Tuesday, 7 October 2008

Suyanto Mahdiputra : Anak Petani Sukses di Luar Negeri

Dari Majalah Xcel, 9 October 2008 (http://xcel.uk.net)

Suyanto Mahdiputra won this year’s Xcel Built Environment Student of the Year Award. Suyanto won the award for his outstanding academic achievements whilst studying for his PhD at Northumbria University.

Suyanto is originally from Indonesia but came to the UK to pursue an MSc in Environmental Project Management. “Suyanto came to Northumbria University as an MSc student and it was the first time he had been to Britain and he seemed very lost,” explained his tutor, Professor Bob Giddings. However, Suyanto soon settled into university life and showed great potential in his field of study.

In 2005, Suyanto was awarded the RICS prize for best paper at the 5th International Postgraduate Research Conference at the University of Salford. Building on this success, Suyanto went on to pass his PhD at category A with no amendments needed on his paper. This is an extremely rare occurrence as Professor Bob Giddings explains; “Suyanto produced an extremely good PhD. I’ve supervised and examined a few PhDs and I’ve never known one that’s gone through an examination without any corrections, any typos, nothing, just a straight pass. Our university says they’re lucky if they get one a year. So he really does deserve this award.”

I am very lucky. It’s great that somebody else sees what I have done and that it’s a good thing to do.

This is an incredible achievement for any student, but for Suyanto, the accomplishment is even greater. In the middle of his PhD, the Boxing Day tsunami hit and devastated his homeland. At this time, Suyanto was president of the UK Indonesian Students Association and was responsible for ensuring that the organization properly represented the interests of all Indonesian students in Britain. In the aftermath of the tsunami, Suyanto was heavily involved in helping students who were far from home and dedicated much of his time to coming to London for meetings. Suyanto was even consulted by the Indonesian Government and went on some fact-finding missions for them.

Suyanto showed great commitment to his community whilst completing an impeccable PhD. It is Suyanto’s talent together with his steadfast determination that makes him an award-winner.

On his family’s reaction to winning the award, Suyanto said: “They were very happy and delighted. They wonder what I am doing, as I am far away from them, they think I am doing something very big and very good but I just do my best and it’s nice that somebody appreciates what I have done.” Despite his achievements, Suyanto remains modest, “I am very lucky. It’s great that somebody else sees what I have done and that it’s a good thing to do.”

Congratulations Suyanto!


Interview by: Emily Crane

Tuesday, 15 July 2008

Fathor Rahman: Anak Petani Kuliah Modal Menulis


Dari Tabloid Info 15/07/2008
Judul Asli: Anak Petani Mnyelesaikan Kuliah Dengan Menulis

“Oonk”. Demikian teman-temanya memanggil pria ganteng putera dari pasangan Bapak Jefri dan Maria ini. Sikap dan gaya hidupnya yang sederhana membuat orang-orang di sekitamya betah bergaul dengannya. Tidak hanya itu, dia juga rendah hati dan bahkan pemalu. Namun demi kian, jangan tanyakan mengenai prestasi-prestasinya mengenai kepenulisan. Cukup banyak prestasi yang telah dia raih dari upayanya dalam karirnya.

Fathor Rahman Jm dilahirkan di Jem ber, 05 Juni 1984. Pendidikan formal pertama ditempuh di SDN Pace I, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember (lulus tahun 1996) lalu melanjutkan ke MTs Muqaddimatul Akhlak di desa yang sama. Dari MTs di de sa Pace itu, dia meneruskan pendidikan ke lembaga pendidikan pesantren Al-Falah, Karangharjo, Silo, Jember. Kemudian melanjutkan pendidikan tingginya di PP Annuqayah dengan menjadi salah satu mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Keislaman Annuqayah (STIKA) Guluk-Guluk, Sume nep.

Meskipun dilahirkan di Jember, dia mengaku lebih enjoy dan suka tinggal di Madura, khususnya di Sumenep. Karakter bawaannya lebih cocok dengan budaya Madura. Ini tidak mengherankan sebab, kakek dan neneknya memang asli Madura, dan sama-sama eksodus ke Jember. Mereka ketemu di Jember, sepakat untuk menikah, lalu beranak-pinak di sana.

