Mudah-mudahan apa yang saya lakukan sekarang, orangtua saya merasa bahagia. Saya sangat senang bisa berangkat ke Jepang. Grogi pasti ada lah,” ujar Sunaryo.

Kepala Sekolah SMKN 4 Pontianak, Gunawan menuturkan sebelum berangkat ke Jepang, Sunaryo telah mendapatkan pelatihan selama 1,5 bulan di Jawa. Biaya akomodasi Gunawan ini diperoleh dari kepala sekolah, karena saat menghubungi Dinas Pendidikan Kalbar, mereka mengaku tidak mempunyai dana.

“Saat mendapatkan kabar dari Jakarta, saya langsung menghubungi Kepala Sekolah SMK lain untuk meminta bantuan dana akomodasi ke Jakarta. Alhamdulillah beberapa kepala sekolah mau membantu,” ujar Gunawan.

Gunawan juga mengucapkan terima kasih kepada pihak imigrasi yang memberikan segala kemudahan dalam pengurusan paspor. Disamping itu, mereka juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Kota Pontianak, yang juga memberikan bantuan dan dorongan. Bahkan, Walikota Pontianak, Dr Buchary A Rahman juga telah menemui Sunaryo dan memberikan semangat.

“Mudah-mudahan Sunaryo bisa berhasil di tingkat dunia,” harap Gunawan. (*)

Friday, 23 March 2007

Dwi Susanto: Kisah Anak Petani Lulus Cumlaude, Lulus Kuliah Berkat Ibu Angkat Dari Amerika

Dari Surya Online
Friday, 23 March 2007 Surabaya

Nasib pasti bisa diubah. Ini juga yang diyakini Dwi Susanto, 23, anak petani asal Ponorogo ini tak menyangka perkenalannya dengan orang Amerika akhirnya bisa mengantarkannya merengkuh ijazah D3 Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS. Apalagi dengan prestasi yang di atas rata-rata.

Wajah Dwi Susanto, Jumat (23/3) terlihat sangat ceria. Bibirnya terus komat-kamit. Seraya memejamkan mata, dia menengadahkan tangan menyusap wajahnya. Sejurus kemudian, dengan spontan bibirnya mengucap kalimat, ”Alhamdulillah ... terimakasih Mimi,”.

Seakan tak puas hanya sekali mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan YME, Dwi (demikian dia biasa disapa, Red) mengulang-ulang kalimat itu sebelum mengakhirinya dengan sujud syukur.
Kegembiraan tak terkira pemuda kelahiran Ponorogo, 3 Agustus 1983 tersebut beralasan.

ia tak menyangka perkenalannya dengan Mimi Anzel, warga negara Amerika Serikat yang dikenalnya di Jogjakarta, 2002 lalu telah mengantarkannya merengkuh status sarjana. Meski hanya D3. “Jangankan lulus D3, wong sebelumnya bisa lulus SMK saja sudah alhamdulillah,” ujarnya.
Ceritanya, tahun 2002, sebelum lulus dari SMK Negeri I Jenangan Ponorogo Jurusan Bangunan Gedung, ia yang ikut kursus bahasa Inggris di sekolahnya mengikuti outing program di Jogyakarta. Di Kota Gudeg inilah Dwi berkenalan dengan seorang turis dari Amerika bernama Mimi Anzel. Setelah perkenalan itu, Dwi dan Mimi terus intensif berhubungan lewat email.

Karena berasal dari keluarga kurang mampu, Dwi berharap setelah lulus SMK bisa langsung bekerja. Ternyata keinginannya terkabul, dia akhirnya diterima untuk mengajar di sebuah madrasah yang ada di kampungnya.

Sambil menunggu pekerjaan yang mapan, Dwi memutuskan melanjutkan kuliah ke Community College D1 jurusan Teknologi Informasi di Ponorogo - program kerja sama Pemkab Ponorogo dengan Direktorat Pendidikan Menengah dan Kejuruan Depdiknas. “Program ini cocok bagi mereka yang kurang mampu tapi ingin kuliah. Selain biayanya murah, tempatnya juga dekat rumah dan bisa disambi kerja,” tukas Dwi.

