Thursday, 1 January 2009

Daud Yordan: Anak Petani Sang Petinju Dunia


Dari VivaNews 17/12/2008
Judul Asli: Anak Petani Manggung di Las Vegas

VIVANews – Lewat tinju, Daud “Cino” Yordan sudah melanglang buana hingga ke Las Vegas, Amerika Serikat. Anak petani kelahiran Ketapang, Kalimantan Barat, 10 Juni 1987 itu bahkan menjadi petinju Indonesia pertama yang berhasil menang saat manggung di Mekah tinju dunia itu.

Penampilan perdana Cino di Las Vegas terjadi pada 13 September 2008 lalu. Saat itu dia tampil pada partai tambahan Juan Manuel Marquez vs Joel Casamayor yang digelar di MGM Grand Arena. Berhadapan dengan petinju Meksiko, Antonio Mezza pada pertarungan kelas bulu (57,1 kg), Cino dinyatakan menang angka mutlak.

Bagi Cino tinju tak hanya sekadar olahraga. Adu jotos menjadi jalan baginya untuk meningkatkan derajat keluarganya.

”Saya lahir di keluarga miskin. Ayah dan ibu saya petani. Karena itu, saya ingin merubah nasib lewat bertinju,” kata Daud 'Cino' Yordan kepada VIVAnews.

Cino adalah putra pasangan Hermanus Yordan dan Natalia. Dia merupakan anak kelima dari enam bersaudara. Dua kakaknya juga petinju, yakni Damianus Yordan dan Petrus Yordan. Terakhir, adiknya, Yohanes Yordan juga terjun di dunia tinju profesional.

Cino mendapat kesempatan tampil di Las Vegas berkat jasa Golden Boy Promotion. Dia dikontrak oleh usaha kepromotoran milik petinju terkenal Oscar De La Hoya itu selama lima tahun. Karena itu, seluruh agenda Cino di Vegas akan diatur oleh Golden Boy Promotion.

Setelah tampil pada partai tambahan Juan Manuel Marquez vs Joel Casamayor, Cino sejatinya dijadwalkan tampil pada partai tambahan Oscar De La Hoya vs Manny Pacquiao, 6 Desember 2008.

Sayangnya, rencana itu batal. Cino akhirnya dijadwalkan tampil pada partai tambahan duel Shane Mosley melawan Antonio Margarito, Januari 2009.

Kembali ke Tanah Air

Sebelum tampil lagi di Las Vegas, Cino akan melakukan beberapa pertandingan di Indonesia. Awalnya, Cino yang menjadi juara WBO Asia Pacific (Aspac) Youth alias WBO junior diagendakan tampil pada perebutan gelar WBO Aspac yang saat ini masih berstatus interim.

Sayangnya, Pino Bahari, manajer bisnis Cino, mengatakan tak ada yang mau menjadi sponsor duel tersebut.

Sembari menunggu jadwal pertarungan Januari 2009, Pino akan mementaskan Cino pada duel 8 ronde di Gelar Tinju Profesional Indosiar (GTPI) melawan Hardian Siregar. Pertarungan akan digelar di Studio Indosiar, Daan Mogot, Jakarta Barat, 22 Desember 2008.

”Tidak apa-apa, yang penting saya bisa naik ring untuk mengasah kemampuan. Sekalian persiapan buat Januari nanti,” ujar Cino menanggapi pertarungan nanti.

Latihan Sejak Pagi Buta

Saat ini Cino masih berada di kampung halamannya, Kayong Utara, Kalimantan Barat. Di sana ia dilatih kakak kandungnya, Damianus Yordan di Sasana Kayong Utara Boxing Camp.

Setiap hari, putra pasangan Hermanus Yordan dan Natalia ini menjalani dua sesi latihan. Pertama, pagi hari, sedangkan yang kedua digelar sore hari.

Menurut Cino, setiap pagi buta dia sudah menjalani latihan mulai pukul 05.00 WIB. Menu pertama yang dilahapnya adalah jogging sejauh 5 km. Setelah itu, dia baru menjalani sederet latihan utama. Latihan yang sama juga digelar pada sore hari mulai pukul 17.00 WIB.

”Programnya banyak, mulai dari pukul sansak, shadow box, hingga skipping,” kata Cino.

Selain latihan di Sasana Kayong Utara Boxing Camp, Cino juga berlatih di Sasana Cakti BC milik promotor nasional Daniel Bahari di Bali. Biasanya dia terbang ke sana beberapa hari sebelum pertarungan.

”Sebenarnya di sana menu latihannya tak banyak berubah. Tapi, di Cakti BC saya bisa bertemu dengan sparring partner yang berkualitas. Di sana ada Daudy Bahari yang punya kecepatan dan teknik yang bagus,” kata Cino.

Daudy yang dimaksud adalah putra Daniel Bahari. Daudy yang kini bertanding di kelas welter junior (65,3 kg) ini jadi sparring partner tangguh buat Cino.
• VIVAnews

Saturday, 13 December 2008

Emilia Ningsih: Anak Petani Tukang Pikul Jadi Doktor

Dari Kendari Pos 13/12/2008
Lahir dari keluarga berekonomi pas-pasan di Butur, tak membuat anak ke-5 ini patah semangat. Justru, memotivasi dirinya gigih berjuang membahagiakan orang tua sekaligus menepis anggapan anak petani tidak mampu mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.


Emilia Ningsih
Siapa bilang anak petani dengan ekonomi pas-pasan hanya bisa berangan-angan menempuh pendidikan setingkat sarjana hingga program doktor di salah satu universitas favorit tanah air? Asal punya kemauan yang kuat, rajin dalam segala hal serta selalu berdoa dan bertawakal, impian pasti akan terwujud. Itu dibuktikan oleh Dr Dasmin Sidu SP MP, dosen Universitas Haluoleo yang lahir dari keluarga petani di Keluarahan Lipu Kecamatan Kulisusu, Buton Utara (Butur).
Siapapun yang tidak mengenal sosok yang kesannya diam, tapi murah senyum ini, pasti tidak akan mengira bila apa yang diraih hari ini membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Walau kedua orang tuanya, La Sidu-Wa Hinu, hanya bekerja sebagai petani biasa, tak sedikitpun dirinya merasa malu. Malah apa yang diberikan Tuhan dianggapnya sebagai anugrah yang harus diraih dengan kegigihan. Makanya, sejak SD hingga SMA, anak ke-5 dari 11 bersaudara ini memilih tinggal dengan kerabat terdekatnya.
Tinggal di rumah keluarga, membuat suami dari Wa Ode Sri Suharni ini, lebih memaknai hidup dengan kerja keras. Segala pekerjaan pun dilakoni Dasmin sejak kecil yang baru duduk di bangku SDN di Kulisusu. Tak peduli harus menjadi tukang pikul barang sekalipun, asalkan menghasilkan uang yang dapat membantu biaya sekolahnya. Dasmin pernah menjadi tukang pikul seperti yang dilihat sehari-hari di Kota Kendari. Dasmin pun begitu dulu. Bagi pria yang kesannya diam, tapi tak pelit senyum ini, asalkan halal pekerjaan apapun siap dilakoni saat itu demi sebuah cita-cita---ingin sekolah tinggi di kota.
Meski menjadi pekerja serabutan, ayah dua putri ini, tak pernah mengabaikan tugasnya sebagai siswa sehingga selalu menjadi juara kelas sejak SD hingga SMA. Begitu ada waktu luang, dosen pertanian ini selalu dimanfaatkan untuk membaca buku yang terkait dengan pelajarannya kala itu. Kebiasaan membaca terus berulang hingga terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian Universitas Gadja Mada (UGM) Jogjakarta.
Satu hal yang tak akan pernah dilupakan dalam hidupnya, yakni ketika diterima sebagai mahasiswa UGM, banyak pihak di Butur menyangsikan keinginannya itu. Tak jarang di antara mereka malah mencibir, "Tidak mungkin anak petani bisa sekolah tinggi di Jawa," ucap Dasmin.
Cibiran yang dilontar padanya terus dijadikan cambuk sekaligus semangat untuk membuktikan pada siapapun yang menganggap anak petani sekelas orang tuanya hanya bisa menyekolahkan anaknya maksimal di level SMA. Meski harus kerja keras di awal kuliah, lagi-lagi ia membuktikan, upayanya dapat mematahkan anggapan anak petani selevel dirinya tidak mampu sekolah di universitas. Bahkan, pria yang hobi membaca dan olahraga ini menerima predikat sebagai lulusan S1 tercepat di program studinya saat itu.
Menjadi lulusan tercepat S1, tak membuatnya berpuas diri. Setelah empat tahun kembali mengajar di Unhalu, penerima PPP Award ini melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana (S2) tahun 2000 di UGM. Sekali lagi, mantan dosen STIP Muna ini, menunjukkan prestasi menjadi lulusan tercepat dan terbaik tahun 2002. Semangat untuk melanjutkan pendidikan hingga terdaftar sebagai mahasiswa program doktor di Institut Pertanian Bogor tahun 2003-2006.
Seperti kebiasaan ayah dari Salma Aulia Sidu dan Fatma Amalia Sidu ini. Masa studi hanya dua tahun dengan disertasi yang berjudul Model Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Kawasan Hutan Lindung Jompi Kabupaten Muna Sultra, kembali mengantarkan konsultan Bappedalda Yogyakarta ini, meraih predikat lulusan tercepat, terbaik sekaligus termuda program doktor IPB. Rahasianya?
"Sebenarnya saya bukan pintar, hanya mau membaca dengan kemauan yang keras. Alhamdulillah, keinginan untuk sekolah di perguruan tinggi tercapai. Sebenarnya, segala sesuatunya saya biarkan berjalan apa adanya. Terpenting kemauan dan berupaya untuk mencapai sebuah cita-cita, jangan lupa berdoa dan bertawakal, itulah yang mendorong saya bisa seperti sekarang ini," ujarnya dosen penanggung jawab mata kuliah sarjana dan pasca sarjana Unhalu ini.
Meski sudah memperoleh gelar doktor, semangat untuk menempuh pendidikan kembali terus membayangi pemilik koleksi ribuan judul buku di perpustakaan pribadinya. Ia berangan-angan bisa mendalami manajemen Sumberdaya Manusia dan dia pun menyerahkan sepenuhnya pada kehendak Tuhan, kapan saat itu direalsiasikan. "Harus kita ingat agar jangan pernah enggan untuk berbagi ilmu. Siapapun yang membutuhkan bantuan, silakan dibantu sesuai kemampuan. Insya Allah segala keinginan kita pun dilapangkan. Saya selalu menerapkan ini sejak kuliah di daerah orang, ketika kita membantu teman, maka bantuan yang kita butuhkan puns elalu dimudahkan oleh Tuhan," pungkas pria kelahiran Lipu tanggal 6 Mei 1972 ini.