Menurutnya, dalam dunia tulis menulis, teman-teman dari Madura memang lebih bersemangat dan bersemarak. Pengala mannya dalam dunia baca-tulis memang telah dirambah Fathor mulai masih siswa. Tulisannya yang berjudul “Mengembalikan Hak-Hak Perempuan” terpilih sebagai ju ara 11 dalam lomba karya tulis ilmiah di PP Al-Falah. Hal itu menjadi secercah sinar yang menerangi bahwa bakatnya adalah menulis. Di pesantren al-Falah, dia juga berpengalaman menjadi kru majalah Lisan. Di Annuqayah berpengalaman men jadi pimred majalah Safa, majalah yang diterbitkan organisasi santri Luar Madura. Saat ini tulisan-tulisannya telah tersebar di berbagai macam media massa, baik yang lokal maupun nasional. Tulisannya di media lokal sudah tidak terhitung seperti di Fajar, Infokom Sumenep, Hijrah, Sa fa, Lisan, Iqra’, dan lain-lain.

Tulisannya di media nasional antara lain; Mendongkrak Profesionalitas Polisi (Jawa Pos, 9 Mei 2007), Mengembalikan Hak-Hak ODHA (Jawa Pos, 3 Juni 2007), Hijrah ke Lembaga Pendidikan Keterampilan (Jawa Pos, 18 Juli 2007), Ketika Politik Menguat, Pembaharuan Pemikiran Melemah (Jawa Pos, 18 September 2007), PKB dan Komitmen Kembali ke Khitah (Kompas Jatim, 11 Januari 2008), Membangun Sentra Ekonomi Mikro di Madura (Kompas Jatim, 17 Januari 2008), Nabi dan Kejayaan Islam (Duta Masyarakat, 15 April 2005), Ketimpangan Emansipasi Wanita di Indonesia (Duta Masyarakat, 20 April 2007), Pengembaraan Paradigma Teroris (Suara Karya, 19 April 2007), dan masih banyak lagi artikel yang lain dan juga yang berupa ulasan buku.

Tidak hanya itu, saat ini, tulisannya yang betajuk “NU dan Politik Kebangsaan di Indonesia; Revitalisasi Gerakan Politik Kebangsaan NU Untuk Pemberdayaan Bangsa”, terpilih sebagai salah satu juara dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah, bertema “Sumbangan NU dalam Membangun Pera daban di Indonesia”, yang diadakan oleh Pengurus Wilayah NU Jawa Timur.

Kegiatan sehari-hari Fathor saat ini, selain menulis artikel ke berbagai media massa, dia juga aktif dalam lembaga pemberdayaan penelitian “Lingkar Institute”. Saat ini, dia tengah sibuk meneliti mengenai Kiai dan Politik.

Tak hanya itu, dia juga menulis buku. Salah satu buku yang telah ditulisnya adalah Rahasia Politik Kiai Ramdlan (Bupati Sumenep), yang dijadwalkan terbit pada bulan Agustus 2008 mendatang.

Mengikuti perjalanan jejak langkah Fathor, membuat diri terbangun dari lamunan. Dia seorang anak petani di kampung, dengan seperangkat kesederhanaan , ternyata mampu mengantarkan dirinya pada prestasi yang membanggakan.

Ketika ditanya mengenai kesuksesan nya, dia hanya menjawab: “Ah. Itu tidak seberapa. Apa yang saya dapat itu pada awalnya sebenarnya berangkat dari keka caubalauan perekonomian keluarga saya. Karena itu saya berpikir, bagaimana caranya agar saya dapat berkuliah sambil bekerja. Dan pada akhirnya saya rasa, menulis adalah pekerjaan yang dapat menunjang kuliah saya. Tidak hanya menunjang dari segi intelektual, melain kan juga segi finansial. Dorongan dan jasa dari teman-teman juga sangat besar di situ. Makanya, ke depan, saya akan terus berupaya untuk meningkatkan prestasi saya,” katanya. Tersirat pancaran kesuksesan, betapa Fathor masih akan meraih ke suksesan lagi di masa yang akan datang.

Selain menulis, pria ganteng ini juga aktif di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Menghargai dan memanfaat kan waktu sebaik-baiknya akan menjadi bagian dari upaya menata masa depan menjadi lebih bernilai dan berharga.