Setelah menamatkan program CC, Dwi mendapat kesempatan melanjutkan kuliah di Program D3 PENS-ITS setelah coba-coba mengikuti seleksi. Setelah dinyatakan diterima, Dwi malah bingung karena berpikir pasti tak akan mampu menanggung beban biaya yang besar untuk kuliah di ITS. “Akhirnya waktu itu, saya hanya bisa pasrah,” imbuhnya sambil matanya menerawang jauh.

Tapi ternyata takdir berkehendak lain. Di saat kegundahannya, saat acara Suroan tahun 2004 digelar di Ponorogo bersamaan dengan peringatan HUT Ponorogo, Mimi Anzel menyatakan mau datang.
Kehadiran Mimi ke kota Reog ternyata berkah bagi Dwi. Tanpa disangka-sangka, wanita asal Negeri Paman Sam tersebut menyatakan akan membiayai semua biaya kuliah Dwi. Mulai saat itulah Dwi menganggap Mimi sebagai ibu angkatnya. “Sungguh, kejadian waktu adalah berkah tak terhingga bagi saya,” tukas Dwi.

Setelah beberapa tahun berkutat pada diktat mata kuliah, akhirnya Sabtu (24/3) hari ini, putra pasangan Sukirman dan Amirah ini diwisuda. Rasa syukurnya semakin menjadi-jadi setelah dia dinyatakan lulus cumlaude di antara 1.461 wisudawan ITS dan menjadi salah satu mahasiswa asal Program CC yang berhak mengikuti program magang di Amerika Serikat.

Rasa suka-cita tersebut semakin lengkap, setelah Dwi mendapat kepastian, orang yang membiayai kuliahnya akan menghadiri wisudanya secara langsung di Graha Sepuluh Nopember ITS.
“Tuhan memang maha kuasa. Kuliah dibiayai orang Amerika. Dan setelah lulus, diberi kesempatan ke Amerika,” tandas Dwi sambil menyucap syukur lagi.

Tuesday, 9 January 2007

Kuwadiyanto: Anak Petani Sang Guru Teladan

Dari Direktorat tenaga kependidikan (tendik.org)
09/01/2007

“Sekolah adalah rumah kedua bagi saya“, ujar Kuwadiyanto M.Pd, Kepala Sekolah SDN Menteng 01 Pagi. Karena menganggap sekolah sebagai rumahnya, maka Kuwadiyanto senantiasa memperlakukan sekolahnya sebagai harta milik yang harus dipelihara. “ hal penting yang harus diperhatikan adalah memelihara kenyamanan rumah, supaya mendukung produktivitas kerja untuk mencapai seluruh target cita-cita hidup”, katanya, bertamsil.

Kuwadiyanto senantiasa terus menerus berkarya untuk memoles sekolahnya supaya mencapai target prestasi yang diharapkan. Ia mengaku senang bekerja dan terbiasa bekerja keras sejak kecil. Sebagai seorang anak yang dibesarkan di keluarga petani, ia merasa tak punya mimpi yang terlalu muluk.

Kuwadiyanto lahir di Desa Pakem, sebuah desa di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Sebagai anak petani yang sederhana, ia tumbuh dengan pikiran-pikiran yang sederhana saja. “saya tak menuntut kondisi hidup yang aneh-aneh”.tuturnya, sejak kecil ia sudah terbiasa bekerja keras. Sebagai anak petani yang seadanya, di luar jam sekolah kuwadiyanto harus ikut membantu orangtuanya kerja di sawah.

“Pagi sekolah, sorenya ikut membantu ayah mengelola sawah”, kenangnya. Namun di antara kesederhanaannya, Kuwadiyanto punya cita-cita. Sejak belajar di Sekolah Dasar, ia bercita-cita menjadi Guru. Karena itu begitu lulus SMP, ia langsung melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Ia berpikir, kalau pun tidak jadi guru, dengan masuk SPG ia akan mendapatkan ilmu untuk mendidik anak-anaknya kelak.

Setelah lulus dari SPG, tahun 1977, kuwadiyanto hijrah ke Jakarta untuk mengadu nasib. Kemudian, ia di terima sebagai pengajar di SD Ratih, di kawasan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Inilah awal karirnya sebagai sebagai Guru. Gajinya kaloa itu Rp 21.000 per bulan. “ Jumlahnya lumayan besar waktu itu. Karena ini kan sekolah swasta. Kalau sekolah negeri, saat itu hanya dapat gaji Rp 16.000”, tutur kuwadiyanto.