Tuesday, 7 October 2008

Suyanto Mahdiputra : Anak Petani Sukses di Luar Negeri

Dari Majalah Xcel, 9 October 2008 (http://xcel.uk.net)

Suyanto Mahdiputra won this year’s Xcel Built Environment Student of the Year Award. Suyanto won the award for his outstanding academic achievements whilst studying for his PhD at Northumbria University.

Suyanto is originally from Indonesia but came to the UK to pursue an MSc in Environmental Project Management. “Suyanto came to Northumbria University as an MSc student and it was the first time he had been to Britain and he seemed very lost,” explained his tutor, Professor Bob Giddings. However, Suyanto soon settled into university life and showed great potential in his field of study.

In 2005, Suyanto was awarded the RICS prize for best paper at the 5th International Postgraduate Research Conference at the University of Salford. Building on this success, Suyanto went on to pass his PhD at category A with no amendments needed on his paper. This is an extremely rare occurrence as Professor Bob Giddings explains; “Suyanto produced an extremely good PhD. I’ve supervised and examined a few PhDs and I’ve never known one that’s gone through an examination without any corrections, any typos, nothing, just a straight pass. Our university says they’re lucky if they get one a year. So he really does deserve this award.”

I am very lucky. It’s great that somebody else sees what I have done and that it’s a good thing to do.

This is an incredible achievement for any student, but for Suyanto, the accomplishment is even greater. In the middle of his PhD, the Boxing Day tsunami hit and devastated his homeland. At this time, Suyanto was president of the UK Indonesian Students Association and was responsible for ensuring that the organization properly represented the interests of all Indonesian students in Britain. In the aftermath of the tsunami, Suyanto was heavily involved in helping students who were far from home and dedicated much of his time to coming to London for meetings. Suyanto was even consulted by the Indonesian Government and went on some fact-finding missions for them.

Suyanto showed great commitment to his community whilst completing an impeccable PhD. It is Suyanto’s talent together with his steadfast determination that makes him an award-winner.

On his family’s reaction to winning the award, Suyanto said: “They were very happy and delighted. They wonder what I am doing, as I am far away from them, they think I am doing something very big and very good but I just do my best and it’s nice that somebody appreciates what I have done.” Despite his achievements, Suyanto remains modest, “I am very lucky. It’s great that somebody else sees what I have done and that it’s a good thing to do.”

Congratulations Suyanto!


Interview by: Emily Crane

Tuesday, 15 July 2008

Fathor Rahman: Anak Petani Kuliah Modal Menulis


Dari Tabloid Info 15/07/2008
Judul Asli: Anak Petani Mnyelesaikan Kuliah Dengan Menulis

“Oonk”. Demikian teman-temanya memanggil pria ganteng putera dari pasangan Bapak Jefri dan Maria ini. Sikap dan gaya hidupnya yang sederhana membuat orang-orang di sekitamya betah bergaul dengannya. Tidak hanya itu, dia juga rendah hati dan bahkan pemalu. Namun demi kian, jangan tanyakan mengenai prestasi-prestasinya mengenai kepenulisan. Cukup banyak prestasi yang telah dia raih dari upayanya dalam karirnya.

Fathor Rahman Jm dilahirkan di Jem ber, 05 Juni 1984. Pendidikan formal pertama ditempuh di SDN Pace I, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember (lulus tahun 1996) lalu melanjutkan ke MTs Muqaddimatul Akhlak di desa yang sama. Dari MTs di de sa Pace itu, dia meneruskan pendidikan ke lembaga pendidikan pesantren Al-Falah, Karangharjo, Silo, Jember. Kemudian melanjutkan pendidikan tingginya di PP Annuqayah dengan menjadi salah satu mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Keislaman Annuqayah (STIKA) Guluk-Guluk, Sume nep.

Meskipun dilahirkan di Jember, dia mengaku lebih enjoy dan suka tinggal di Madura, khususnya di Sumenep. Karakter bawaannya lebih cocok dengan budaya Madura. Ini tidak mengherankan sebab, kakek dan neneknya memang asli Madura, dan sama-sama eksodus ke Jember. Mereka ketemu di Jember, sepakat untuk menikah, lalu beranak-pinak di sana.

Menurutnya, dalam dunia tulis menulis, teman-teman dari Madura memang lebih bersemangat dan bersemarak. Pengala mannya dalam dunia baca-tulis memang telah dirambah Fathor mulai masih siswa. Tulisannya yang berjudul “Mengembalikan Hak-Hak Perempuan” terpilih sebagai ju ara 11 dalam lomba karya tulis ilmiah di PP Al-Falah. Hal itu menjadi secercah sinar yang menerangi bahwa bakatnya adalah menulis. Di pesantren al-Falah, dia juga berpengalaman menjadi kru majalah Lisan. Di Annuqayah berpengalaman men jadi pimred majalah Safa, majalah yang diterbitkan organisasi santri Luar Madura. Saat ini tulisan-tulisannya telah tersebar di berbagai macam media massa, baik yang lokal maupun nasional. Tulisannya di media lokal sudah tidak terhitung seperti di Fajar, Infokom Sumenep, Hijrah, Sa fa, Lisan, Iqra’, dan lain-lain.

Tulisannya di media nasional antara lain; Mendongkrak Profesionalitas Polisi (Jawa Pos, 9 Mei 2007), Mengembalikan Hak-Hak ODHA (Jawa Pos, 3 Juni 2007), Hijrah ke Lembaga Pendidikan Keterampilan (Jawa Pos, 18 Juli 2007), Ketika Politik Menguat, Pembaharuan Pemikiran Melemah (Jawa Pos, 18 September 2007), PKB dan Komitmen Kembali ke Khitah (Kompas Jatim, 11 Januari 2008), Membangun Sentra Ekonomi Mikro di Madura (Kompas Jatim, 17 Januari 2008), Nabi dan Kejayaan Islam (Duta Masyarakat, 15 April 2005), Ketimpangan Emansipasi Wanita di Indonesia (Duta Masyarakat, 20 April 2007), Pengembaraan Paradigma Teroris (Suara Karya, 19 April 2007), dan masih banyak lagi artikel yang lain dan juga yang berupa ulasan buku.

Tidak hanya itu, saat ini, tulisannya yang betajuk “NU dan Politik Kebangsaan di Indonesia; Revitalisasi Gerakan Politik Kebangsaan NU Untuk Pemberdayaan Bangsa”, terpilih sebagai salah satu juara dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah, bertema “Sumbangan NU dalam Membangun Pera daban di Indonesia”, yang diadakan oleh Pengurus Wilayah NU Jawa Timur.

Kegiatan sehari-hari Fathor saat ini, selain menulis artikel ke berbagai media massa, dia juga aktif dalam lembaga pemberdayaan penelitian “Lingkar Institute”. Saat ini, dia tengah sibuk meneliti mengenai Kiai dan Politik.

Tak hanya itu, dia juga menulis buku. Salah satu buku yang telah ditulisnya adalah Rahasia Politik Kiai Ramdlan (Bupati Sumenep), yang dijadwalkan terbit pada bulan Agustus 2008 mendatang.

Mengikuti perjalanan jejak langkah Fathor, membuat diri terbangun dari lamunan. Dia seorang anak petani di kampung, dengan seperangkat kesederhanaan , ternyata mampu mengantarkan dirinya pada prestasi yang membanggakan.

Ketika ditanya mengenai kesuksesan nya, dia hanya menjawab: “Ah. Itu tidak seberapa. Apa yang saya dapat itu pada awalnya sebenarnya berangkat dari keka caubalauan perekonomian keluarga saya. Karena itu saya berpikir, bagaimana caranya agar saya dapat berkuliah sambil bekerja. Dan pada akhirnya saya rasa, menulis adalah pekerjaan yang dapat menunjang kuliah saya. Tidak hanya menunjang dari segi intelektual, melain kan juga segi finansial. Dorongan dan jasa dari teman-teman juga sangat besar di situ. Makanya, ke depan, saya akan terus berupaya untuk meningkatkan prestasi saya,” katanya. Tersirat pancaran kesuksesan, betapa Fathor masih akan meraih ke suksesan lagi di masa yang akan datang.

Selain menulis, pria ganteng ini juga aktif di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Menghargai dan memanfaat kan waktu sebaik-baiknya akan menjadi bagian dari upaya menata masa depan menjadi lebih bernilai dan berharga.

Di ujung perbincangan, Fathor menyisipkan pesan, “Menulis produktif tidak hanya sekedar bakat, tapi juga membutuhkan keseriusan dan ketelatenan. Bukan hanya dalam hal menulis, dalam hal yang lain pun juga begitu.”
Oleh Imron Rosyidi Jm

Wednesday, 18 June 2008

Abdurrahman: Anak Petani Juara Cerdas Tangkas Nasional

Dari: PosMetro Padang, 19 Juni 2008 (postmetropadang.com)
Judul Asli: Abdurrahman peringkat Delapan Besar Sumbar

Anak laki-laki itu terlihat sibuk membersihkan satu gudang pemasok komoditi di Palinggam Pasar Gadang, Kota Padang. Satu persatu karung-karung yang berisi kacang-kacang diangkat dan dibersihkannya. Peluh pun menetes, sesekali tangannya menyapu peluhnya. Sekilas perawakannya terlihat seperti anak biasa, namun siapa menduga dibalik kebersahajaan itu tersimpan otak yang cerdas khususnya dalam hitungan akuntansi. Abdurrahman, nama anak petani kelahiran 27 Pebruari 1990 di Singkarak, Kabupaten Solok.

Tiap hari Rahman–panggilan akrabnya–sepulang sekolah akan membantu membersihkan, mengangkat barang-barang yang masuk gudang kacang tersebut. Meski hidup dalam keterbatasan, Rahman tidak pantang menyerah. Dia tetap gigih sekolah dan menjadi orang yang berhasil agar bisa membanggakan kedua orangtuanya. “Kegiatan ini sudah biasa saya lakukan. Sepulang dari sekolah saya kerja dulu di sini menjelang sore. Malam baru belajar,” kata Rahman kepada POSMETRO, Rabu (18/6). Sejak Sekolah Dasar (SD), anak kedua dari lima bersaudara itu sudah terlihat menonjol. Hal itu dibuktikan dengan selalu meraih peringkat juara kelas sejak SD.

Namun, karena keterbatasan ekonomi orangtuanya, Ardawita yang hanya seorang petani, Abdurrahman akhirnya melanjutkan sekolah di Kota. Di Padang, tinggal bersama neneknya di Jalan Pasar Mudik No 13 Kelurahan Pasa Gadang Kecamatan Padang Selatan. Prestasinya di sekolahnya yakni SMK N 3 Padang juga tidak main-main. Peringkat pertama selalu diraihnya, hanya sekali saja Rahman mendapatkan juara II yakni pada semester lima.