Di ujung perbincangan, Fathor menyisipkan pesan, “Menulis produktif tidak hanya sekedar bakat, tapi juga membutuhkan keseriusan dan ketelatenan. Bukan hanya dalam hal menulis, dalam hal yang lain pun juga begitu.”
Oleh Imron Rosyidi Jm

Wednesday, 18 June 2008

Abdurrahman: Anak Petani Juara Cerdas Tangkas Nasional

Dari: PosMetro Padang, 19 Juni 2008 (postmetropadang.com)
Judul Asli: Abdurrahman peringkat Delapan Besar Sumbar

Anak laki-laki itu terlihat sibuk membersihkan satu gudang pemasok komoditi di Palinggam Pasar Gadang, Kota Padang. Satu persatu karung-karung yang berisi kacang-kacang diangkat dan dibersihkannya. Peluh pun menetes, sesekali tangannya menyapu peluhnya. Sekilas perawakannya terlihat seperti anak biasa, namun siapa menduga dibalik kebersahajaan itu tersimpan otak yang cerdas khususnya dalam hitungan akuntansi. Abdurrahman, nama anak petani kelahiran 27 Pebruari 1990 di Singkarak, Kabupaten Solok.

Tiap hari Rahman–panggilan akrabnya–sepulang sekolah akan membantu membersihkan, mengangkat barang-barang yang masuk gudang kacang tersebut. Meski hidup dalam keterbatasan, Rahman tidak pantang menyerah. Dia tetap gigih sekolah dan menjadi orang yang berhasil agar bisa membanggakan kedua orangtuanya. “Kegiatan ini sudah biasa saya lakukan. Sepulang dari sekolah saya kerja dulu di sini menjelang sore. Malam baru belajar,” kata Rahman kepada POSMETRO, Rabu (18/6). Sejak Sekolah Dasar (SD), anak kedua dari lima bersaudara itu sudah terlihat menonjol. Hal itu dibuktikan dengan selalu meraih peringkat juara kelas sejak SD.

Namun, karena keterbatasan ekonomi orangtuanya, Ardawita yang hanya seorang petani, Abdurrahman akhirnya melanjutkan sekolah di Kota. Di Padang, tinggal bersama neneknya di Jalan Pasar Mudik No 13 Kelurahan Pasa Gadang Kecamatan Padang Selatan. Prestasinya di sekolahnya yakni SMK N 3 Padang juga tidak main-main. Peringkat pertama selalu diraihnya, hanya sekali saja Rahman mendapatkan juara II yakni pada semester lima.

Sementara itu, Kepala SMK 3 Padang Edi Suheri, mengakui, Rahman termasuk anak yang membanggakan dan cukup banyak memberikan prestasi pada sekolahnya. “Dia anak yang baik, tidak banyak tingkah. Ketika istirahat akan sangat mudah menjumpainya di perpustakaan,” katanya.

Sejumlah prestasi di bidang akuntansi pernah diraih Rahman. Diantaranya, Juara III Lomba Akuntansi tingkat Sumbar yang diadakan Sekolah Tinggi Ilmu Perbankan Indonesia tahun 2006, juara II lomba Akuntansi tingkat Sumbar yang digelar Ikatan Mahasiswa Tuah Sakato Sekolah Tinggi Administrasi Negara tahun 2007 dan terakhir menjadi peringkat pertama Lomba Cerdas Tangkas Koperasi tingkat Nasional tahun 2007.

Bahkan,setelah memenangkan lomba cerdas tangkas tingkat nasional itu, Rahman berhak menjadi wakil Indonesia berpartisipasi dalam acara ICA Regional Workshop For Managers On Management Of Consumers Cooperatives in Asia-Pasific di Singapura 12-14 Agustus 2008.

Dalam acara tersebut akan ada presentasi dalam Bahasa Inggris dari tiga wakil dari Indonesia itu yang diketuai oleh Abdurrahman. “Kami akan mendukung sepenuhnya Abdurrahman dalam kegiatan ini,” katanya.

Nem Terbaik
Ternyata prestasi siswa miskin itu tidak main-main. Abdurrahman berhasil meraih NEM tertinggi di sekolahnya, dan peringkat delapan besar untuk Sumbar, yakni 36,43. Rahman juga berhasil memperoleh PMDK di Unand yakni lulus pada program Studi Akuntansi kelas bilingual.