Setelah hampir dua tahun mengajar di SD Ratih, Kuwadiyanto kemudian bekerja ke SD negeri Kebon Sirih 01 Jakarta, sejak tahun 1979 hingga 1997. setelah itu, pada 1997 ia mengabdi di SDN menteng 01 Pagi, berkat dedikasinya, dalam kurun tahun 1996 hingga 1999, kuwadiyanto meraih penghargaan sebagai Guru Teladan peringkat ke-3 tingkat Kotamadya Jakarta Pusat, dan tingkat provinsi DKI Jakarta.

Pada tahun 2002, kuwadiyanto sempat pindah mengajar ke SDN Kemayoran 09, jakarta Timur. Namun, selang setahun, ia dipanggil kembali untuk mengajar kembali di SDN 01 Menteng. Setelah dua tahun berkiprah kembali di sekolah itu, kuwadiyanto akhirnya diangkat menjadi kepala sekolah.

Kuwadiyanto mengaku senang mengabdikan hidupnya untuk anak-anak. Karena itu, ia senantiasa serius mendalami ilmu pendidikannya. “ saya selalu berusaha mencari metoda pembelajaran yang efektif, agar gampang diterima anak-anak”. Katanya, ia berupaya menyampaikan pelajaran dengan cara yang paling mudah dimengerti tanpa membuat murid-muridnya menjadi bosan.

Kuwadiyanto mengaku banyak belajr dari guru-guru lainya. Sebaliknya, ia juga rajin memotivasi para guru lain untuk terus meningkatkan kemampuannya dalam mengajar. Ia kerap berdiskusi dengan guru-guru sekolah yang dipimpinnya untuk menemukan metode-metode yang lebih efektif dalam menyampaikan pelajaran. Berkat upayanya itulah SDN Menteng 01 Pagi berhasil meriah berbagai prestasi. (disarikan dari Forum Tenaga Kependidikan).

Monday, 4 September 2006

Kapler Marpaung: Anak Petani yang Sukses Jadi Broker Asuransi

Dari Sinar Harapan, 04/09/2006

JAKARTA-Pria kelahiran Medan, 16 Desember 1961 ini sejak awal 2006 duduk sebagai chairman di PT Jupiter Insurance Brokers & Consultants. Setelah sebelumnya selama 13 tahun, tepatnya dari Februari 1994 hingga Oktober 2005 bekerja di PT BGIB Insurance Brokers dengan jabatan terakhir sebagai presiden direktur.

Perusahaan yang sebelumnya bernama PT Bimantara Graha Insurance Brokers & Consultants ini bukanlah tempat Kapler kali pertama bekerja di dunia perasuransian. Jauh sebelum itu, dari tahun 1983-1993 ia bekerja di PT SIUSAR Insurance & Co. Jabatan tertinggi yang dipegangnya Asisten General Teknik dan Marketing.

Sungguh pencapaian karier yang luar biasa bagi Kapler A Marpaung mengingat pertama kali masuk ke perusahaan tersebut, hanya membawa bekal ijazah SMA yang diperolehnya pada 1981 dari Porsea, tidak jauh dari lokasi pabrik bubur kertas PT Toba Pulp Lestari saat ini.

Orang tua Kapler yang “hanya” berprofesi sebagai petani dan pedagang kelontong di Rantau Prapat, Medan, karena alasan ekonomi sengaja menitipkan Kapler kepada kakek- neneknya di Porsea. Kapler ialah anak kedua dari sembilan bersaudara.

Di daerah tidak jauh dari Danau Toba yang berhawa sejuk itu, Kapler kecil juga sempat merasakan dua tahun belajar di sekolah dasar sebelum akhirnya dibawa kembali oleh orang tuanya ke Medan.
“Orang tua saya dengan segala keterbatasannya hanya mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga tamat SMA,” kata Kapler berkisah. Alhasil, ambisinya untuk berkuliah di Universitas Sumatera Utara (USU) harus dikubur dalam-dalam lantaran ketiadaan dana.