Sementara itu, Kepala SMK 3 Padang Edi Suheri, mengakui, Rahman termasuk anak yang membanggakan dan cukup banyak memberikan prestasi pada sekolahnya. “Dia anak yang baik, tidak banyak tingkah. Ketika istirahat akan sangat mudah menjumpainya di perpustakaan,” katanya.

Sejumlah prestasi di bidang akuntansi pernah diraih Rahman. Diantaranya, Juara III Lomba Akuntansi tingkat Sumbar yang diadakan Sekolah Tinggi Ilmu Perbankan Indonesia tahun 2006, juara II lomba Akuntansi tingkat Sumbar yang digelar Ikatan Mahasiswa Tuah Sakato Sekolah Tinggi Administrasi Negara tahun 2007 dan terakhir menjadi peringkat pertama Lomba Cerdas Tangkas Koperasi tingkat Nasional tahun 2007.

Bahkan,setelah memenangkan lomba cerdas tangkas tingkat nasional itu, Rahman berhak menjadi wakil Indonesia berpartisipasi dalam acara ICA Regional Workshop For Managers On Management Of Consumers Cooperatives in Asia-Pasific di Singapura 12-14 Agustus 2008.

Dalam acara tersebut akan ada presentasi dalam Bahasa Inggris dari tiga wakil dari Indonesia itu yang diketuai oleh Abdurrahman. “Kami akan mendukung sepenuhnya Abdurrahman dalam kegiatan ini,” katanya.

Nem Terbaik
Ternyata prestasi siswa miskin itu tidak main-main. Abdurrahman berhasil meraih NEM tertinggi di sekolahnya, dan peringkat delapan besar untuk Sumbar, yakni 36,43. Rahman juga berhasil memperoleh PMDK di Unand yakni lulus pada program Studi Akuntansi kelas bilingual.

Namun lagi-lagi kendala biaya membuatnya bersedih. “Orangtua saya hanya petani kak, jadi bagaimana mungkin bisa kuliah,” kata Rahman yang menggemari buku The Little Prince karya Antonie de Exuperi. (***)

Sunday, 27 January 2008

Pak Harto: Anak Petani Yang Sukses


Extract dari: Damandiri.or.id

Tak kenal maka tak sayang. Apa, siapa dan hagaimanakah Pak Harto, memang harus dikemukakan. Paling tidak, bagi generasi muda bangsa ini termasuk juga para mahasiswa perlu mengetahui bagaimana riwayat hidup dan perjalanan karir seorang pemimpin seperti Pak Harto.

Jenderal MEI Pumawirawan H.M Soeharto atau Pak Harto adalah Presiden Republik Indonesia yang ke dua. Lahir di desa Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 1921 dari pasangan Kercosudiro (ayah) dan Sukirab (ibu). Pak Harto dari keluarga petani miskin, yang kedua orang tuanya bercerai. Kemudian, ia dititipkan kepada bulik dan pamannya, Prawirodihardjo, yang adalah seorang pegawai mantri tani di kawedanan Wuryantoro. Pak Harto di sekolahkan dan dibesarkan bersama dengan saudarasaudaranya, putra Pak Prawirodibardjo.

Sewaktu masih di Kemusuk, sebagaimana juga anak-anak desa lainnya, Pak Harto kecil sangat senang bermain disawah. Ia pandai menangkap belut dan rak pemah melewatkan kesempatan meneicipi nikmatnya belut panggang. Permainan kesukaannya di masa kanak-kanak ialah plinteng dan bandil, bikinannya sendiri.

Karena ia lahir dari keluarga petani, maka perhatiannya kepada para petani dan desa tidak perlu diragukan. Kendati Pak Harto menjadi pemimpin tertinggi atau orang nomor satu di Indonesia ketika itu, Pak Harto tidak pemah lupa pada rakyatnya - rakyat kecil yang sebagian besar adalah petani. Hal ini dapat dibuktikan dengan berbagai kegiatan yang selalu dilaksanakan lebih berorientasikan kepada pembangunan di sektor pertanian, termasuk juga upaya mensejahterakan para petani.

Pak Harto tetap mempunyai komitmen kuat terhadap kehidupan rakyat banyak. Ia sangat dekat dengan petani. Misalnya, di tengah kesibukannya yang padat dan melelahkan, Pak Harto masih sempat melakukan kunjungan ke daerah-daerah, melakukan tradisi tatap muka sambil melakukan dialog dengan rakyat kecil seperti petani. Salah satunya melalui kelompecapir, sebuah kegiatan berupa tanya jawab dengan petani yang rutin dilakukan Pak Harto. Disini tampak Pak Harto sangat menguasai masalah disamping ia sangat senang dan menikmati dialog dan pertemuan dengan para petani itu.

Rasanya kebiasaan Pak Harto melakukan tatap muka langsung dengan rakyat, khususnya para petani di pedesaan, setiap kunjungan ke daerah merupakan keteladanan yang sangat menarik. Sangat positif bagi penerus bangsa generasi muda. Kita diingatkan dengan mata terbuka, bahwa rakyat kecil tetap merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan berbangsa, bemegara dan bermasyarakat. Mereka tetap mempunyai eksistensi, mempunyai peranan serta menjadi bagian dari bangsa kita yang perlu memperoleh sentuhan perhatian langsung.

Memang berbagai tugas yang dijalankan Pak Harto ketika menjabat sebagai Presiden sungguh sangat berat, namun karena ia begitu meneintai petani, maka Pak Harto tetap ringan menjalankannya. Itu karena Pak Harto sangat meneintai rakyat, yang antara lain adalah para petani Indonesia. Tak hanya itu, kepribadian Pak Harto yang merakyat juga tampak dari berbagai aktifitas dan kegiatannya selama ia menjadi Presiden
.

Wednesday, 7 November 2007

Chairunnisya: Anak Petani Berlaga di Dunia Internasional

Dari Pontianak Post 07/11/2007

Pontianak,- Sumber daya manusia Kalimantan Barat tidak kalah dengan propinsi lainnya. Kali ini, seorang anak petani Sungai Kakap akan berlaga di Jepang membawa nama Kalbar dan Indonesia. Dengan penuh percaya diri bersaing dengan pelajar dari negara lain yang lebih maju di bidang otomotif.

Chairunnisya, Pontianak

Pemuda berusia 20 tahun ini tampak sederhana. Tak banyak bicara. Hanya tersenyum saat mendengar orang bicara. Dengan ramah dia memperkenalkan diri. “Nama saya Sunaryo,” ujarnya saat ditemui wartawan di SMKN 4 Pontianak, yang terletak di Jalan Komyos Sudarso Pontianak.

Dibalik kesederhanaan Sunaryo, tersimpan prestasi yang membanggakan. Dia berhasil menjadi wakil Indonesia untuk bersaing dengan negara lain di bidang otomotif. Hari ini, Rabu (7/10), Sunaryo berangkat dan berjuang mengharumkan nama Kalbar dan Indonesia. Sunaryo akan mengikuti World Skill Competition di Jepang.

Sunaryo merupakan lulusan SMKN 4 Pontianak tahun lalu. Pada 2006, Sunaryo mengikuti lomba otomotif di tingkat kota. Ternyata, dia berhasil menang dan membawa nama Kalbar di tingkat nasional. Di tingkat nasional, Sunaryo berhasil mengalahkan pelajar dari propinsi lain.

Setahun kemudian, Senin (5/10) kemarin, Kepala Sekolah SMKN 4 Pontianak, Gunawan menerima telepon dari Direktorat Pendidikan di Jakarta, yang mengabarkan bahwa Sunaryo akan mewakili Indonesia untuk mengikuti World Skill Competition di Jepang. Akhirnya pihak sekolah pun berusaha menghubungi Sunaryo yang telah lulus dan mempersiapkan akomodasi keberangkatan Sunaryo.

Sunaryo mengaku senang dunia otomotif sejak berusia delapan tahun. Ketika itu, dia hanya bisa memperbaiki mobil-mobilan saja, karena ayahnya, Manto hanya bekerja sebagai petani. Ibunya, Tugiyem hanya seorang ibu rumah tangga saja.

Sunaryo menghabiskan masa kecilnya di Desa Sungai Kakap Kabupaten Pontianak. Dia bersekolah di SDN 021 Parit Keladi dan melanjutkan sekolahnya di SMPN 2 Sungai Kakap. Saat ada waktu senggang, dia membantu orangtuanya bertani di sawah.

Saat ditanya cita-citanya saat kecil, Sunaryo menjawab dengan singkat. Bungsu dari lima bersaudara ini hanya ingin membahagiakan orangtuanya saja.

“Sejak kecil saya hanya ingin membahagiakan orangtua saya saja. Mudah-mudahan apa yang saya lakukan sekarang, orangtua saya merasa bahagia. Saya sangat senang bisa berangkat ke Jepang. Grogi pasti ada lah,” ujar Sunaryo.

Kepala Sekolah SMKN 4 Pontianak, Gunawan menuturkan sebelum berangkat ke Jepang, Sunaryo telah mendapatkan pelatihan selama 1,5 bulan di Jawa. Biaya akomodasi Gunawan ini diperoleh dari kepala sekolah, karena saat menghubungi Dinas Pendidikan Kalbar, mereka mengaku tidak mempunyai dana.

“Saat mendapatkan kabar dari Jakarta, saya langsung menghubungi Kepala Sekolah SMK lain untuk meminta bantuan dana akomodasi ke Jakarta. Alhamdulillah beberapa kepala sekolah mau membantu,” ujar Gunawan.

Gunawan juga mengucapkan terima kasih kepada pihak imigrasi yang memberikan segala kemudahan dalam pengurusan paspor. Disamping itu, mereka juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Kota Pontianak, yang juga memberikan bantuan dan dorongan. Bahkan, Walikota Pontianak, Dr Buchary A Rahman juga telah menemui Sunaryo dan memberikan semangat.

“Mudah-mudahan Sunaryo bisa berhasil di tingkat dunia,” harap Gunawan. (*)

Friday, 23 March 2007

Dwi Susanto: Kisah Anak Petani Lulus Cumlaude, Lulus Kuliah Berkat Ibu Angkat Dari Amerika

Dari Surya Online
Friday, 23 March 2007 Surabaya

Nasib pasti bisa diubah. Ini juga yang diyakini Dwi Susanto, 23, anak petani asal Ponorogo ini tak menyangka perkenalannya dengan orang Amerika akhirnya bisa mengantarkannya merengkuh ijazah D3 Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS. Apalagi dengan prestasi yang di atas rata-rata.