Namun lagi-lagi kendala biaya membuatnya bersedih. “Orangtua saya hanya petani kak, jadi bagaimana mungkin bisa kuliah,” kata Rahman yang menggemari buku The Little Prince karya Antonie de Exuperi. (***)

Sunday, 27 January 2008

Pak Harto: Anak Petani Yang Sukses


Extract dari: Damandiri.or.id

Tak kenal maka tak sayang. Apa, siapa dan hagaimanakah Pak Harto, memang harus dikemukakan. Paling tidak, bagi generasi muda bangsa ini termasuk juga para mahasiswa perlu mengetahui bagaimana riwayat hidup dan perjalanan karir seorang pemimpin seperti Pak Harto.

Jenderal MEI Pumawirawan H.M Soeharto atau Pak Harto adalah Presiden Republik Indonesia yang ke dua. Lahir di desa Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 1921 dari pasangan Kercosudiro (ayah) dan Sukirab (ibu). Pak Harto dari keluarga petani miskin, yang kedua orang tuanya bercerai. Kemudian, ia dititipkan kepada bulik dan pamannya, Prawirodihardjo, yang adalah seorang pegawai mantri tani di kawedanan Wuryantoro. Pak Harto di sekolahkan dan dibesarkan bersama dengan saudarasaudaranya, putra Pak Prawirodibardjo.

Sewaktu masih di Kemusuk, sebagaimana juga anak-anak desa lainnya, Pak Harto kecil sangat senang bermain disawah. Ia pandai menangkap belut dan rak pemah melewatkan kesempatan meneicipi nikmatnya belut panggang. Permainan kesukaannya di masa kanak-kanak ialah plinteng dan bandil, bikinannya sendiri.

Karena ia lahir dari keluarga petani, maka perhatiannya kepada para petani dan desa tidak perlu diragukan. Kendati Pak Harto menjadi pemimpin tertinggi atau orang nomor satu di Indonesia ketika itu, Pak Harto tidak pemah lupa pada rakyatnya - rakyat kecil yang sebagian besar adalah petani. Hal ini dapat dibuktikan dengan berbagai kegiatan yang selalu dilaksanakan lebih berorientasikan kepada pembangunan di sektor pertanian, termasuk juga upaya mensejahterakan para petani.

Pak Harto tetap mempunyai komitmen kuat terhadap kehidupan rakyat banyak. Ia sangat dekat dengan petani. Misalnya, di tengah kesibukannya yang padat dan melelahkan, Pak Harto masih sempat melakukan kunjungan ke daerah-daerah, melakukan tradisi tatap muka sambil melakukan dialog dengan rakyat kecil seperti petani. Salah satunya melalui kelompecapir, sebuah kegiatan berupa tanya jawab dengan petani yang rutin dilakukan Pak Harto. Disini tampak Pak Harto sangat menguasai masalah disamping ia sangat senang dan menikmati dialog dan pertemuan dengan para petani itu.

Rasanya kebiasaan Pak Harto melakukan tatap muka langsung dengan rakyat, khususnya para petani di pedesaan, setiap kunjungan ke daerah merupakan keteladanan yang sangat menarik. Sangat positif bagi penerus bangsa generasi muda. Kita diingatkan dengan mata terbuka, bahwa rakyat kecil tetap merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan berbangsa, bemegara dan bermasyarakat. Mereka tetap mempunyai eksistensi, mempunyai peranan serta menjadi bagian dari bangsa kita yang perlu memperoleh sentuhan perhatian langsung.

Memang berbagai tugas yang dijalankan Pak Harto ketika menjabat sebagai Presiden sungguh sangat berat, namun karena ia begitu meneintai petani, maka Pak Harto tetap ringan menjalankannya. Itu karena Pak Harto sangat meneintai rakyat, yang antara lain adalah para petani Indonesia. Tak hanya itu, kepribadian Pak Harto yang merakyat juga tampak dari berbagai aktifitas dan kegiatannya selama ia menjadi Presiden
.

Wednesday, 7 November 2007

Chairunnisya: Anak Petani Berlaga di Dunia Internasional

Dari Pontianak Post 07/11/2007

Pontianak,- Sumber daya manusia Kalimantan Barat tidak kalah dengan propinsi lainnya. Kali ini, seorang anak petani Sungai Kakap akan berlaga di Jepang membawa nama Kalbar dan Indonesia. Dengan penuh percaya diri bersaing dengan pelajar dari negara lain yang lebih maju di bidang otomotif.