Kemandirian yang sangat kuat ditanamkan oleh kedua orang tuanya, mendorong Kapler merantau ke Ibu Kota pada 1982, satu tahun setelah lulus SMA.Di bilangan Kenari Jakarta Pusat, Kapler menumpang hidup di kos-kosan teman-temannya satu daerah yang nasibnya lebih beruntung karena dapat berkuliah. “Teman-teman saya banyak yang kuliah di Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Kristen Indonesia (UKI). Hanya saya saja yang tidak kuliah,” kenang Kapler.

Ia mengaku sangat bersyukur dapat bergaul dengan para mahasiswa meski ia sendiri hanya seorang tamatan SMA. Berkat pergaulannya itu ia dapat memupuk keinginan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi.
Keinginan Kapler baru dapat terealisasi pada 1988. Sambil bekerja, sorenya ia berkuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Indonesia.

Suami dari Rosmalinda Nasution ini menuturkan bahwasanya selama dua tahun ia sempat menjadi pegawai negeri di Departemen Tenaga Kerja. Namun, pekerjaaan itu akhirnya dilepas karena merasa tidak cocok dengan jiwanya yang selalu ingin mobile dan dinamis.

Lalu bagaimana ia bisa terjun di dunia perasuransian, Kapler menuturkan perjalanan hidupnya tidak bisa dilepaskan dari pertemuannya pada suatu ketika di Gereja Paulus Menteng dengan seseorang yang memiliki perusahaan broker asuransi.

“Orang itu menawari saya untuk bergabung, padahal ia tahu saya sudah bekerja sebagai pegawai negeri,” kata Kapler. “Beliau meminta saya memikirkan masak-masak tawaran yang asing ini.” Akhirnya, Kapler memilih jalan hidupnya sendiri hingga membawanya pada posisi sekarang. Ia lepas status pegawai negeri yang diidam-idamkan banyak orang untuk menjadi seorang broker asuransi.

Komitmen Kapler dalam memajukan profesi broker asuransi demikian tinggi. Ini terlihat dari seabrek aktivitasnya, antara lain, Ketua Umum Asosiasi Broker Asuransi dan Reasuransi Indonesia (ABAI) dan Ketua Badan Pendidikan dan Pembinaan (BPP) ABAI Periode 2002-2005. Selain itu ia juga menjadi Penasihat ABAI dan Ketua BPP ABAI periode 2005-2008.

Pernah pula Kapler menjabat Wakil Sekjen Himpunan Ahli Pialang Asuransi Indonesia (HAPSI) selama dua periode dan manajer pendidikan BPP-ABAI juga selama dua perode.
Redaktur Eksekutif Jurnal AAMAI dan juga Pemimpin umum majalah Broker ini memeroleh gelar profesi Ahli Pialang Asuransi Indonesia (APAI) dari ABAI pada 1989, kualifikasi Ajun Ahli Asuransi Indonesia-Kerugian (AAIIK) dari AAMAI 1997, serta kualifikasi Certified of Indonesia Insurance & Reinsurance Brokers (CIIB) dari ABAI pada 2000.
Pada Juli 2005, ia juga memeroleh kualifikasi Certified of Wealth Manager (CWM) dari Greenwich University-Business School, Inggris.

Saat ini, pengajar di sejumlah perguruan tinggi dan lembaga pendidikan ini tengah melanjutkan program S-2 bidang teologi di STT Jakarta. Ya, bisa dibilang minat pria yang menikah pada 2002 ini guna memperdalam pengetahuan agamanya demikian besar.

Tidak berhenti sampai di situ, ia pun aktif dalam aktivitas keagamaan. Kapler ditunjuk menjadi ketua umum panitia perayaan hari ulang tahun HKBP distrik 8 (Jawa-Kalimantan) yang ke-66 pada 27 Agustus 2006 di Lapangan Tennis Indoor Senayan.