Wajah Dwi Susanto, Jumat (23/3) terlihat sangat ceria. Bibirnya terus komat-kamit. Seraya memejamkan mata, dia menengadahkan tangan menyusap wajahnya. Sejurus kemudian, dengan spontan bibirnya mengucap kalimat, ”Alhamdulillah ... terimakasih Mimi,”.

Seakan tak puas hanya sekali mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan YME, Dwi (demikian dia biasa disapa, Red) mengulang-ulang kalimat itu sebelum mengakhirinya dengan sujud syukur.
Kegembiraan tak terkira pemuda kelahiran Ponorogo, 3 Agustus 1983 tersebut beralasan.

ia tak menyangka perkenalannya dengan Mimi Anzel, warga negara Amerika Serikat yang dikenalnya di Jogjakarta, 2002 lalu telah mengantarkannya merengkuh status sarjana. Meski hanya D3. “Jangankan lulus D3, wong sebelumnya bisa lulus SMK saja sudah alhamdulillah,” ujarnya.
Ceritanya, tahun 2002, sebelum lulus dari SMK Negeri I Jenangan Ponorogo Jurusan Bangunan Gedung, ia yang ikut kursus bahasa Inggris di sekolahnya mengikuti outing program di Jogyakarta. Di Kota Gudeg inilah Dwi berkenalan dengan seorang turis dari Amerika bernama Mimi Anzel. Setelah perkenalan itu, Dwi dan Mimi terus intensif berhubungan lewat email.

Karena berasal dari keluarga kurang mampu, Dwi berharap setelah lulus SMK bisa langsung bekerja. Ternyata keinginannya terkabul, dia akhirnya diterima untuk mengajar di sebuah madrasah yang ada di kampungnya.

Sambil menunggu pekerjaan yang mapan, Dwi memutuskan melanjutkan kuliah ke Community College D1 jurusan Teknologi Informasi di Ponorogo - program kerja sama Pemkab Ponorogo dengan Direktorat Pendidikan Menengah dan Kejuruan Depdiknas. “Program ini cocok bagi mereka yang kurang mampu tapi ingin kuliah. Selain biayanya murah, tempatnya juga dekat rumah dan bisa disambi kerja,” tukas Dwi.

Setelah menamatkan program CC, Dwi mendapat kesempatan melanjutkan kuliah di Program D3 PENS-ITS setelah coba-coba mengikuti seleksi. Setelah dinyatakan diterima, Dwi malah bingung karena berpikir pasti tak akan mampu menanggung beban biaya yang besar untuk kuliah di ITS. “Akhirnya waktu itu, saya hanya bisa pasrah,” imbuhnya sambil matanya menerawang jauh.

Tapi ternyata takdir berkehendak lain. Di saat kegundahannya, saat acara Suroan tahun 2004 digelar di Ponorogo bersamaan dengan peringatan HUT Ponorogo, Mimi Anzel menyatakan mau datang.
Kehadiran Mimi ke kota Reog ternyata berkah bagi Dwi. Tanpa disangka-sangka, wanita asal Negeri Paman Sam tersebut menyatakan akan membiayai semua biaya kuliah Dwi. Mulai saat itulah Dwi menganggap Mimi sebagai ibu angkatnya. “Sungguh, kejadian waktu adalah berkah tak terhingga bagi saya,” tukas Dwi.

Setelah beberapa tahun berkutat pada diktat mata kuliah, akhirnya Sabtu (24/3) hari ini, putra pasangan Sukirman dan Amirah ini diwisuda. Rasa syukurnya semakin menjadi-jadi setelah dia dinyatakan lulus cumlaude di antara 1.461 wisudawan ITS dan menjadi salah satu mahasiswa asal Program CC yang berhak mengikuti program magang di Amerika Serikat.

Rasa suka-cita tersebut semakin lengkap, setelah Dwi mendapat kepastian, orang yang membiayai kuliahnya akan menghadiri wisudanya secara langsung di Graha Sepuluh Nopember ITS.
“Tuhan memang maha kuasa. Kuliah dibiayai orang Amerika. Dan setelah lulus, diberi kesempatan ke Amerika,” tandas Dwi sambil menyucap syukur lagi.

Tuesday, 9 January 2007

Kuwadiyanto: Anak Petani Sang Guru Teladan

Dari Direktorat tenaga kependidikan (tendik.org)
09/01/2007

“Sekolah adalah rumah kedua bagi saya“, ujar Kuwadiyanto M.Pd, Kepala Sekolah SDN Menteng 01 Pagi. Karena menganggap sekolah sebagai rumahnya, maka Kuwadiyanto senantiasa memperlakukan sekolahnya sebagai harta milik yang harus dipelihara. “ hal penting yang harus diperhatikan adalah memelihara kenyamanan rumah, supaya mendukung produktivitas kerja untuk mencapai seluruh target cita-cita hidup”, katanya, bertamsil.

Kuwadiyanto senantiasa terus menerus berkarya untuk memoles sekolahnya supaya mencapai target prestasi yang diharapkan. Ia mengaku senang bekerja dan terbiasa bekerja keras sejak kecil. Sebagai seorang anak yang dibesarkan di keluarga petani, ia merasa tak punya mimpi yang terlalu muluk.

Kuwadiyanto lahir di Desa Pakem, sebuah desa di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Sebagai anak petani yang sederhana, ia tumbuh dengan pikiran-pikiran yang sederhana saja. “saya tak menuntut kondisi hidup yang aneh-aneh”.tuturnya, sejak kecil ia sudah terbiasa bekerja keras. Sebagai anak petani yang seadanya, di luar jam sekolah kuwadiyanto harus ikut membantu orangtuanya kerja di sawah.

“Pagi sekolah, sorenya ikut membantu ayah mengelola sawah”, kenangnya. Namun di antara kesederhanaannya, Kuwadiyanto punya cita-cita. Sejak belajar di Sekolah Dasar, ia bercita-cita menjadi Guru. Karena itu begitu lulus SMP, ia langsung melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Ia berpikir, kalau pun tidak jadi guru, dengan masuk SPG ia akan mendapatkan ilmu untuk mendidik anak-anaknya kelak.

Setelah lulus dari SPG, tahun 1977, kuwadiyanto hijrah ke Jakarta untuk mengadu nasib. Kemudian, ia di terima sebagai pengajar di SD Ratih, di kawasan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Inilah awal karirnya sebagai sebagai Guru. Gajinya kaloa itu Rp 21.000 per bulan. “ Jumlahnya lumayan besar waktu itu. Karena ini kan sekolah swasta. Kalau sekolah negeri, saat itu hanya dapat gaji Rp 16.000”, tutur kuwadiyanto.

Setelah hampir dua tahun mengajar di SD Ratih, Kuwadiyanto kemudian bekerja ke SD negeri Kebon Sirih 01 Jakarta, sejak tahun 1979 hingga 1997. setelah itu, pada 1997 ia mengabdi di SDN menteng 01 Pagi, berkat dedikasinya, dalam kurun tahun 1996 hingga 1999, kuwadiyanto meraih penghargaan sebagai Guru Teladan peringkat ke-3 tingkat Kotamadya Jakarta Pusat, dan tingkat provinsi DKI Jakarta.

Pada tahun 2002, kuwadiyanto sempat pindah mengajar ke SDN Kemayoran 09, jakarta Timur. Namun, selang setahun, ia dipanggil kembali untuk mengajar kembali di SDN 01 Menteng. Setelah dua tahun berkiprah kembali di sekolah itu, kuwadiyanto akhirnya diangkat menjadi kepala sekolah.

Kuwadiyanto mengaku senang mengabdikan hidupnya untuk anak-anak. Karena itu, ia senantiasa serius mendalami ilmu pendidikannya. “ saya selalu berusaha mencari metoda pembelajaran yang efektif, agar gampang diterima anak-anak”. Katanya, ia berupaya menyampaikan pelajaran dengan cara yang paling mudah dimengerti tanpa membuat murid-muridnya menjadi bosan.

Kuwadiyanto mengaku banyak belajr dari guru-guru lainya. Sebaliknya, ia juga rajin memotivasi para guru lain untuk terus meningkatkan kemampuannya dalam mengajar. Ia kerap berdiskusi dengan guru-guru sekolah yang dipimpinnya untuk menemukan metode-metode yang lebih efektif dalam menyampaikan pelajaran. Berkat upayanya itulah SDN Menteng 01 Pagi berhasil meriah berbagai prestasi. (disarikan dari Forum Tenaga Kependidikan).

Monday, 4 September 2006

Kapler Marpaung: Anak Petani yang Sukses Jadi Broker Asuransi

Dari Sinar Harapan, 04/09/2006

JAKARTA-Pria kelahiran Medan, 16 Desember 1961 ini sejak awal 2006 duduk sebagai chairman di PT Jupiter Insurance Brokers & Consultants. Setelah sebelumnya selama 13 tahun, tepatnya dari Februari 1994 hingga Oktober 2005 bekerja di PT BGIB Insurance Brokers dengan jabatan terakhir sebagai presiden direktur.

Perusahaan yang sebelumnya bernama PT Bimantara Graha Insurance Brokers & Consultants ini bukanlah tempat Kapler kali pertama bekerja di dunia perasuransian. Jauh sebelum itu, dari tahun 1983-1993 ia bekerja di PT SIUSAR Insurance & Co. Jabatan tertinggi yang dipegangnya Asisten General Teknik dan Marketing.

Sungguh pencapaian karier yang luar biasa bagi Kapler A Marpaung mengingat pertama kali masuk ke perusahaan tersebut, hanya membawa bekal ijazah SMA yang diperolehnya pada 1981 dari Porsea, tidak jauh dari lokasi pabrik bubur kertas PT Toba Pulp Lestari saat ini.

Orang tua Kapler yang “hanya” berprofesi sebagai petani dan pedagang kelontong di Rantau Prapat, Medan, karena alasan ekonomi sengaja menitipkan Kapler kepada kakek- neneknya di Porsea. Kapler ialah anak kedua dari sembilan bersaudara.

Di daerah tidak jauh dari Danau Toba yang berhawa sejuk itu, Kapler kecil juga sempat merasakan dua tahun belajar di sekolah dasar sebelum akhirnya dibawa kembali oleh orang tuanya ke Medan.
“Orang tua saya dengan segala keterbatasannya hanya mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga tamat SMA,” kata Kapler berkisah. Alhasil, ambisinya untuk berkuliah di Universitas Sumatera Utara (USU) harus dikubur dalam-dalam lantaran ketiadaan dana.