Chairunnisya, Pontianak

Pemuda berusia 20 tahun ini tampak sederhana. Tak banyak bicara. Hanya tersenyum saat mendengar orang bicara. Dengan ramah dia memperkenalkan diri. “Nama saya Sunaryo,” ujarnya saat ditemui wartawan di SMKN 4 Pontianak, yang terletak di Jalan Komyos Sudarso Pontianak.

Dibalik kesederhanaan Sunaryo, tersimpan prestasi yang membanggakan. Dia berhasil menjadi wakil Indonesia untuk bersaing dengan negara lain di bidang otomotif. Hari ini, Rabu (7/10), Sunaryo berangkat dan berjuang mengharumkan nama Kalbar dan Indonesia. Sunaryo akan mengikuti World Skill Competition di Jepang.

Sunaryo merupakan lulusan SMKN 4 Pontianak tahun lalu. Pada 2006, Sunaryo mengikuti lomba otomotif di tingkat kota. Ternyata, dia berhasil menang dan membawa nama Kalbar di tingkat nasional. Di tingkat nasional, Sunaryo berhasil mengalahkan pelajar dari propinsi lain.

Setahun kemudian, Senin (5/10) kemarin, Kepala Sekolah SMKN 4 Pontianak, Gunawan menerima telepon dari Direktorat Pendidikan di Jakarta, yang mengabarkan bahwa Sunaryo akan mewakili Indonesia untuk mengikuti World Skill Competition di Jepang. Akhirnya pihak sekolah pun berusaha menghubungi Sunaryo yang telah lulus dan mempersiapkan akomodasi keberangkatan Sunaryo.

Sunaryo mengaku senang dunia otomotif sejak berusia delapan tahun. Ketika itu, dia hanya bisa memperbaiki mobil-mobilan saja, karena ayahnya, Manto hanya bekerja sebagai petani. Ibunya, Tugiyem hanya seorang ibu rumah tangga saja.

Sunaryo menghabiskan masa kecilnya di Desa Sungai Kakap Kabupaten Pontianak. Dia bersekolah di SDN 021 Parit Keladi dan melanjutkan sekolahnya di SMPN 2 Sungai Kakap. Saat ada waktu senggang, dia membantu orangtuanya bertani di sawah.

Saat ditanya cita-citanya saat kecil, Sunaryo menjawab dengan singkat. Bungsu dari lima bersaudara ini hanya ingin membahagiakan orangtuanya saja.

“Sejak kecil saya hanya ingin membahagiakan orangtua saya saja. Mudah-mudahan apa yang saya lakukan sekarang, orangtua saya merasa bahagia. Saya sangat senang bisa berangkat ke Jepang. Grogi pasti ada lah,” ujar Sunaryo.

Kepala Sekolah SMKN 4 Pontianak, Gunawan menuturkan sebelum berangkat ke Jepang, Sunaryo telah mendapatkan pelatihan selama 1,5 bulan di Jawa. Biaya akomodasi Gunawan ini diperoleh dari kepala sekolah, karena saat menghubungi Dinas Pendidikan Kalbar, mereka mengaku tidak mempunyai dana.

“Saat mendapatkan kabar dari Jakarta, saya langsung menghubungi Kepala Sekolah SMK lain untuk meminta bantuan dana akomodasi ke Jakarta. Alhamdulillah beberapa kepala sekolah mau membantu,” ujar Gunawan.

Gunawan juga mengucapkan terima kasih kepada pihak imigrasi yang memberikan segala kemudahan dalam pengurusan paspor. Disamping itu, mereka juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Kota Pontianak, yang juga memberikan bantuan dan dorongan. Bahkan, Walikota Pontianak, Dr Buchary A Rahman juga telah menemui Sunaryo dan memberikan semangat.

“Mudah-mudahan Sunaryo bisa berhasil di tingkat dunia,” harap Gunawan. (*)

Friday, 23 March 2007

Dwi Susanto: Kisah Anak Petani Lulus Cumlaude, Lulus Kuliah Berkat Ibu Angkat Dari Amerika

Dari Surya Online
Friday, 23 March 2007 Surabaya

Nasib pasti bisa diubah. Ini juga yang diyakini Dwi Susanto, 23, anak petani asal Ponorogo ini tak menyangka perkenalannya dengan orang Amerika akhirnya bisa mengantarkannya merengkuh ijazah D3 Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS. Apalagi dengan prestasi yang di atas rata-rata.