Lalu saat ditanya apa lagi yang belum kesampaian dalam hidupnya, ia hanya menjawab singkat. “Saya dan istri terus berdoa agar dikaruniai anak oleh Tuhan,” katanya.
(danang j murdono)

Saturday, 10 September 2005

Abdullah Vanath: Anak Petani Jadi Bupati Seram Timur

Sumber: Kabupaten Seram Bagian Timur (serambagiantimurkab.go.id)

Tanggal 10 September 2005 merupakan momen yang bersejarah bagi masyarakat Seram Bagian Timur,khususnya di Kecamatan Werinama dan keluarga Abdullah Vanath, betapa tidak anak petani yang awalnya miniti karir di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Modern Ekspress Ambon, dilantik menjadi Bupati Seram Bagian Timur periode 2005 – 2010

Abdullah Vanath adalah anak dari pasangan (Alm) Ibrahim Vanath dan Sofia Voth dibesarkan di Kecamatan Werinama yang merupakan tanah kelahirannya.Abdullah Vanath mengakui saat kecil beliau hidup dalam masa masa sulit,namun setelah menamatkan sekolah di Madrasah Aliyah di Ternate,masa masa itupun mulai berubah setelah Abdullah Vanath bekerja di Bank BPR Modern Ekspress Ambon.

Abdullah Vanath mulai berkarir di Bank Perkreditan Rakyat Modern Ekspress, menjadi Ketua Koperasi serba usaha Talavolas Ambon dan terakhir menjadi Direktur CV Talavolas Ambon.

Setelah menyampaikan visi dan misi sebagai calon Bupati Seram Bagian Timur 2005, Akhirnya Abdullah Vanath bersama pasangannya Dra.Sitti Umuria Suruwaky.sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Seram Bagian Timur periode 2005 – 2010. Abdullah Vanath merupakan bupati termuda di Indonesia.

Perjuangan seorang anak petani yang berhasil menjadi Bupati di Kabupaten Seram Bagian Timur patut untuk diteladani. Kerendahan hati serta perjuangan keras yang tidak kenal lelah dan putus asa adalah kunci keberhasilanya. Semoga kepribadian yang positif ini dapat ditiru oleh generasi muda di Kabupaten Seram Bagian Timur.

BIODATA
Nama: Abdullah Vanath,S.Sos
Tempat/Tgl Lahir : Werinama,21 Mei 1971

PENDIDIKAN
SD Negeri II Werinama,1984
Madrasah Tsanawiyah,Ambon,1987
Madrasah Aliyah,Ternate,1990
STIA Trinitas, Ambon, 2005

RIWAYAT PEKERJAAN
Karyawan PT Bank BPR Modern Ekspress Ambon
Ketua Koperasi serba usaha Talavolas Ambon
Direktur CV Talavolas Ambon

RIWAYAT ORGANISASI
Ketua Pusat Peran Serta Masyarakat Kota Ambon
Ketua Pedagang Kaki Lima Ambon
Ketua Tim Percepatan Pembentukan Kabupaten SBT

KELUARGA
Istri : Rohani Rasyid Vanath
Tempat/Tgl lahir : Makassar,17 Januari 1971

PENDIDIKAN
Madrasah Aliyah – Masohi

PEKERJAAN
PNS Sipil Kodam Pattimura

ANAK ANAK
Abdurahman Sidiq Vanath

Tuesday, 2 August 2005

Soemino Eko Saputro: Anak Petani Jadi Dirjen

Disunting dari Biografi Tokoh Indonesia (www.tokohindonesia.com)

Dunia Soemino Eko Saputro kecil hanyalah Desa Delanggu, sawah, ternak dan sungai. Soemino lahir dari keluarga petani, pasangan Parto-dihardjo dan Asih di Delangu, Jawa Tengah, tanggal 10 September 1947. Dengan jaringan pengairan yang cukup bagus, Delanggu terkenal dengan hasil pertaniannya, penghasil utama beras Rojolele.

Sang Ayah, Partodihardjo seorang petani yang ulet,
menggarap sawah, sebuah pekerjaan yang digelutinya dengan segala senang hati. Sang Ibu, Asih, pedagang beras yang sangat dikenal di desanya. Jadi Sang Ayah yang mengolah lahannya, Sang Ibu yang menjual berasnya. “Bisnisnya berbeda tetapi saling berkaitan,” kata Dirjen Kereta Api, Ir H Soemino Eko Saputro, MM, me-ngenang masa kecilnya di kampung.

Bisnis Ibu Asih, mengumpulkan beras, kemudi-an dijual ke luar, bahkan sampai ke Jakarta. Beras yang dijual di Jakarta diangkut dengan kereta api. Pada saat itu, Soemino belum punya bayangan sama sekali bahwa suatu saat nanti akan bekerja di kereta api.