Kemandirian yang sangat kuat ditanamkan oleh kedua orang tuanya, mendorong Kapler merantau ke Ibu Kota pada 1982, satu tahun setelah lulus SMA.Di bilangan Kenari Jakarta Pusat, Kapler menumpang hidup di kos-kosan teman-temannya satu daerah yang nasibnya lebih beruntung karena dapat berkuliah. “Teman-teman saya banyak yang kuliah di Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Kristen Indonesia (UKI). Hanya saya saja yang tidak kuliah,” kenang Kapler.

Ia mengaku sangat bersyukur dapat bergaul dengan para mahasiswa meski ia sendiri hanya seorang tamatan SMA. Berkat pergaulannya itu ia dapat memupuk keinginan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi.
Keinginan Kapler baru dapat terealisasi pada 1988. Sambil bekerja, sorenya ia berkuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Indonesia.

Suami dari Rosmalinda Nasution ini menuturkan bahwasanya selama dua tahun ia sempat menjadi pegawai negeri di Departemen Tenaga Kerja. Namun, pekerjaaan itu akhirnya dilepas karena merasa tidak cocok dengan jiwanya yang selalu ingin mobile dan dinamis.

Lalu bagaimana ia bisa terjun di dunia perasuransian, Kapler menuturkan perjalanan hidupnya tidak bisa dilepaskan dari pertemuannya pada suatu ketika di Gereja Paulus Menteng dengan seseorang yang memiliki perusahaan broker asuransi.

“Orang itu menawari saya untuk bergabung, padahal ia tahu saya sudah bekerja sebagai pegawai negeri,” kata Kapler. “Beliau meminta saya memikirkan masak-masak tawaran yang asing ini.” Akhirnya, Kapler memilih jalan hidupnya sendiri hingga membawanya pada posisi sekarang. Ia lepas status pegawai negeri yang diidam-idamkan banyak orang untuk menjadi seorang broker asuransi.

Komitmen Kapler dalam memajukan profesi broker asuransi demikian tinggi. Ini terlihat dari seabrek aktivitasnya, antara lain, Ketua Umum Asosiasi Broker Asuransi dan Reasuransi Indonesia (ABAI) dan Ketua Badan Pendidikan dan Pembinaan (BPP) ABAI Periode 2002-2005. Selain itu ia juga menjadi Penasihat ABAI dan Ketua BPP ABAI periode 2005-2008.

Pernah pula Kapler menjabat Wakil Sekjen Himpunan Ahli Pialang Asuransi Indonesia (HAPSI) selama dua periode dan manajer pendidikan BPP-ABAI juga selama dua perode.
Redaktur Eksekutif Jurnal AAMAI dan juga Pemimpin umum majalah Broker ini memeroleh gelar profesi Ahli Pialang Asuransi Indonesia (APAI) dari ABAI pada 1989, kualifikasi Ajun Ahli Asuransi Indonesia-Kerugian (AAIIK) dari AAMAI 1997, serta kualifikasi Certified of Indonesia Insurance & Reinsurance Brokers (CIIB) dari ABAI pada 2000.
Pada Juli 2005, ia juga memeroleh kualifikasi Certified of Wealth Manager (CWM) dari Greenwich University-Business School, Inggris.

Saat ini, pengajar di sejumlah perguruan tinggi dan lembaga pendidikan ini tengah melanjutkan program S-2 bidang teologi di STT Jakarta. Ya, bisa dibilang minat pria yang menikah pada 2002 ini guna memperdalam pengetahuan agamanya demikian besar.

Tidak berhenti sampai di situ, ia pun aktif dalam aktivitas keagamaan. Kapler ditunjuk menjadi ketua umum panitia perayaan hari ulang tahun HKBP distrik 8 (Jawa-Kalimantan) yang ke-66 pada 27 Agustus 2006 di Lapangan Tennis Indoor Senayan.

Lalu saat ditanya apa lagi yang belum kesampaian dalam hidupnya, ia hanya menjawab singkat. “Saya dan istri terus berdoa agar dikaruniai anak oleh Tuhan,” katanya.
(danang j murdono)

Saturday, 10 September 2005

Abdullah Vanath: Anak Petani Jadi Bupati Seram Timur

Sumber: Kabupaten Seram Bagian Timur (serambagiantimurkab.go.id)

Tanggal 10 September 2005 merupakan momen yang bersejarah bagi masyarakat Seram Bagian Timur,khususnya di Kecamatan Werinama dan keluarga Abdullah Vanath, betapa tidak anak petani yang awalnya miniti karir di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Modern Ekspress Ambon, dilantik menjadi Bupati Seram Bagian Timur periode 2005 – 2010

Abdullah Vanath adalah anak dari pasangan (Alm) Ibrahim Vanath dan Sofia Voth dibesarkan di Kecamatan Werinama yang merupakan tanah kelahirannya.Abdullah Vanath mengakui saat kecil beliau hidup dalam masa masa sulit,namun setelah menamatkan sekolah di Madrasah Aliyah di Ternate,masa masa itupun mulai berubah setelah Abdullah Vanath bekerja di Bank BPR Modern Ekspress Ambon.

Abdullah Vanath mulai berkarir di Bank Perkreditan Rakyat Modern Ekspress, menjadi Ketua Koperasi serba usaha Talavolas Ambon dan terakhir menjadi Direktur CV Talavolas Ambon.

Setelah menyampaikan visi dan misi sebagai calon Bupati Seram Bagian Timur 2005, Akhirnya Abdullah Vanath bersama pasangannya Dra.Sitti Umuria Suruwaky.sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Seram Bagian Timur periode 2005 – 2010. Abdullah Vanath merupakan bupati termuda di Indonesia.

Perjuangan seorang anak petani yang berhasil menjadi Bupati di Kabupaten Seram Bagian Timur patut untuk diteladani. Kerendahan hati serta perjuangan keras yang tidak kenal lelah dan putus asa adalah kunci keberhasilanya. Semoga kepribadian yang positif ini dapat ditiru oleh generasi muda di Kabupaten Seram Bagian Timur.

BIODATA
Nama: Abdullah Vanath,S.Sos
Tempat/Tgl Lahir : Werinama,21 Mei 1971

PENDIDIKAN
SD Negeri II Werinama,1984
Madrasah Tsanawiyah,Ambon,1987
Madrasah Aliyah,Ternate,1990
STIA Trinitas, Ambon, 2005

RIWAYAT PEKERJAAN
Karyawan PT Bank BPR Modern Ekspress Ambon
Ketua Koperasi serba usaha Talavolas Ambon
Direktur CV Talavolas Ambon

RIWAYAT ORGANISASI
Ketua Pusat Peran Serta Masyarakat Kota Ambon
Ketua Pedagang Kaki Lima Ambon
Ketua Tim Percepatan Pembentukan Kabupaten SBT

KELUARGA
Istri : Rohani Rasyid Vanath
Tempat/Tgl lahir : Makassar,17 Januari 1971

PENDIDIKAN
Madrasah Aliyah – Masohi

PEKERJAAN
PNS Sipil Kodam Pattimura

ANAK ANAK
Abdurahman Sidiq Vanath

Tuesday, 2 August 2005

Soemino Eko Saputro: Anak Petani Jadi Dirjen

Disunting dari Biografi Tokoh Indonesia (www.tokohindonesia.com)

Dunia Soemino Eko Saputro kecil hanyalah Desa Delanggu, sawah, ternak dan sungai. Soemino lahir dari keluarga petani, pasangan Parto-dihardjo dan Asih di Delangu, Jawa Tengah, tanggal 10 September 1947. Dengan jaringan pengairan yang cukup bagus, Delanggu terkenal dengan hasil pertaniannya, penghasil utama beras Rojolele.

Sang Ayah, Partodihardjo seorang petani yang ulet,
menggarap sawah, sebuah pekerjaan yang digelutinya dengan segala senang hati. Sang Ibu, Asih, pedagang beras yang sangat dikenal di desanya. Jadi Sang Ayah yang mengolah lahannya, Sang Ibu yang menjual berasnya. “Bisnisnya berbeda tetapi saling berkaitan,” kata Dirjen Kereta Api, Ir H Soemino Eko Saputro, MM, me-ngenang masa kecilnya di kampung.

Bisnis Ibu Asih, mengumpulkan beras, kemudi-an dijual ke luar, bahkan sampai ke Jakarta. Beras yang dijual di Jakarta diangkut dengan kereta api. Pada saat itu, Soemino belum punya bayangan sama sekali bahwa suatu saat nanti akan bekerja di kereta api.

Soemino menyelesaikan pendidikan sampai di perguruan tinggi dibiayai dengan hasil pertanian dan dagang beras ayah-ibunya. Dia menamatkan sekolah dasar di SR Delanggu (1959), menamatkan SMP (1962) dan SMA (1965) di Solo. Di Solo, Soemino muda sekolah di SMA Negeri III Margoyudan, sekolah lanjutan atas favorit dan paling terkenal di Solo (Surakarta).

Dari Solo, Soemino melanjutkan studinya di Fakultas Teknik Sipil, ITS, Surabaya (tamat 1976). Kenapa Surabaya? Waktu itu dia lebih senang merantau, jauh dari orangtua, supaya bisa mandiri. Dia ingin merasakan, seperti apa jauh dari orangtua.
Pada saat itu dia merasakan kesulitan setiap habis bulan, karena susah mendapat-kan uang. Namun Soemi-no punya pengalaman indekost di Solo. Di situ dia sudah belajar mandiri, misalnya memasak, membawa lauk dari rumah, mencuci dan pekerjaan rumahan lainnya. Dari rumah kost ke sekolah naik sepeda. Soemino satu-satunya anak lelaki dari empat bersaudara. Ketiga saudaranya perempuan.

Namun, itulah pilihannya, untuk lebih mandiri. Dia memilih Institut Teknologi 10 November Surabaya, bukan Universitas Gajah Mada, Jogjakarta, yang lebih dekat dari desanya. Situasi secara umum antara Surabaya dan Jogja jauh berbeda.
Di Surabaya orang-orangnya berani, tetapi orang-orang Jogja sopan santunnya luar biasa tingginya, sesama kawan saja memakai bahasa halus. Lain dengan Surabaya. Baru pertama kali bertemu, mereka sudah saling memaki dalam dialek Surabaya, bahasa keakraban.

Kepribadian Soemino ter-bentuk di Surabaya, akibat pergaulan dan komunikasi dan tata cara kehidupannya yang khas, dan berbeda dibandingkan dengan daerah-daerah Jawa lain.
Pertama kali ke Surabaya, tahun 1968, Soemino pusing juga. Dia punya kawan orang Surabaya asli, dialeknya yang khas dan akrab. Selama di Surabaya, dia mengalami banyak hal yang menyenangkan dan sebaliknya. Soemino menetap di Surabaya cukup lama, (7 tahun) sampai tahun 1975.
Ketika itu, dia sempat tidak aktif kuliah sekitar enam bulan. Tahun 1973, dia hampir drop out (gugur kuliah), akibat terlanjur senang karate. Dia kadang-kadang lupa kuliah karena asyik latihan karate.