Wajah Dwi Susanto, Jumat (23/3) terlihat sangat ceria. Bibirnya terus komat-kamit. Seraya memejamkan mata, dia menengadahkan tangan menyusap wajahnya. Sejurus kemudian, dengan spontan bibirnya mengucap kalimat, ”Alhamdulillah ... terimakasih Mimi,”.

Seakan tak puas hanya sekali mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan YME, Dwi (demikian dia biasa disapa, Red) mengulang-ulang kalimat itu sebelum mengakhirinya dengan sujud syukur.
Kegembiraan tak terkira pemuda kelahiran Ponorogo, 3 Agustus 1983 tersebut beralasan.

ia tak menyangka perkenalannya dengan Mimi Anzel, warga negara Amerika Serikat yang dikenalnya di Jogjakarta, 2002 lalu telah mengantarkannya merengkuh status sarjana. Meski hanya D3. “Jangankan lulus D3, wong sebelumnya bisa lulus SMK saja sudah alhamdulillah,” ujarnya.
Ceritanya, tahun 2002, sebelum lulus dari SMK Negeri I Jenangan Ponorogo Jurusan Bangunan Gedung, ia yang ikut kursus bahasa Inggris di sekolahnya mengikuti outing program di Jogyakarta. Di Kota Gudeg inilah Dwi berkenalan dengan seorang turis dari Amerika bernama Mimi Anzel. Setelah perkenalan itu, Dwi dan Mimi terus intensif berhubungan lewat email.

Karena berasal dari keluarga kurang mampu, Dwi berharap setelah lulus SMK bisa langsung bekerja. Ternyata keinginannya terkabul, dia akhirnya diterima untuk mengajar di sebuah madrasah yang ada di kampungnya.

Sambil menunggu pekerjaan yang mapan, Dwi memutuskan melanjutkan kuliah ke Community College D1 jurusan Teknologi Informasi di Ponorogo - program kerja sama Pemkab Ponorogo dengan Direktorat Pendidikan Menengah dan Kejuruan Depdiknas. “Program ini cocok bagi mereka yang kurang mampu tapi ingin kuliah. Selain biayanya murah, tempatnya juga dekat rumah dan bisa disambi kerja,” tukas Dwi.

Setelah menamatkan program CC, Dwi mendapat kesempatan melanjutkan kuliah di Program D3 PENS-ITS setelah coba-coba mengikuti seleksi. Setelah dinyatakan diterima, Dwi malah bingung karena berpikir pasti tak akan mampu menanggung beban biaya yang besar untuk kuliah di ITS. “Akhirnya waktu itu, saya hanya bisa pasrah,” imbuhnya sambil matanya menerawang jauh.

Tapi ternyata takdir berkehendak lain. Di saat kegundahannya, saat acara Suroan tahun 2004 digelar di Ponorogo bersamaan dengan peringatan HUT Ponorogo, Mimi Anzel menyatakan mau datang.
Kehadiran Mimi ke kota Reog ternyata berkah bagi Dwi. Tanpa disangka-sangka, wanita asal Negeri Paman Sam tersebut menyatakan akan membiayai semua biaya kuliah Dwi. Mulai saat itulah Dwi menganggap Mimi sebagai ibu angkatnya. “Sungguh, kejadian waktu adalah berkah tak terhingga bagi saya,” tukas Dwi.

Setelah beberapa tahun berkutat pada diktat mata kuliah, akhirnya Sabtu (24/3) hari ini, putra pasangan Sukirman dan Amirah ini diwisuda. Rasa syukurnya semakin menjadi-jadi setelah dia dinyatakan lulus cumlaude di antara 1.461 wisudawan ITS dan menjadi salah satu mahasiswa asal Program CC yang berhak mengikuti program magang di Amerika Serikat.

Rasa suka-cita tersebut semakin lengkap, setelah Dwi mendapat kepastian, orang yang membiayai kuliahnya akan menghadiri wisudanya secara langsung di Graha Sepuluh Nopember ITS.
“Tuhan memang maha kuasa. Kuliah dibiayai orang Amerika. Dan setelah lulus, diberi kesempatan ke Amerika,” tandas Dwi sambil menyucap syukur lagi.