Soemino menyelesaikan pendidikan sampai di perguruan tinggi dibiayai dengan hasil pertanian dan dagang beras ayah-ibunya. Dia menamatkan sekolah dasar di SR Delanggu (1959), menamatkan SMP (1962) dan SMA (1965) di Solo. Di Solo, Soemino muda sekolah di SMA Negeri III Margoyudan, sekolah lanjutan atas favorit dan paling terkenal di Solo (Surakarta).

Dari Solo, Soemino melanjutkan studinya di Fakultas Teknik Sipil, ITS, Surabaya (tamat 1976). Kenapa Surabaya? Waktu itu dia lebih senang merantau, jauh dari orangtua, supaya bisa mandiri. Dia ingin merasakan, seperti apa jauh dari orangtua.
Pada saat itu dia merasakan kesulitan setiap habis bulan, karena susah mendapat-kan uang. Namun Soemi-no punya pengalaman indekost di Solo. Di situ dia sudah belajar mandiri, misalnya memasak, membawa lauk dari rumah, mencuci dan pekerjaan rumahan lainnya. Dari rumah kost ke sekolah naik sepeda. Soemino satu-satunya anak lelaki dari empat bersaudara. Ketiga saudaranya perempuan.

Namun, itulah pilihannya, untuk lebih mandiri. Dia memilih Institut Teknologi 10 November Surabaya, bukan Universitas Gajah Mada, Jogjakarta, yang lebih dekat dari desanya. Situasi secara umum antara Surabaya dan Jogja jauh berbeda.
Di Surabaya orang-orangnya berani, tetapi orang-orang Jogja sopan santunnya luar biasa tingginya, sesama kawan saja memakai bahasa halus. Lain dengan Surabaya. Baru pertama kali bertemu, mereka sudah saling memaki dalam dialek Surabaya, bahasa keakraban.

Kepribadian Soemino ter-bentuk di Surabaya, akibat pergaulan dan komunikasi dan tata cara kehidupannya yang khas, dan berbeda dibandingkan dengan daerah-daerah Jawa lain.
Pertama kali ke Surabaya, tahun 1968, Soemino pusing juga. Dia punya kawan orang Surabaya asli, dialeknya yang khas dan akrab. Selama di Surabaya, dia mengalami banyak hal yang menyenangkan dan sebaliknya. Soemino menetap di Surabaya cukup lama, (7 tahun) sampai tahun 1975.
Ketika itu, dia sempat tidak aktif kuliah sekitar enam bulan. Tahun 1973, dia hampir drop out (gugur kuliah), akibat terlanjur senang karate. Dia kadang-kadang lupa kuliah karena asyik latihan karate.

Akhirnya, dia berpikir dan bertanya dalam diri sendiri: “Saya ke Suraba-ya belajar karate atau kuliah.” Dia sadar bahwa ke Surabaya bukan untuk karate, tapi untuk kuliah. Soemino segera sadar dan menyelesaikan kuliahnya tahun 1976, meraih gelar insinyur tehnik sipil, dengan menerima ikatan dinas pendidikan kereta api.

Lulus dari pendidikan, Soemino menjalani masa percobaan enam bulan di Bandung, tetapi dilaluinya hanya tiga bulan. Dia masuk Perjan Kereta Api tahun 1975, dan aktif tahun 1976. Dia mengawali karir di Surabaya, lalu ke Malang, Jember, Medan, Bandung, Padang sampai menjadi Direktur Utama. Setelah sempat tak punya jabatan di Departemen Perhubungan, dia pun di-percaya Menteri Perhubungan Hatta Rajasa menjabat Direktur Jenderal Perkeretaapian, tahun 2005, yang pertama.

Pria beranak dua ini memperoleh gelar S-2 bidang manajemen pemasaran di STIE-IPWI, Jakarta tahun 2000. Dia pun mengikuti sederet panjang latihan, kursus, kongres dan seminar tentang perkeretaapian di Jepang, Inggris, Prancis, Belanda, Australia, Austria, Amerika, Mexico, Malaysia dan Thailand.


Soemino menikah dengan RA Erna P tahun 1977 dan dikaruniai dua putra, Ferry Eko Ernanto dan Ricky Apriyanto yang masing-masing telah berusia 26 dan 22 tahun. ►mti/crs-sh-ri