Akhirnya, dia berpikir dan bertanya dalam diri sendiri: “Saya ke Suraba-ya belajar karate atau kuliah.” Dia sadar bahwa ke Surabaya bukan untuk karate, tapi untuk kuliah. Soemino segera sadar dan menyelesaikan kuliahnya tahun 1976, meraih gelar insinyur tehnik sipil, dengan menerima ikatan dinas pendidikan kereta api.

Lulus dari pendidikan, Soemino menjalani masa percobaan enam bulan di Bandung, tetapi dilaluinya hanya tiga bulan. Dia masuk Perjan Kereta Api tahun 1975, dan aktif tahun 1976. Dia mengawali karir di Surabaya, lalu ke Malang, Jember, Medan, Bandung, Padang sampai menjadi Direktur Utama. Setelah sempat tak punya jabatan di Departemen Perhubungan, dia pun di-percaya Menteri Perhubungan Hatta Rajasa menjabat Direktur Jenderal Perkeretaapian, tahun 2005, yang pertama.

Pria beranak dua ini memperoleh gelar S-2 bidang manajemen pemasaran di STIE-IPWI, Jakarta tahun 2000. Dia pun mengikuti sederet panjang latihan, kursus, kongres dan seminar tentang perkeretaapian di Jepang, Inggris, Prancis, Belanda, Australia, Austria, Amerika, Mexico, Malaysia dan Thailand.


Soemino menikah dengan RA Erna P tahun 1977 dan dikaruniai dua putra, Ferry Eko Ernanto dan Ricky Apriyanto yang masing-masing telah berusia 26 dan 22 tahun. ►mti/crs-sh-ri

Wednesday, 6 October 2004

Waego Hadi Nugroho: Anak Petani Sang Profesor Statistik

Dari: Publikasi Yayasan Supersemar (supersemar.or.id)
06/10/2004

Penampilannya sehari-hari tampak sederhana dan cenderung pendiam. Namun jika sudah bergelut dengan pelajaran atau pekerjaan, dinamika hidupnya demikian menyala. Semangatnya berkobar untuk meraih prestasi apik dalam hidup. Itulah Doktor Waego Hadi Nugroho, seorang mantan penerima beasiswa Supersemar yang sering diundang manca negara untuk tampil dalam forum-forum ilmiah kaliber internasional. Jabatan resminya adalah Kepala Pusat Komputer Universitas Brawijaya, Malang.

Masa Kecil hingga Mahasiswa
"Saya itu anak petani dan berasal dari desa. Sebelumnya nggak pernah membayangkan kalau akan bisa sekolah sampai selesai, apalagi hingga menempuh program doktor di luar negeri. Saya juga merasa tidak pandai, hanya karena tekun dan ada keberuntungan barangkali," tutur Dr. Waego mengawali penuturannya kepada Muhammad Zen. Gayanya memang selalu merendah, terkesan tak ingin menonjolkan diri. Waego lahir di desa Nimbang, Kabupaten Lamongan, pada 7 Desember 1953. la profil seorang yang ulet dan tabah. Anak terakhir dari dua bersaudara ini tamat sekolah dasar di desa asalnya. Pendidikan di SMP dan SMA dihayatinya di kota Lamongan. Lulus SMA pada akhir tahun 1972 dan awal tahun 1973 dia mulai memasuki dunia perguruan tinggi. Jurusan Ilmu Tanah pilihannya dan Universitas Brawijaya garba ilmiahnya.

Mendapat Beasiswa
Setahun setelah menyandang predikat mahasiswa, dia menggaet prestasi terbaik di fakultasnya dan dinobatkan sebagai Mahasiswa Teladan Tingkat Fakultas. Sejak itu dia dibebaskan dari kewajiban membayar uang kuliah sampai tahun terakhir kuliah. Tahun berikutnya, 1975, Waego memperoleh beasiswa dari Yayasan Supersemar sampai dengan tingkat terakhir (program S-1) dan ia lulus pada tahun 1977. Pertama kali mendapatkan beasiswa Supersemar, Waego menerima sepuluh ribu rupiah setiap bulan. "Sebagai anak petani dari desa, beasiswa sepuluh ribu sebulan itu besar sekali artinva. Apalagi saat itu saya bebas uang SPP, sehingga uang sepuluh ribu rupiah itu cukup untuk biaya kost, makan, dan beli buku-buku. Sejak mendapatkan beasiswa, saya tak lagi minta kiriman dari orang tua. Semua kebutuhan sudah tercukupi," lanjut Waego dengan antusias. Pria yang gemar kerja keras ini begitu bersyukur lantaran berkesempatan mendapat beasiswa Supersemar. Beasiswa Supersemar dirasakannya sebagai "angin segar" yang berhembus lembut membelai kehidupannya. Kehadiran beasiswa ini juga dirasakannya sebagai pemacu prestasi baginya. Tidak enak rasanya jika sudah dapat beasiswa, kok prestasinya melorot, katanya.

Cumlaude untuk Gelar Insinyur
Berkat kerja keras, sukses dalam studi pun diraihnya. Berdasarkan kurikulum yang ada, gelar insinyur pertanian itu dapat diraih paling cepat dalam tempo lima tahun. Kalau pun ada yang menyelesaikannya tepat dalam tempo lima tahun, itu tergolong langka. Namun Waego berhasil menggores sejarah baru di fakultasnya; ia lulus hanya dalam tempo empat setengah tahun dengan predikat cumlaude. Saat itu indeks prestasi yang diraihnya 3,98. Dari seluruh mata kuliah yang ditempuhnya, hanya satu mata kuliah yang mendapatkan nilai B; selebihnya mendapatkan nilai A. Suatu prestasi yang fantastik.

Menjadi Dosen
Usai wisuda pada tahun 1977, Waego diminta oleh pihak Unibraw untuk menjadi dosen. Namun saat itu dia tidak mengajar mata kuliah yang ada kaitannya dengan ilmu pertanian, melainkan mengajar mata kuliah statistik. Sebab, di Unibraw baru ada tiga dosen statistik waktu itu, yang dinilai masih kurang memadai jumlahnya. Apalagi diketahui bahwa kemampuan Waego dalam bidang statistik juga dapat diandalkan. Dari waktu ke waktu, karier Waego ini semakin mantap. Setahun setelah menjadi dosen, ia diberi kepercayaan sebagai Sekretaris Badan Perencanaan Perguruan Tinggi (BPPT) tingkat Unibraw. Tahun 1979 dia diangkat sebagai Kepala Bagian Statistik dan Registrasi Unibraw,

Belajar di Australia
Pada tahun 1981, Waego "hijrah" ke Australia, guna menekuni bidang statistik. Dia memperoleh beasiswa dari International Development Programme (IDP) yang berkantor pusat di Canberra, Australia, untuk belajar di "Negara Kanguru" selama lima tahun. Waego mengambil program doktor di Adelaide University Australia. Saat menjelang berangkat ke Australia, Waego kembali memperoleh bantuan dari Yayasan Supersemar sebanyak satu juta rupiah.
Menurut Waego peraturan yang berlaku pada universitas-universitas di Australia agak berbeda dengan yang berlaku di Indonesia. Di sana, setiap orang asing yang akan menempuh gelar doktor diwajibkan mengikuti semacam "program kualifikasi" selama dua tahun; tidak peduli dia sudah lulus master atau baru lulus sarjana. Seusai program kualifikasi, yang bersangkutan akan dievaluasi, lalu diputuskan apakah ia berhak menjadi kandidat doktor apa cukup di master, atau ... malah dipulangkan karena kualitasnya dianggap di bawah standar. "Waktu mengikuti program kualifikasi itu, aduh, sulitnya setengah mati. Hampir saja saya frustrasi.
Apalagi yang saya tempuh itu jurusan statistik, sedangkan ilmu yang saya tekuni sebelumnya adalah pertanian. Selama di Indonesia, saya belum pernah merasa kesulitan dalam menempuh pelajaran, dan baru sekali itulah saya benar-benar merasa susah sekali dalam mengikuti pelajaran," ungkap Waego berterus terang. Dihadang tantangan berat demikian, Waego ternyata tidak goyah. Pria ini tetap tegar dan berupaya keras. Dia makin tekun belajar dan belajar terus. Jika tidak tahu tentang suatu materi pelajaran misalnya, dia tak malu-malu bertanya kepada siapa saja yang dianggapnya lebih tahu. Di samping tambah giat dalam belajar, Waego juga semakin getol beribadah, mendekatkan diri kepada Tuhan. Salatnya bertambah khusyuk, doanya semakin maksyuk, dan puasa sunah Senin dan Kamis dia hayati. Berkat ketekunannya yang dibarengi dengan kekhusyukan beribadah, bayang-baypng keberhasilan mulai akrab lagi dengan Waego. "Dalam program kualifikasi tersebut, pada kuartal pertama saya mengambil lima mata kuliah. Alhamdulillah, dari lima itu semuanya saya dapatkan nilai A. Menyusul tugas menyusun dua buah makalah, dua-duanya juga memperoleh nilai A," kata Waego.
Prestasi Waego yang satu kuartal ini cukup mengagetkan pihak Adelaide University. Profesor yang membimbingnya pun angkat jempol untuk prestasi tersebut. Walhasil, Waego dibebaskan dari lima kuartal program kualifikasi berikutnya. Ia dinilai layak menjadi kandidat doktor. Maka, resmilah kini Waego menjalani pendidikan Program Doktor Adelaide University Australia.
Mengikuti program doktor di Negeri Kanguru bukanlah hal yang enteng. Waego harus belajar ekstra keras agar mampu meraih sukses. "Saya merasa agak kesulitan dalam bidang statistik, karena itu, saya mesti rajin belajar. Semangat belajar selalu berkobar dalam diri saya," tandas Waego yang gemar bermain tenis.