Tuesday, 9 January 2007

Kuwadiyanto: Anak Petani Sang Guru Teladan

Dari Direktorat tenaga kependidikan (tendik.org)
09/01/2007

“Sekolah adalah rumah kedua bagi saya“, ujar Kuwadiyanto M.Pd, Kepala Sekolah SDN Menteng 01 Pagi. Karena menganggap sekolah sebagai rumahnya, maka Kuwadiyanto senantiasa memperlakukan sekolahnya sebagai harta milik yang harus dipelihara. “ hal penting yang harus diperhatikan adalah memelihara kenyamanan rumah, supaya mendukung produktivitas kerja untuk mencapai seluruh target cita-cita hidup”, katanya, bertamsil.

Kuwadiyanto senantiasa terus menerus berkarya untuk memoles sekolahnya supaya mencapai target prestasi yang diharapkan. Ia mengaku senang bekerja dan terbiasa bekerja keras sejak kecil. Sebagai seorang anak yang dibesarkan di keluarga petani, ia merasa tak punya mimpi yang terlalu muluk.

Kuwadiyanto lahir di Desa Pakem, sebuah desa di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Sebagai anak petani yang sederhana, ia tumbuh dengan pikiran-pikiran yang sederhana saja. “saya tak menuntut kondisi hidup yang aneh-aneh”.tuturnya, sejak kecil ia sudah terbiasa bekerja keras. Sebagai anak petani yang seadanya, di luar jam sekolah kuwadiyanto harus ikut membantu orangtuanya kerja di sawah.

“Pagi sekolah, sorenya ikut membantu ayah mengelola sawah”, kenangnya. Namun di antara kesederhanaannya, Kuwadiyanto punya cita-cita. Sejak belajar di Sekolah Dasar, ia bercita-cita menjadi Guru. Karena itu begitu lulus SMP, ia langsung melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Ia berpikir, kalau pun tidak jadi guru, dengan masuk SPG ia akan mendapatkan ilmu untuk mendidik anak-anaknya kelak.

Setelah lulus dari SPG, tahun 1977, kuwadiyanto hijrah ke Jakarta untuk mengadu nasib. Kemudian, ia di terima sebagai pengajar di SD Ratih, di kawasan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Inilah awal karirnya sebagai sebagai Guru. Gajinya kaloa itu Rp 21.000 per bulan. “ Jumlahnya lumayan besar waktu itu. Karena ini kan sekolah swasta. Kalau sekolah negeri, saat itu hanya dapat gaji Rp 16.000”, tutur kuwadiyanto.

Setelah hampir dua tahun mengajar di SD Ratih, Kuwadiyanto kemudian bekerja ke SD negeri Kebon Sirih 01 Jakarta, sejak tahun 1979 hingga 1997. setelah itu, pada 1997 ia mengabdi di SDN menteng 01 Pagi, berkat dedikasinya, dalam kurun tahun 1996 hingga 1999, kuwadiyanto meraih penghargaan sebagai Guru Teladan peringkat ke-3 tingkat Kotamadya Jakarta Pusat, dan tingkat provinsi DKI Jakarta.

Pada tahun 2002, kuwadiyanto sempat pindah mengajar ke SDN Kemayoran 09, jakarta Timur. Namun, selang setahun, ia dipanggil kembali untuk mengajar kembali di SDN 01 Menteng. Setelah dua tahun berkiprah kembali di sekolah itu, kuwadiyanto akhirnya diangkat menjadi kepala sekolah.

Kuwadiyanto mengaku senang mengabdikan hidupnya untuk anak-anak. Karena itu, ia senantiasa serius mendalami ilmu pendidikannya. “ saya selalu berusaha mencari metoda pembelajaran yang efektif, agar gampang diterima anak-anak”. Katanya, ia berupaya menyampaikan pelajaran dengan cara yang paling mudah dimengerti tanpa membuat murid-muridnya menjadi bosan.

Kuwadiyanto mengaku banyak belajr dari guru-guru lainya. Sebaliknya, ia juga rajin memotivasi para guru lain untuk terus meningkatkan kemampuannya dalam mengajar. Ia kerap berdiskusi dengan guru-guru sekolah yang dipimpinnya untuk menemukan metode-metode yang lebih efektif dalam menyampaikan pelajaran. Berkat upayanya itulah SDN Menteng 01 Pagi berhasil meriah berbagai prestasi. (disarikan dari Forum Tenaga Kependidikan).