Ke Kampus Dinihari
Dalam hal semangat belajar, Waego memang pantas mendapat acungan jempol. Dalam mengerjakan tugas-tugas penelitian misalnya, yang pengerjaannya mesti dengan komputer di kampus, dia melakukannya sejak pukul empat dinihari. Di saat orang-orang masih tertidur lelap, Waego pergi ke kampus. Kendati cuaca dinihari di Australia demikian dingin menggigit kulit, Waego tetap bersemangat menapakkan kaki ke kampus guna mengerjakan berkas-berkas penelitian. Mengapa mesti dikerjakan pagi-pagi, Bung? "Soalnya kalau saya kerjakan pada jam kerja, prosesnya bisa lama sekali. Komputer di kampus itu, menggunakan sistem sentral, pada jam-jam kerja responnya lambat, sebab banyak yang menggunakan," kilah Waego. Waego, yang sempat pula menjadi pembantu editor Majalah SABRAO (Society of Advance Breeding for Asia Oceania), melakukan penelitian tentang pengembangan model statistik dengan menggunakan teknik komputer, untuk mempersiapkan disertasinya. Tujuan penelitiannya yaitu untuk mengembangkan model atau pola yang paling tepat untuk seorang peneliti. Penelitian dilakukan di Indonesia pada pertengahan tahun 1982, dengan mengambil data dari berbagai lembaga penelitian yang ada di Indonesia.

Dua Tahun Saja
Program Doktor di Adelaide University Australia rata-rata diselesaikan dalam waktu 3 atau 4 tahun. Universitas bergengsi di Benua Kanguru ini menerapkan peraturan yang begitu ketat. Untuk dapat menggondol gelar doktor, di samping diuji oleh para guru besar setempat, juga mesti lulus dari ujian yang dilakukan oleh para guru besar yang masuk kategori paling ahli di tingkat internasional. Saat promosi doktor, Waego diuji oleh 4 guru besar handal; dua dari Australia, selebihnya Prof. Patterson HD dari Eddinburg University (Inggris) dan Prof. Eederer WT dari North Carolina University (Amerika Serikat). Hasilnya? Sangat menggembirakan. Kendati ketentuan program doktor di universitas tersebut begitu ketat, Waego mampu merampungkannya dalam tempo 2 tahun. Suatu prestasi yang jarang sekali terjadi di universitas ini. Apa lagi disertasi tersebut menyangkut bidang statistik, yang selama ini sering dianggap "momok" bagi kebanyakan orang.

Anak dan Istri Pemacu Semangat
Saat berada di Australia, Waego didampingi oleh istri (Ny. Ir. Ludji Pantja Astuti) dan anak pertamanya (Donny Yunamawan). Di Australia pulalah anak keduanya, Donna Dwinita Adelia, lahir. Mereka inilah yang memacu semangat Waego, sehingga senantiasa tegar dalam menghadapi setiap kesulitan dan sukses menggapai prestasi.
Setelah berhasil meraih gelar doktor pada tahun 1984, Waego bersama istri dan anaknya pulang ke Indonesia. la kembali menjadi dosen di Universitas Brawijaya, Malang. Setahun kemudian, dia diangkat sebagai Sekretaris Program Pascasarjana di universitasnya, dan sejak 1986 hingga kini Waego menjabat Kepala Pusat Komputer Universitas Brawijaya. Pusat komputer yang dipimpinnya ini, pada tahun 1988 mendapat bantuan 50 unit komputer dari Yayasan Supersemar.
Begitu memantapkan diri sebagai doktor di bidang statistik, Waego mulai banyak dikenal oleh kalangan masyarakat internasional. Pesanan untuk melakukan proyek penelitian pun mengalir dari berbagai negara; termasuk dari Amerika, Swedia, Australia, Jepang, juga dari Indonesia sendiri. Waego juga kerap kali diundang untuk tampil di berbagai penjuru dunia guna membawakan makalah, terutama yang berkaitan dengan masalah statistik.

Rahasia Sukses
Apa rahasia kesuksesannya? "Sederhana saja sebetulnya. Saya ini tidak begitu pandai, tetapi tekun dan ulet dalam mencapai cita-cita. Di samping itu, sebagai umat beragama, saya senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan tekun beribadah. Sejak kuliah di tingkat pertama Fakultas Pertanian Unibraw hingga kini, saya melakukan shalat tahajud," tutur Dr. Waego. (M. Zen.-)

Friday, 15 August 2003

Ika Rahmatina: Anak Petani Pemenang Lomba Penelitian Ilmiah

Dari: Kompas 15/08/2003

Judul Asli: Anak Petani Itu Memenangi LPIR

KETIKA Ketua Dewan Juri Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) Prof Dr Mien Ahmad Rifai menyebut namanya sebagai pemenang pertama, hadirin harus menunggu sekitar enam menit untuk bisa melihat wajah si pemilik nama.

Lama ditunggu, gadis itu tak segera berdiri, seperti empat pemenang sebelumnya. Ternyata, begitu namanya disebut, Ika Rahmatina langsung menundukkan kepalanya ke pangkuan hingga bermenit-menit. Terang saja hadirin tak bisa melihat Ika yang malam itu duduk di kursi barisan belakang.

"Tadi saya menangis. Tidak menyangka menang. Senang sekali rasanya," tutur Ika.

Gadis dengan tinggi badan 155 sentimeter tersebut membutuhkan waktu beberapa menit untuk menenangkan diri dan maju ke hadapan hadirin. Ketika ia sudah siap tampil, sejumlah kawan sesama finalis pun kemudian menyalaminya. Bahkan, ahli komunikasi Prof Dr Astrid S Susanto dan ekonom Dra Endang Sih Prapti MA memeluk tubuhnya.

Kepolosan dan kemampuan Ika mampu merebut hati para juri yang berasal dari bidang kesehatan, ekonomi, fisika, bahasa, biologi, sejarah, dan komunikasi. Ia dengan lancar menguraikan hasil penelitiannya. "Saya agak bingung karena juri tertawa mendengar jawaban saya. Apa karena saya lucu atau jawabannya salah. Ternyata saya menang," tuturnya.

Tentu saja uraian Ika terdengar lucu. Betapa tidak, gadis itu baru berusia 15 tahun. Sehari-hari hidup di Desa Kenep, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Namun, saat berbicara soal alat kontrasepsi alternatif yang menjadi tema penelitiannya, ia terlihat begitu lancar menjelaskannya. Padahal, di sisi lain, sifat kekanakannya masih terlihat kental. Saat ia tengah bersemangat menjelaskan hasil temuannya, tiba-tiba ia berhenti lalu keluar ucapan spontan dari bibirnya. "Aduh, saya capek ngomong terus."

RASA ingin tahu yang cukup besar telah membawa kemenangan bagi Ika, anak keempat dari lima bersaudara keluarga petani dari desa sekitar 25 kilometer dari kota Bojonegoro itu. Di sana, kebanyakan anak gadis mengikuti pendidikan di pesantren, dan ketika pulang kampung biasanya mereka menikah.

Dari pergaulan dengan wanita tetangganya, Ika, yang saat itu meneliti biji tanaman jarak (Ricinus communis L) masih duduk di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 2 Balen. Ia mendengar cerita, tetangganya yang sudah menikah minum air biji jarak untuk menunda kehamilan.

"Saya penasaran. Mereka sendiri tidak tahu mengapa begitu. Pokoknya, ajaran itu katanya didapat waktu di pondok (pesantren-Red)," tutur Ika yang baru pertama kali bertanding di tingkat nasional. Apa yang terjadi atas tetangganya ia bawa ke kelompok ilmiah remaja (KIR) di sekolahnya. Ternyata pada beberapa buku diperoleh keterangan bahwa biji jarak memang mengandung zat ricin yang dapat mempengaruhi sintesa protein dan ADN.

Maka, penelitian dilakukannya dua tahun lalu, selama dua bulan dua minggu. Biji jarak yang banyak di desanya ia kupas, kemudian ditumbuk dan diambil sarinya serta dicampur air. Sari biji jarak ini kemudian diujicobakan pada mencit.

Kelompok pertama sebagai kontrol tidak diberi perlakuan. Kelompok kedua diberi 0,5 gram biji jarak halus selama empat hari, kelompok ketiga diberi 0,1 gram juga selama empat hari.

Hasilnya, mencit yang mendapat 0,5 gram serbuk jarak masa kehamilannya mundur enam hari. Saat melahirkan pun jumlah anaknya berkurang jadi rata-rata tujuh ekor. Pada mencit tanpa perlakuan masa kehamilannya rata-rata 21 hari dengan jumlah anak rata-rata 10 ekor per kelahiran.

Pada kelompok ketiga dengan 0,1 gram serbuk jarak masa kehamilannya mundur 17 hari dari masa hamil normal. Anak yang dilahirkan rata-rata hanya lima ekor.

"Jadi, mengapa tetangga saya tidak segera hamil? Itu karena ia minum air biji jarak yang mengandung ricin," katanya menjelaskan.

Akan tetapi, Ika belum tahu ricin mengandung zat apa. Rochim, mantan guru pembimbingnya saat ia meneliti, menyatakan bahwa sarana laboratorium di sekolahnya masih terbatas. Penelitian lebih lanjut harus dilakukan di laboratorium yang lebih lengkap.

Sebagai pemenang pertama, Ika bersama pemenang kedua, Ekasari Maulidia Rahma (15) dari SLTPN 1 Malang dan pemenang ketiga, Keke Viernia (17) dari SMU Negeri Sungailiat Kabupaten Bangka, Bangka Belitung, selain mendapat hadiah uang, juga mendapat tiket gratis masuk Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Mau masuk fakultas apa? "Belum tahu, nanti saja kalau sudah mau lulus SMA," kata Ika yang kini belajar di SMU Negeri 1 Sumberejo, Balen, Bojonegoro. Bila nanti ia menjadi mahasiswa, maka dialah anak pertama dalam keluarganya yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

PENELITIAN peserta LPIR, menurut juri sangat membanggakan. Apalagi sebagian dari 30 finalis (disaring dari 349 peserta dari 22 provinsi dan Sekolah Indonesia di Jeddah) merupakan peneliti yang masih duduk di SLTP. "Coba lihat, sebagian besar finalis justru datang dari kabupaten atau kota. Tak lagi didominasi peserta dari kota provinsi," ujar Astrid S Susanto.

Menurut Astrid, kemenangan siswa SLTP merupakan tanda dari daerah akan muncul ilmuwan muda potensial yang masih hirau pada lingkungannya.

Ia menunjuk karya yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Eka dari Malang membuat saklar otomatis yang menjadi alat kebutuhan masyarakat saat ini. Umul Wahyuni Jamilah Darojat, siswa Madrasah Aliyah 3 Kediri, Jawa Timur, membuat ampas tebu dari pabrik gula menjadi briket yang ekonomis. Shaum Shiyan, satu-satunya lelaki yang jadi pemenang kali ini (siswa SMUN 6 Yogyakarta) menjadikan tempe empuk bak daging.

Anak-anak itu sudah menunjukkan mampu menemukan sesuatu yang berguna. Karena itu, jangan sampai keberhasilan itu berhenti seperti tahun-tahun lalu, ketika para pemenang LPIR dibiarkan begitu saja. Astrid berharap, Direktorat Pendidikan Menengah Umum Departemen Pendidikan Nasional bersedia menghubungkan para peneliti dengan industri yang bersedia memakai temuan mereka. Tidak ada salahnya pula kalau karya mereka diupayakan mendapat hak paten. Semoga dengan cara itu gairah meneliti generasi muda bangsa ini lebih terpacu. (SOELASTRI SOEKIRNO)

Friday, 15 September 2000

Bismar Siregar: Anak Petani Jadi Hakim Agung


Dari: Biografi Tokoh Indonesia (tokohindonesia.com)

Bismar mensyukuri perjalanan hidup, tidak tamat SD dan SMP, tetapi menyandang gelar yang cukup bergengsi di bidang hukum. Dia besar di kalangan keluarga miskin, tetapi bisa menduduki posisi cukup tinggi di bidang hukum. Dia anak desa dan lama hidup di desa, tetapi bisa melanglang buana. Bismar bahagia sebagai muslim dan orang Batak, karena menyandang marga Siregar. Bismar bahagia karena pernah menjadi hakim.

Bismar merekam memori kehidupan di masa kecil dan
mudanya di kampung di dalam sebuah buku, diberinya judul: Aku Anak Petani. Bahkan, Bismar tak malu menyebut dirinya lahir dari keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Perjalanan hidup Bismar Siregar kecil yang lahir di Desa Baringin, Sipirok, Tapanuli Selatan, 15 September 1928, terbelenggu oleh kemiskinan. Ayahnya, Aminuddin Raja Baringin Siregar seorang guru sekolah rakyat (SR) desa.

Sedangkan ibunya, Siti Fatimah, seorang ibu rumah tangga biasa yang harus membesarkan 13 orang anak. Karena itu, Bismar menghabiskan masa mudanya di Mandailing, Sumatra Utara, membantu ayahnya yang merangkap jadi petani. Mandailing adalah satu dari sedikit daerah di Indonesia yang tidak pernah diduduki oleh Belanda. Kenyataan ini, sikap anti penjajah menempa jiwa dan semangatnya menjadi seorang republiken.

Bahkan, Bismar tak malu menyebut dirinya lahir dari keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ayahnya mewariskan catatan bahwa keluarganya pernah makan nasi hanya sekali sehari ditambah ubi rebus malam hari. Sewaktu membaca catatan tersebut, Bismar merenung sejenak, dan menemukan jatidirinya. Tuhan seakan berkata kepadanya: “Tidak percuma engkau bisa membaca catatan ayahmu supaya engkau lebih merasakan bahwa sejak usia enam bulan engkau sudah bernasib sepedih itu. Adakah engkau mengenal sekitarmu? Sungguh banyak orang sekarang ini yang lebih parah daripada hidupmu dahulu. Kalau dulu masih makan nasi sekali, ubi sekali, sekarang, nasi tidak bisa dimakan saban hari. Adakah engkau tidak merasakan yang sedemikin itu?”

Semiskin apapun perjalanan hidupnya dahulu, sampai tidak bisa menamatkan sekolah rakyat (HIS), Bismar tetap menyukurinya. Dia tidak mampu masuk sekolah lanjutan pertama, meskipun teman-temannya sudah masuk SMP, lantaran keluarganya sangat miskin. Maka dia bertahan menjadi anak desa yang tidak mengenyam bangku sekolah lanjutan. Bismar bukan sembarang anak desa. Tetapi anak desa yang membuka hutan untuk dijadikan sawah. Bersama orangtuanya, Bismar tidur di tengah persawahan, mendengarkan nyanyian jangkrik. Dia merasakan nikmat sekali. Sampai sekarang pun Bismar masih merasakannya, dan menangis di saat mengenangnya.

Keluarga Bismar memetik hikmahnya. Berjuang keras di jalan kehidupan seperti itu namun tidak sesulit sekarang untuk mencari makan. Bismar merekam memori kehidupan di masa kecil dan mudanya di kampung di dalam sebuah buku, diberinya judul: Aku Anak Petani.

Kenapa Bismar terdorong menulisnya dalam bentuk buku? Karena dia melihat perlakuan dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap petani. Harga gabah dipatok sedemikian rendah, sementara harga pupuk dipatok sedemikian tinggi. Petani ribut dan demo, masa bodoh. Semua mengatakan, “itu bukan urusanku.”

Tulis Bismar dalam bukunya yang juga diulangi dalam percakapan dengan Wartawan Tokoh Indonesia: “Mungkin saja mereka merasa bukan anak petani. Mereka telah berbohong terhadap diri mereka sendiri. Kalau bukan ayahnya yang petani, kakeknya yang petani.” Namun Bismar, bukan hanya ayah atau kakeknya yang petani, dia sendiri petani. Dia merasakan dan menikmati menjadi seorang petani. Ketika berada di tengah sawah, kehujanan dan kepanasan, dia merasa senang dan bahagia menunggu sampai panen selesai. Bismar merasakan nikmatnya melihat padi yang tumbuh, kemudian mulai boltok (istilah di Tapanuli) berbuah. Hidup di kampung, memiliki hasil panen cukup untuk makan setahun sudah bersyukur. Itu waktu dulu. Tapi sekarang tidak berlaku lagi. Karena lahan-lahan sudah dibagi kepada para ahli waris. Sawah terbagi-bagi semakin sempit.

Bismar mempertanyakan: “Salahkah kalau anak-anak desa harus meninggalkan kampung mereka untuk mencari nafkah di kota?” Pertanyaan ini dijawabnya dengan kenyataan, misalnya, warga Siborong-borong yang meninggalkan desa mereka karena memang tidak bisa lagi hidup di situ. Harga hasil pertanian tidak dapat lagi diandalkan. Bismar masih bertanya, “kenapa pemerintah tidak memikirkan nasib petani?”. Kalau petani diperhatikan, mereka tidak datang ke kota, menjadi supir bus, pedagang asongan atau pedagang kali lima yang sering menimbulkan masalah. Mereka dikejar-kejar aparat Trantib, seterusnya untuk diperas dan diperas lagi.

“Karena itu makmurkan para petani,” kata Bismar. Kapankah Indonesia memberikan kedudukan terhormat kepada para petani, dari mana kebanyakan petinggi negara berasal? Kata Bismar, pengabaian dan kesalahan kepada para petani perlu diakhiri, supaya semua orang cinta pada pertanian. Dulu Bismar bangga membawakan makanan untuk ayahnya yang sedang bekerja di sawah. Sekarang, katanya, mana lagi ada anak yang mau begitu. Secara tidak sadar tatanan yang diwariskan nenek moyang telah dirusak sendiri.

Karena itu, Bismar kembali mengetok pintu hati nurani mereka yang diberikan amanah jabatan oleh Yang Maha Kuasa. Ingatlah, amanah dan jabatan itu sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Setiap orang tidak bisa lepas dari pertanggungjawaban. Kepada SBY pun, sewaktu Pilpres, Bismar bilang, “engkau imam yang harus bertanggungjawab terhadap lingkunganmu.” SBY sekarang menjadi imam untuk bangsa ini.

Pendidikan
Perjalanan pendidikan Bismar tergolong unik. Tahun 1942, ketika Bismar akan menempuh ujian sekolah dasar di kelas tujuh HIS (Hollands Inlandsche School), Jepang masuk. Kekacauan yang timbul karena gejolak pergantian penjajah, membuat Bismar tidak menempuh ujian akhir, dan pendidikannya praktis terhenti. Bismar muda hidup di kampung selama delapan tahun tanpa duduk di bangku sekolah. Tahun 1950, dia merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Ironis. Bismar yang tidak tamat sekolah dasar, malah dibawa abangnya ke Magelang untuk melanjutkan sekolah di SMA Pejuang, sebuah sekolah lanjutan khusus bagi para pejuang kemerdekaan.

Bismar seperti memakan buah simalakama. Mau masuk SMA, ijazah SD pun tidak punya, mau duduk di bangku SMP usianya sudah kadaluwarsa. Berkat bujukan si abang, Bismar memberanikan diri untuk mendaftar ke SMA Pejuang. Caranya, dia mengubah tanggal kelahirannya dari 15 September 1928 menjadi 15 November 1930. Sampai sekarang yang tercantum di ijazahnya, tanggal kelahiran terakhir.

Setelah masuk SMA, Bismar menghadapi kendala lain. Dia sangat takut pada mata pelajaran Aljabar, sebab mata pelajaran itu tidak pernah dia pelajari sebelumnya. Bayangkan, dia harus bersaing dengan kawan-kawannya yang sudah biasa mendapat mata pelajaran Aljabar. Bismar benar-benar mengalami kesulitan. Beruntung, hasil ujian akhir Bismar untuk mata pelajaran tersebut adalah nilai 5. “Tapi tidak jadi masalah karena itulah kekurangan saya,” kenang Bismar.
Soal perbedaan versi tanggal kelahiranya pernah menjadi perdebatan media massa ibukota sewaktu Bismar menduduki posisi hakim agung. Ada yang memberita-kan, mestinya Bismar sudah pensiun. Namun Bismar tidak pernah gentar meskipun memiliki dua tanggal kelahiran yang berbe-da, apalagi alasannya cukup logis.

Bismar menamatkan SMA di Bandung tahun 1952. Kemudian melanjutkan studi di Fakultas Hukum UI Jakarta. Bismar meraih gelar sarjana hukum dalam tempo 4 tahun. “Ini sesuai dengan amanat orang tua saya,” kata Bismar. Memang sejak kanak-kanak, ayahnya selalu mengharapkan Bismar menjadi Meester in de Rechten (Mr). Dalam hidup Bismar Itulah saat-saat yang paling membanggakan dan membahagiakan.
Perihal memperdalam ilmu hukum, Bismar tidak berhenti sampai di situ. Kehausan menuntut ilmu dilanjutkannya dengan menempuh pendidikan di luar negeri, antara lain, di Unversity of Nevada (1973), University of Alabama, Tooscaloosa (1973), University of Texas di Dallas (1979), dan Rijks-Universiteit di Utrecht (1990).

Dalam usianya yang beranjak tua, Bismar merasa sedih karena saat ini tidak bisa berbuat, hanya bisa menyaksikan penderitaan yang dialami rakyat. Yang bisa dilakukannya, hanya menulis, menulis dan terus menulis. Namun, di dalam hidupnya sampai saat ini, Bismar tidak pernah berhenti membaca dan menulis. Bismar meneladani apa yang disabdakan Nabi Muhammad SAW: “Tinta seorang pandai lebih suci daripada darah seorang syuhada.’’ Menjalani hari-hari tuanya, Bismar mengekspresikan keahlian melukis di rumahnya yang luas di Cilandak, Jakarta. Juga dia tidak lupa berenang dan jogging (jalan) pagi setiap hari. ►mti/sh-crs-ar